Rabu, 24 Januari 2018

Tradisi Haul, Wujud Penghormatan terhadap Leluhur

Kudus, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Selama bulan Muharram, banyak masyarakat mengadakan peringatan haul makam leluhur, seperti para wali, pendiri desa/kota, atau lainnya. Mereka mengemas acara dengan berbagai bentuk, dari tahtimul Quran, tahlilan, hingga ganti luwur (penutup makam) dan pengajian umum.

Tradisi Haul, Wujud Penghormatan terhadap Leluhur (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Haul, Wujud Penghormatan terhadap Leluhur (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Haul, Wujud Penghormatan terhadap Leluhur

Di Kudus, kegiatan haul tradisi buka luwur makam para wali atau ulama besar sudah menjadi kebiasaan yang turun-temurun. Sejak awal Muharram, buka luwur makam Sunan Kudus diadakan selama sepekan mulai 1-10 Muharram. Kemudian berlanjut pada haul santrinya Sunan Kedu di Desa Gribig (13 muharram), dan buka luwur Sunan Muria setiap 15 Muharram sebagai puncak acaranya.

Di sejumlah desa, masyarakat hampir secara? berurutan waktunya juga memperingati? haul. Terakhir, tepatnya Sabtu-Ahad (22-23/11) ini, warga desa Padurenan Gebog Kudus memperingati haul ulama asal Madura, Raden Muhammad Syarif, di Kompleks Makam dan Masjid Asy-syarief desa setempat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

?

Menurut pengurus Syuriah PCNU Kudus KH Ahmad Asnawi, tradisi haul para wali atau ulama besar merupakan wujud rasa menghormati dan mencintai para leluhur. Dikatakan, ulama yang peringati haul ini diyakini memiliki peran penting terhadap tumbuh kembangnya ajaran Islam di masing-masing tempat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Sudah sewajarnya, masyarakat menghormatinya karena waliyullah berdakwah agama Islam yang dibawa dari pendahulunya, termasuk ajaran Rasulullah guna mencerahkan semua umat," katanya di depan jamaah Masjid Asysyarif Padurenan Gebog Kudus, Jumat (21/11).

KH. Ahmad Asnawi mengajak masyarakat melanjutkan estafet perjuangan para wali atau ulama pendahulu seraya menjaga warisannya seperti pendidikan, madrasah, ajaran ilmunya ataupun amalannya.

"Sikap menjaga warisannya inilah yang sebetulnya menjadi hakekat cinta (haqiqatul mahabbah) yang sebenarnya kepada para wali, ulama dan leluhur. Ini harus kita uri-uri (lestarikan) dan lestarikan dalam bentuk tradisi haul," tandasnya.

?

Pernyataan senada juga disampaikan Sekretaris PCNU Kudus Agus Hari Ageng. Menurutnya, di samping harus dijaga sebagai budaya, haul memiliki nilai-nilai budi luhur terkait ajaran? wali. ?

?

"Karena haul atau buka luwur jangan hanya dimaknai sebatas tradisi ritual belaka. Tetapi terkandung makna meneladanitokoh atau wali? Allah," terangnya kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi.

Ia mengharapkan tradisi ini harus dilestarikan sebagai upaya mengingatkan ajaran atau amalam dari sosok? yang penuh budi pekerti. Dengan demikian, tidak kehilangan jati dirinya dalam mengaktualisasikan nilai-nilai agama. (Qomarul Adib/Mahbib)

?



Foto: Suasana? acara khatmil Quran sebagai rangkaian peringatan haul Raden Muhammad Syarief desa Padurenan Gebog Kudus, Sabtu (22/11).

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Warta, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pesantren Al-Badriyyah Mranggen Selenggarakan Haflah Ke-41

Demak, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Pondok Pesantren al-Badriyyah Mranggen Demak kembali menyelenggarakan haflah at Tasyakkur Khotmil Al-Quran ke 41 pada Sabtu (13/5) di halaman pesantren. Acara ini merupakan agenda rutin setahun sekali yang dilaksanakan sebagai bentuk syukur atas prestasi santri dalam mengaji dan menghafal ? al-Qur’an.

Pesantren Al-Badriyyah Mranggen Selenggarakan Haflah Ke-41 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Badriyyah Mranggen Selenggarakan Haflah Ke-41 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Badriyyah Mranggen Selenggarakan Haflah Ke-41

Sebagaimana diketahui, Khotmil Qur’an merupakan salah satu tradisi pesantren yang telah berlangsung berabad lama. Khotmil Qur’an di pesantren termasuk salah satu ritual sakral, sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan para santri dalam mengkhatamkan al-Qur’an. Demikian, di pesantren tidak hanya menekankan pada kualitas membaca dan tajwidnya, melainkan juga pada silsilah sanad. Sehingga transmisi pembelajaran Al-Qur’an yang dilaksanakan oleh Pesantren al-Badriyyah Mranggen tidak abal-abal, tetapi sanad gurunya jelas.

Pengasuh Pesantren al-Badriyyah Mranggen, KH Muhibbin Muhsin al-Hafidz dan Nyai Hj Nadhiroh, al-Hafidzoh merupakan ulama kharismatik yang sangat istiqomah menjaga hafalan Al-Qur’an para santri. Melalui bimbingannya, sudah ratusan alumni yang berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz dan mendirikan pesantren berbasis Tahfidz Al-Qur’an di berbagai daerah.

Pada Khotmil Qur’an ke-41 kali ini, jumlah khotimin-khotimat sebanyak 289 santri, dengan rincian; khotimat bil hifdhi 30 juz 7 santri; khotimat Binnadzri 91 santri; khotimat bil hifdzi juz ‘amma 100 santri; khotimin bil hifdhi 30 juz 2 santri; khotimin bin nadzri 45 santri dan khotimin bil hifdhi juz ‘amma 44 santri. Pengasuh berharap agar para santri terutama kepada santri yang telah hafal Al-Quran 30 juz ? tetap berusaha menjaganya dengan istiqomah.

Prosesi khotmil Qur’an dimulai tepat pukul 18.30 WIB. Tampak hadir para kiai dan masyayikh serta ibu nyai, di antaranya KH Ulin Nuha Arwani. AH, KH Ulil Albab Arwani, AH (Kudus), KH Muhammad Hanif Muslih, Lc, KH Ishaq Ahmad, Hj Ishmah Ulin Nuha, Hj Zuhairoh Ulil Albab, Hj Mutammimah Harir, Hj Jamilah Hamid, dan lain-lain.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam tausiyah yang disampaikan oleh KH Ulin Nuha Arwani, para santri diharapkan bersyukur kepada Allah SWT karena telah diberi nikmat mengkhatamkan Al-Qur’an, apalagi sampai ada santri yang dapat mengkhatamkan Al-Qur’an 30 juz bil hifdzi.

“Cara bersyukur yakni tetap membacanya dengan rutin dan istiqomah dengan terus mengkaji, menghayati, dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.

Ketua panitia penyelenggara, H Muhammad Hamam Muhibbin, mengatakan bahwa selain sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan santri Pesantren Al-Badriyyah dalam mengikuti pembelajaran mengkaji Al-Qur’an, kegiatan khotmil Qur’an ini merupakan wadah syiar tentang perlunya pembelajaran Al-Qur’an dan harus ditangani dengan serius.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Alhamdulillah, semoga mengaji Al-Qur’an di pesantren ini, bisa bermanfaat baik untuk para santri, keluarga dan masyarakat. Lebih dari itu, amat diutamakan agar ajaran-ajaran Al-Qur’an bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Seusai prosesi wisuda para khotimin-khotimat, puncak acara Khotmil Qur’an ini dilanjutkan pengajian akbar oleh KH Mu’in Abdurrohim dari Banjar Jawa Barat dan KH Mahyan Ahmad dari Grobogan Jawa Tengah. Pengajian berlangsung meriah nan khidmat. Tidak kurang dari 2000-an jamaah memadati halaman Pesantren al-Badriyyah, baik para wali santri, alumni, dan masyarakat sekitar.

Dalam mauidhoh hasanah-nya, KH Mu’in Abdurrohim mengisahkan kembali kehidupan orang tua Imam Syafi’i yang sarat makna hikmah yang patut diteladani oleh masyarakat sekarang ini.

“Dari pasangan suami-istri yang terjaga dari dosa dan maksiat, haram dan kemungkaran ini, kemudian lahir seorang anak shaleh teladan, yang bahkan dalam umur enam tahun telah hafal Al-Qur’an. Dialah Muhammad bin Idris Assyafi’i yang tak lain adalah Imam Syafi’i. Itulah buah kesabaran dari ayah seorang ulama besar sepanjang masa ini. Sang ayah begitu sabar dalam menahan dan menghindari makanan yang haram, juga ibu yang selalu menjaga kesuciannya.” jelasnya

Lebih lanjut ia menjelaskan tentang peranan santri dan ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Menurutnya santri merupakan bagian dari entitas umat Islam Nusantara, boleh dikata santri merupakan wakil umat Islam dalam proses kemerdekaan kala itu yang patuh pada petuah ulama yang penuh nilai-nilai qur’ani.

“Saat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, para santri dan kiai pesantren memahami dan menerapkan betul kalimat hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Sehingga apapun akan mereka lakukan untuk mempertahankan kemerdekaan tersebut. Meski harus mengkorbankan nyawa sekalipun.” imbuhnya.

Sementara, KH Mahyan Ahmad mengingatkan kembali kepada orang tua akan peranan pentingnya untuk membekali anak-anak ? mereka sejak dini dengan ilmu agama. Dengan demikian keimanan yang tertanam pada diri sang anak bisa membentengi diri mereka dari pengaruh negatif. Pendidikan, terutama pendidikan akhlak adalah kunci ? dan bekal utama dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Pendidikan bagi anak sangat penting karena mereka adalah generasi penerus bangsa.

“Maka kepada orang tua, jangan ragu memondokkan putra-putrinya di pesantren. Karena hal itu juga merupakan investasi masa depan orang tua. Karena setelah orang tua ? meninggal dunia, putra-putrinya akan fasih mengirim doa dan bacaan tahlil kepadnya,” tuturnya dengan gaya humoris dan mengundang gelak tawa.

Kepada para santri ia berpesan agar selalu berbakti dan berbuat baik kepada orang tua karena salah satu dari tiga hal yang disabdakan Nabi Muhammad SAW yang membuat hidup tidak manfaat dan tidak berkah serta selalu mengalami berbagai macam kesulitan adalah durhaka kepada kedua orangtua, memutus tali silaturahmi dan tak mau membayar zakat/sedekah. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

LTNNU Terbitkan Buku Mengapa Harus NU?

Boyolali, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Untuk melengkapi referensi bacaan tentang ke-NUan bagi warga NU, Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Boyolali menerbitkan beberapa buku. Di antara buku yang sudah diterbitkan berjudul Mengapa Harus NU?.

LTNNU Terbitkan Buku Mengapa Harus NU? (Sumber Gambar : Nu Online)
LTNNU Terbitkan Buku Mengapa Harus NU? (Sumber Gambar : Nu Online)

LTNNU Terbitkan Buku Mengapa Harus NU?

Saat ditemui Pondok Pesantren An-Nur Slawi di sela acara bedah buku "Mengapa Harus NU?", Jumat (21/3) lalu di Teras, Ketua LTNNU Boyolali Darsim Ermaya Imam Fajarudin menerangkan, buku ini berisi banyak hal mendasar tentang ke-NUan.

“Dimulai dari apa itu NU? Bagaimana sejarah berdirinya? Apa saja kontribusi NU terhadap agama, bangsa, dan negara?” kata pria yang akrab disapa Imam.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Imam, dengan mengetahui hal-hal tersebut warga NU diharapkan semakin memahami bahwa NU itu luar biasa. “Dari sini mereka akan menyadari Mengapa Harus NU?, bukan yang lain,” ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Buku Mengapa Harus NU ini disusun tim penulis dari NU Boyolali. Mereka adalah Katib Syuriyah PCNU Boyolali Kiai Joko Parwoto, Ketua LTNNU Boyolali Imam Fajarudin, Makmun Nuryanto, dan seorang pengurus cabang NU Boyolali KH Ahmad Charir.

Imam menambahkan, buku setebal 300 halaman ini dapat dipesan langsung ke pengurus LTNNU Boyolali. Hasil dari penjualan buku ini akan dimasukkan ke kas PCNU Boyolali. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah, Anti Hoax, Sunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kang Said: Melindungi TKI, Menjaga Martabat dan Harga Diri Indonesia

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam keras tindakan penganiayaan majikan terhadap TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Arab Saudi. Dua kasus terakhir adalah penganiayaan yang menimpa Sumiati dan meninggalnya Kikim Komalasari.



Kang Said: Melindungi TKI, Menjaga Martabat dan Harga Diri Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Melindungi TKI, Menjaga Martabat dan Harga Diri Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Melindungi TKI, Menjaga Martabat dan Harga Diri Indonesia

“Saya minta Menakertrans segera menyelesaikan masalah ini. Pelakunya harus dituntut secara hukum,” tegas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi Jumat, 19 November.

Kejadian yang menimpa Sumiati, TKI asal Dompu, Nusa Tenggara Barat dan Kikim Komalasari TKI asal Cianjurm Jawa Barat harus bisa menjadi pelajaran berharga. Kasus penganiayaan majikan terhadap TKI di Arab Saudi memang kerap terjadi. Namun penyelesaian kasusnya seringkali tidak tuntas karena persoalan hukum.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Menakertrans seharusnya bisa mengambil langkah-langkah antisipatif agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” ujar Kang Said.

TKI hingga saat ini masih menjadi penyumbang devisa terbesar untuk Indonesia. Namun jaminan keselamatannya masih terkesan diabaikan oleh Pemerintah. “Khususnya di Timur Tengah kasus semacam ini memang sering terjadi. Di era globalisasi semacam ini, perilaku semacam itu jelas-jelas melanggar HAM,” tegas Kang Said.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kang Said berharap Pemerintah harus segera mengambil langkah cepat dan tegas dalam menangani masalah ini. “Hal ini mutlak perlu dilakukan untuk menjaga martabat dan harga diri bangsa,” pungkasnya. (bil)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, Makam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Yayasan Mahyal Ulum Al-Aziziyah Aceh Luncurkan STISNU Berbasis Pesantren

Aceh, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pimpinan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Mahyal Ulum Al-Aziziyah Tgk H H Faisal Ali secara simbolis meresmikan perdana perkuliahan berbasis pesantren Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nadhlatul Ulama (STISNU) Aceh yang beralamat di Sibreh Suka Makmur, Aceh Besar, Senin (5/10). STISNU merupakan satu-satunya sekolah tinggi di Aceh Besar yang mewajibkan mahasiswanya mondok di pesantren.

“Hal ini bertujuan menyinkronisasi antara pendidikan kampus dan pendidikan dayah di mana mahasiswa selain mendapatkan ilmu di kampus juga dibekali ilmu agama di dayah,” kata Lem Faisal.

Yayasan Mahyal Ulum Al-Aziziyah Aceh Luncurkan STISNU Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Yayasan Mahyal Ulum Al-Aziziyah Aceh Luncurkan STISNU Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Yayasan Mahyal Ulum Al-Aziziyah Aceh Luncurkan STISNU Berbasis Pesantren

STISNU, menurut Lem Faisal, memiliki nilai tambah dibanding sekolah sekolah tinggi lainnya. Di antaranya, dengan perpaduan metodologi sains dan pengajian salafiyah yang diharapkan mahasiswa mampu memahami kitab kuning di samping kompetensi akademik lainnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Semoga dengan diresmikannya STISNU ini, ke depannya mampu melahirkan lulusan mahasiswa yang bermutu dan berkompeten," kata Lem Faisal.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua STISNU Aceh Tgk H Muhammad Hatta mengatakan, kampus ini nantinya diharapkan mampu mencetak kader-kader hafiz.

? "Kita ingin memperkenalkan bahwa perguruan tinggi harus memiliki landasan-landasan yang paling kokoh, yaitu landasan ahlussunnah wal jamaah," katanya.

Ia berharap generasi Aceh ke depan melalui STISNU ini menjadi generasi yang memiliki kualitas intelektual dan juga memiliki basis kedaerahan.

"Ini merupakan sebuah gagasan untuk menghindari pemahaman yang selama ini kerap jadi perbincangan di Aceh dengan berbagai berbagai persoalan, dan juga melahirkan kader-kader ulama yang berintelektual yang akan memberikan pemahaman ke masyarakat dan diharapkan mampu tampil di nasional dan interasional," ujarnya.

Untuk tahun pertama, STISNU Aceh sudah membuka dua pilihan jurusan, S1 Hukum Ekonomi Syariah dan Hukum Keluarga berdasarkan surat izin dari Dirjen Pendidikan Tinggi Islam RI.

"Dengan jumlah dosen yang mengajar berjumlah 14 orang yang ahli di bidangnya masing-masing serta dengan jumlah mahasiswa sebanyak 62 mahasiswa untuk kedua prodi tersebut," ujarnya. (Zikirullah Al-Farisi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Halaqoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Para tokoh, baik dari lingkungan NU maupun non-NU, silih berganti mengunjungi rumah duka keluarga H Slamet Effendy Yusuf di perumahan Citra Grand Cibubur, Kamis (3/12).

Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy

Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dan Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi tiba dalam waktu yang hampir bersamaan untuk memberi penghormatan kepada mendiang Slamet Effendy. Mereka bersalaman dan menyapa satu sama lain.

Kiai Said dan jajaran pengurus PBNU lainnya juga memberikan penghormatan dan menyampaikan  pesan terakhir sebelum jenazah diberangkatkan menuju Pesantren Tahfidzul Qur’an di Purwakarta Purwakarta, pesantren yang diasuhnya. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sejumlah menteri juga hadir seperti Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dakhiri, Menteri Agraria dan Tata Ruang Fery Mursidan Baldan, dan Kapolda Metro Jaya Tito Karnavian. 

Hadir pula Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Mantan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Fuad Bawazier, dan lainnya. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam pesan di watsapp, jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka pukul 12 siang, tetapi dimajukan menjadi sekitar 11.30 mengingat permintaan keluarga di Purwokerta agar pemberangkatan jenazah dipercepat sebagaimana dikatakan oleh Isfah Abidah Aziz, wakil sekjen PBNU yang merupakan mantan staffnya di DPR RI. Akibatnya, beberapa pelayat tidak sempat bertemu dengan jenazah, apalagi jalan Alternatif Cibubur yang padat merayap.

Sebelum pulang, Hidayat Nur Wahid sempat menanyakan soal pelaksanaan tahlil. Ketika dijelaskan bahwa tahlil akan diselenggarakan selama tujuh hari di masjid An Nahdlah PBNU, ia berjanji untuk menyempatkan diri untuk hadir.(Mukafi Niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sunnah, Halaqoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mendes PDTT Eko Terjun Langsung Pantau Kebakaran di Kantornya

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo, memantau langsung lokasi kebakaran yang terjadi di lantai tiga Gedung Transmigrasi, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Senin (28/8) pagi. Menteri Eko menerbangkan drone atau pesawat kamera tanpa awak dan masuk langsung ke lokasi.

Mendes PDTT Eko Terjun Langsung Pantau Kebakaran di Kantornya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes PDTT Eko Terjun Langsung Pantau Kebakaran di Kantornya (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes PDTT Eko Terjun Langsung Pantau Kebakaran di Kantornya

Menteri Eko mulai menerbangkan drone sekitar pukul 10 saat asap mulai berkurang. Drone tersebut diterbangkan tepat di depan jendela ruangan yang terbakar, yakni di lantai tiga. Setelahnya, ia juga memantau kondisi lantai empat Gedung Transmigrasi yang terkena dampak kebakaran.

Setelah menerbangkan drone, Menteri Eko juga langsung mendatangi lokasi kebakaran. Dipandu sejumlah petugas pemadam kebakaran Suku Dinas Jakarta Selatan, Menteri Eko masuk ke dalam ruangan menggunakan alat pengaman pernafasan atau breathing apparatus. Sekitar 30 menit dirinya mengecek lokasi tersebut.

"Yang saya lihat tidak ada berkas yang terbakar. Penanganannya tadi cepat. Saya tidak ingin mengambil kesimpulan apa penyebab utamanya," ungkapnya saat dirinya kembali turun. 

Menteri Eko akan mengevaluasi perawatan gedung perkantorannya. Dirinya pun meminta pihak kepolisian untuk segera mengusut peristiwa yang terjadi di kantornya. Selain itu, Menteri Eko juga mengapresiasi kecepatan petugas Damkar yang mengendalikan keadaan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saya berterima kasih kepada petugas Damkar yang dengan cepat melokalisir kebakaran sehingga api tidak cepat merembet ke ruangan dan gedung lainnya. Saya juga minta polisi segera turun untuk mengusut peristiwa ini," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Kerjasama, Fajar Tri Suprapto, menjelaskan, asap mulai mengepul sejak pukul 9 pagi tadi. Dengan sigap, petugas keamanan kementerian langsung mengevakuasi karyawan ke tempat yang lebih aman.

"Awal mula berasal dari lantai tiga, kemudian naik ke lantai empat. Berawal dari panel listrik dan AC," ujar Fajar.

Lokasi yang terbakar, lanjut Fajar, adalah Gedung A, salah satu ruangan di Direktorat Jenderal Penyiapan Kawasan dan Pembangunan Permukiman Transmigrasi (Ditjen PKP2Trans). Untuk sementara kegiatan di Ditjen PKP2Trans dialihkan ke ruangan lain. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saat ini lokasi sudah kembali kondusif. Karyawan lain sudah kembali bekerja. Pembersihan masih terus dilakukan untuk memastikan lokasi yang terbakar dalam kondisi aman sepenuhnya," sambungnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, Tegal, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi