Minggu, 21 Februari 2016

Kunjungi Pesantren, Kak Seto Ingatkan Guru Cara Mendidik Anak

Majalengka, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dengarkan suara anak, pahami keinginannya, dan beri kesempatan anak dalam memberikan pendapat. Jangan sampai guru menjadi sentral ilmu dan tidak memberikan ruang ketidakbebasan berpendapat.

Demikian disampaikan psikolog anak, Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto saat silaturahmi ke guru-guru di Pondok Pesantren al-Mizan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat.

Kunjungi Pesantren, Kak Seto Ingatkan Guru Cara Mendidik Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi Pesantren, Kak Seto Ingatkan Guru Cara Mendidik Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi Pesantren, Kak Seto Ingatkan Guru Cara Mendidik Anak

“Jangan sekali-kali sekolah membunuh karakter siswa karena dengan keotoriteran guru dalam mengajar, akan tetapi beri kesempatan anak-anak mengungkapkan pendapatnya. Guru seharusnya menjadi seorang fasilisator bukan berinsiatif dalam belajar mengajar,” tuturnya, Rabu (4/11).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kak Seto melanjutkan, suasana belajar-mengajar yang menyenangkan juga akan membuat siswa betah di kelas dan guru bisa fokus pada materi dan target pembelajaran. “Banyaknya metode penghafal pada materi belajar akan tetapi siswa tidak memahami pada suatu permasalahan yang dihadapi. Seharusnya guru bisa membuat ruang kelas yang menyenangkan,” jelas mantan ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Ketua Yayasan al-Mizan H.Asep Zaenal Aripin mengatakan, kegiatan ini patut disyukuri karena dengan banyaknya agenda Kak Seto masih bisa menghadiri acara yang sederhana ini.

“Kita masih bisa share dengan beliau banyak pengalaman dalam menghadapi kasus anak,” jelas pria lulusan UIN Yogyakarta ini. (Tata Irawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Irak Hancur Tanpa AS adalah Bohong Besar

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Keberadaan pasukan Amerika Serikat (AS) dan negara sekutunya di Irak dinilai tidak menguntungkan karena tidak mampu menciptakan keamanan dan perdamaian. Campur tangan negara adidaya tersebut justru menambah panjang kerumitan masalah yang dihadapi Irak, terutama pertikaian antara kelompok Syiah dan Sunni.

“Adalah bohong besar kalau AS keluar dari Irak, maka Irak akan hancur,” ujar Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengutip pernyataan Dubes Irak untuk Indonesia Falih Abdul Kadir Al Hayali usai bertemu dengannya di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (7/3)

Irak Hancur Tanpa AS adalah Bohong Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Irak Hancur Tanpa AS adalah Bohong Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Irak Hancur Tanpa AS adalah Bohong Besar

Menurut Hasyim, sebagaimana diungkapkan Falih Abdul, pertikaian antara kelompok Syiah dan Sunni di negeri 1001 Malam itu merupakan hasil rekayasa AS. Bersama negara-negara sekutunya, AS telah ‘memanfaatkan’ perbedaan-perbedaan paham antarsekte yang ada di Irak menjadi pemicu konflik.

“Kata Dubes (Falih Abdul Kadir Al Hayali-Red), memang ada perbedaan antara Syiah dan Sunni. Tapi perbedaan itu kemudian ‘diproses’ sehingga menjadi perang dan permusuhan. Yang memroses itu tentu Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya,” terang Hasyim yang juga Presiden World Conference on Religion for Peace.

Pertentangan antara Syiah dan Sunni di Irak yang kemudian berbuntut pada kekerasan, menurut Hasyim, baru terjadi belakangan, utamanya setelah AS mengagresi Irak sekaligus menumbangkan kekuasaan Saddam Hussein. Sebelumnya, dua kelompook tersebut hidup berdampingan dan saling menghormati. “Selama berabad-abad, kata Dubes, Sunni dan Syiah hidup damai dan berdampingan,” tandasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Diungkapkan Hasyim, AS yang campur tangan terlalu jauh benar-benar telah merepotkan Irak sendiri untuk membangun kembali negaranya yang hancur akibat perang. Demikian pula dalam upaya pembentukan pemerintahan baru pasca-eksekusi mati Saddam Husein, menurutnya, Irak justru akan lebih nyaman jika tanpa intervensi pihak asing, terutama AS.

“Mereka (bangsa Irak) merasa yakin, pemerintahannya bisa berjalan dengan baik kalau tidak diintervensi oleh AS dan lain-lainnya. Mereka telah merasa direpotin oleh AS,” ungkap Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars itu.

Dalam kesempatan itu, Hasyim mengungkapkan, intervensi AS terhadap Irak pada dasarnya tidak masalah jika hal itu dilakukan dalam upaya peredaan konflik. Namun, katanya, yang terjadi justru sebaliknya. AS justru selalu menciptakan ruang permusuhan di antara kelompok-kelompok Islam.

Demikian pula peran media massa dalam pemberitaan tentang kondisi Irak yang dinilai terlalu berlebihan. Padahal, katanya, kondisinya tidak seheboh yang diberitakan. “Dubesnya bilang sendiri sama saya, kondisi di Irak tidak sehebat yang diberitakan di media massa,” ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sambut Positif Pertemuan Internsional

Sebagai upaya meredakan berbagai konflik antar-aliran di Timur Tengah, Hasyim mengungkapkan gagasan tentang rencana mempertemukan tokoh-tokoh Islam dunia dalam konferensi ulama-ulama besar terbatas Timur Tengah dan Asia Tenggara di Jakarta dalam waktu dekat. “Dubes menyambut positif gagasan itu,” pungkasnya. (rif)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi RMI NU, Humor Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 05 Februari 2016

Manfaatkan Kamus Istilah Keagamaan untuk Hindari Kekeliruan Pahami Agama

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Di Indonesia terdapat enam agama yang diakui oleh negara, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Masing-masing agama tentu memiliki istilah keagamaan yang sifatnya spesifik. Untuk menghindari kesalahan pemaknaan terhadap istilah-istilah keagamaan tersebut Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan LKK) membuat sebuah Kamus Istilah Keagamaan (KIK).

KIK pada dasarnya merupakan sebuah buku besar yang memuat entri pilihan yang disusun secara alfabetik menyangkut aspek keyakinan, hukum, etika, moral, dan sosial kemasyarakatan yang dipraktekkan dalam agama di Indonesia, khususnya Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu.?

Manfaatkan Kamus Istilah Keagamaan untuk Hindari Kekeliruan Pahami Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Manfaatkan Kamus Istilah Keagamaan untuk Hindari Kekeliruan Pahami Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Manfaatkan Kamus Istilah Keagamaan untuk Hindari Kekeliruan Pahami Agama

Dalam laporan yang disusun Puslitbang LKK (2015), penyusunan KIK bertujuan melindungi keyakinan umat beragama dari kekeliruan dalam memahami ajaran agama dan lebih mendorong terwujudnya kerukunan antar umat beragama di Indonesia.?

Puslitbang LKK berharap kehadiran KIK diharapkan dapat, pertama menghindarkan kesalahpahaman atau salah pengertian masyarakat terhadap istilah keagamaan setiap agama. Kedua, memperkuat jalinan persaudaraan dan perekat kerukunan antara umat beragama. Ketiga, mendidik masyarakat untuk menghargai adanya perbedaan dalam hal keyakinan beragama, dan keempat sebagai bahan rujukan dalam penulisan buku, baik buku pelajaran pada lembaga-lembaga pendidikan maupun buku bacaan umum.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Proses penyusunan KIK yang berlangsung selama empat tahun ini, berhasil menyelesaikan sebuah produk yang memuat 9.134 entri meliputi peristilahan dalam agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu dengan berketebalan 623 halaman, yang bisa dimanfaatkan sebagai rujukan akedemik dan umum pemeluk agama di Indonesia. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Cerita, AlaNu, Nasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 27 Januari 2016

Shalat Gerhana Menurut KH Sholeh Darat Assamarani

Masyarakat Indonesia sudah bersiap-siap menanti hadirnya momen spesial pada Rabu Pon, 9 Maret 2016, yaitu gerhana matahari total. Tentunya sebagai umat Islam, hadirnya gerhana itu menjadi tanda kebesaran Allah dan bagi kalangan ahli falak dan astronomi, ini menjadi titik riset yang sangat menarik.

Salah satu hal penting di luar hingar-bingar menanti hadirnya gerhana matahari total ini adalah kembali menilik karya ulama Nusantara asal Jepara dan besar di Semarang dalam menyambut gerhana.

Shalat Gerhana Menurut KH Sholeh Darat Assamarani (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat Gerhana Menurut KH Sholeh Darat Assamarani (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat Gerhana Menurut KH Sholeh Darat Assamarani

Ialah KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (dikenal dengan KH Sholeh Darat) yang turut memberikan penjelasan amalan shalat gerhana. Bab khusus mengenai shalat gerhana ditulis dalam Kitab Majmuatu al Syariah al Kafiyati lil Awam halaman 84-85 Fashlun fi al Kusufaini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

KH Sholeh Darat menegaskan bahwa shalat dua gerhana (bulan dan matahari) hukumnya sunnah muakkad.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Adapun yang diperintahkan untuk mengikuti shalat gerhana adalah laki-laki dan wanita, boleh munfarid (sendiri) atau berjamaah. Dan KH Sholeh Darat menyampaikan bahwa shalat gerhana lebih utama dilakukan dengan berjamaah.

Bacaan dalam shalat gerhana bulan dilakukan dengan jahr (keras) dan jika gerhana matahari dengan pelan-pelan. Jumlah rakaat shalat gerhana paling sedikit dua rakaat salam sebagaimana shalat rawatib.

Adapun tata cara shalat gerhana berbeda dengan shalat pada umumnya. Pada rakaat pertama dibuka dengan niat, doa iftitah, al Fatihah, surat, ruku, berdiri itidal, tidak langsung sujud tapi membaca al-Fatihah, surat, ruku, itidal dan dilanjutkan sujud dua kali.

Pada rakaat kedua juga sama dengan rakaat pertama dengan dua kali al Fatihah, surat, ruku dan itidal disambung sujud dua kali serta tahiyyat akhir dengan ditutup salam.

Dan untuk kesempurnaan shalat gerhana, maka bacaan surat, menurut KH Sholeh Darat memakai yang panjang. Setelah itu juga rukunya dibuat panjang sekira sama dengan bacaan 200 ayat.

Bacaan berdiri itidal dijelaskan oleh KH? Sholeh Darat dengan mengucapkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Perbedaan waktu ruku pada rakaat pertama dan rakaat kedua oleh KH Sholeh Darat dibuat berbeda. Pada rakaat pertama dua kali ruku diharapkan sama dengan membaca 200 ayat (pertama) dan 150 ayat (kedua).

Adapun ruku yang rakaat kedua bacaan ruku dibuat panjang sekira sama dengan bacaan 100 ayat (pertama) dan 50 ayat (kedua).

Dalam menjalankan sujud selama shalat gerhana juga diharapkan dengan sujud yang panjang/lama.

Ketika shalat dilaksanakan secara berjamaah, maka dilaksanakan khutbah dua kali setelah shalat gerhana. Adapun materi khutbah yang disarankan KH Sholeh Darat kepada khatib adalah dengan menyampaikan taubat dan shadaqah.

Demikian sepintas mengenai isi kitab karya KH? Sholeh Darat yang membahas mengenai shalat gerhana. Wallahu alam.



(M Rikza Chamami,? dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, pernah aktif di organisasi pelajar NU sampi ke tingkat pusat, yaitu menjadi Pjs Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Doa, Jadwal Kajian Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 21 Januari 2016

Ini Tantangan Mempromosikan Islam Nusantara menurut Pakar Radikalisme Eropa

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Islam Nusantara yang menjadi tema besar kegiatan International Summit of The moderate Islamic Leaders menarik perhatian para ulama, narasumber internasional, dan pemimpin dunia Islam yang hadir dalam forum yang digelar Senin-Rabu (9-11/5) di JCC Senayan Jakarta. Salah satunya oleh Dr Nico Prucha, salah satu narasumber forum.?

Ini Tantangan Mempromosikan Islam Nusantara menurut Pakar Radikalisme Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Tantangan Mempromosikan Islam Nusantara menurut Pakar Radikalisme Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Tantangan Mempromosikan Islam Nusantara menurut Pakar Radikalisme Eropa

Dosen muda Universitas Wina Austria tersebut berpendapat bahwa Islam Nusantara adalah prinsip yang mengedepankan pluralitas. Ia memiliki anggapan bahwa untuk mempromosikan Islam Nusantara ke penjuru dunia itu susah-susah gampang. Mudahnya adalah karena Barat membutuhkan pemahaman yang berbeda tentang Islam, dan itulah yang akan menyadarkan mereka bahwa ISIS hanya sebagian kecil saja daripada Islam.

Adapun sulitnya, lanjut Pakar Radikalisme dari Department of War Studies ICSR (The International Center of The Study Radicalisation and Political Violence) yang berbasis di London itu, adalah karena Barat kurang percaya dan bertindak rasis terhadap Islam. Oleh karenanya, pria yang fasih berbahasa Arab tersebut melihat bahwa itulah tantangan-tantangan yang harus NU hadapi untuk mempromosikan dan menyebarkan Islam yang moderat, Islam Nusantara.

Menurutnya, strategi untuk mempromosikan Islam Nusantara adalah dengan mengakui bahwa Islam memiliki masalah sebagaimana fenomena ISIS yang mencuplik dalil-dalil dari Al-Quran, Hadis, dan Fiqih sebagai dasar pergerakan mereka.?

“Dan juga lebih aktif lagi menyuarakan tentang Islam Nusantara kepada dunia,” tutur Nico.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia mencontohkan bahwa praktik-praktik toleransi dan pluralisme yang terjadi di Indonesia seharusnya menjadi pelajaran bagi Barat bahwa Islam itu adalah agama yang cinta damai dan bisa hidup harmonis meski dalam perbedaan. ?

“Muslim Indonesia yang rela untuk menjaga Borobudur dan memahami umat Budddha. Ini lah seharusnya yang menjadi rujukan orang-orang kita, pemerintahan-pemerintaham kita,” harap Nico.

Ia menilai bahwa untuk mengahalau gerakan-gerakan ekstrimisme tidak lah cukup dengan menggunakan kekuatan, harus ada pendekatan budaya, pendidikan, dan praktik-praktik toleransi yang terus digulirkan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Menghadapi ISIS tidak cukup dengan kekuatan senjata berat saja,” tandasnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 02 Januari 2016

Pesantren: Ruh Pendidikan Sepanjang Hayat

Oleh Fathoni Ahmad

Matahari tidak pernah berhenti menyinari alam semesta meskipun mendung. Jika pun alam bergerak menggelap, itu hanya tertutup mendung dan awan. Namun pada hakikatnya, matahari tetap bersinar. Semangat ini tidak pernah pudar bagi Pendidikan Islam untuk selalu menyinari dunia dengan mencetak manusia berakhlak mulia nan cerdas dari generasi ke generasi.

Pesantren: Ruh Pendidikan Sepanjang Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren: Ruh Pendidikan Sepanjang Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren: Ruh Pendidikan Sepanjang Hayat

Pendidikan Islam berupaya mengangkat perjuangan para santri dan siswa madrasah untuk selalu memumpuk mimpi agar terus bersinar meskipun berbagai hambatan kerap kali datang. Ini membuktikan, selain memiliki kecerdasan akal dan nurani, generasi pendidikan Islam juga mempunyai mental kokoh untuk bergelut dengan perubahan zaman yang makin tak terbendung kemajuannya.

Potensi yang ada pada diri setiap santri dan siswa madrasah harus mampu menyinari diri di setiap usaha yang dibangun sehingga mimpi dapat mudah terwujud. Dalam hal ini, filosofi matahari yang tak pernah berhenti bersinar harus menjadi palu godam ampuh bagi generasi pendidikan Islam untuk meraih mimpi dan cita-cita setinggi langit demi mengabdi pada negeri.

Historisitas bangsa Indonesia tidak terlepas dari jasa menawan para generasi pendidikan Islam, terutama pesantren. Karena lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia ini terbukti mampu mencetak tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, sebut saja Pangeran Diponegoro, RA Kartini, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Abdul Wahid Hasyim, HOS Tjokroaminoto, Buya Hamka hingga tokoh fenomenal KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tokoh-tokoh tersebut tidak hanya para pemikir, tetapi juga penggerak perubahan di tengah masyarakat. Pandangan mereka mampu menembus batas tebalnya zaman yang kerap tidak pernah terpikirkan oleh orang pada umumnya. Di titik inilah membumikan mimpi mempunyai peran penting untuk mengikuti jejak para founding fathers dalam menuntun zaman ke arah yang lebih harmonis sekaligus humanis.

Para tokoh pendidikan Islam tidak hanya menginspirasi perjuangan para anak bangsa untuk meraih mimpi, tetapi juga menunjukkan bahwa pemerintah turut memiliki peran besar melalui berbagai layanan pendidikan dalam bentuk beasiswa yang dapat diakses oleh anak-anak negeri hingga meraih pendidikan setinggi-tingginya. Fasilitas pemerintah ini membutuhkan kerja keras dan cerdas dari para generasi muda untuk bisa mengaksesnya.

Cukuplah para pejuang dan generasi emas yang lahir dari pendidikan Islam dapat membumikan mimpi anak bangsa. Modal berharga yang amat dibutuhkan untuk membumikan mimpi tidaklah mudah, namun juga tidak sulit. Karena semangat dan kemauan yang tinggi untuk maju sangat diperlukan oleh generasi muda dalam rangka menyinari potensi menjadi kebanggaan negeri.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pesantren: life long education? . Pola pendidikan pesantren tidak terbatas waktu, karena ia memahami sekaligus menerapkan prinsip thuluz zaman (berkelanjutan). Dalam teori pendidikan modern, konsep ini dikenal dengan pendidikan sepanjang hayat (life long education). Konsep ini mempunyai makna bahwa pendidikan tidak sebatas yang ada di kelas, memahami materi pelajaran, dan mampu melahap soal-soal ujian.?

Namun, pendidikan sepanjang hayat membuat anak didik tidak pernah berhenti belajar di mana pun ia berada dan kapan pun dia melihat peristiwa sebagai dasar pembangun rasionalitas-ilmiahnya. Anak didik mungkin dengan gampang memahami bahwa satu ditambah satu sama dengan dua. Tetapi, apakah mereka mengerti makna dari perhitungan ilmiah tersebut? Bagaimana guru atau pendidik agar fakta ilmiah tersebut bermakna (meaningful) bagi peserta didik?

Di titik itulah rasionalitas ilmiah harus dibangun dengan moral kokoh melalui pendidikan bermakna. Mereka harus dipahamkan bahwa dua merupakan hasil dari penjumlahan satu ditambah satu, tidak kurang atau pun lebih. Artinya, generasi bangsa perlu dididik kejujuran sehingga tidak mudah terpengaruh perilaku korup yang sering menambah atau mengurangi jumlah. Tentu ini karakter sederhana yang perlu terus menerus dievaluasi kepada anak didik, meskipun pada praktiknya banyak pendidik yang menemukan kesusahan.

Lalu, apa korelasinya dengan prinsip thuluz zaman-nya pesantren? Penulis ingin menyampaikan bahwa pendidikan pesantren tidak sebatas memahami kitab dan berbagai literatur klasik, tetapi juga mampu memberi makna dan mempraktikannya di tengah kehidupan masyarakat yang plural. Dalam hal ini, pesantren sering kali disebut sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang mampu mendidik santri akan keberagaman bangsanya sehingga muncul sikap toleransi tinggi dan nasionalisme yang kokoh.

Pesantren juga tidak memposisikan dirinya sebagai lembaga pendidikan menara gading, artinya tertutup bagi masyarakat dan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan mereka. Pesantren membangun koloni dengan tradisi dan budaya masyarakat, tidak soliter sehingga lulusan pesantren tidak akan mudah tercerabut dari akar sosial masyarakatnya. Karakter ini diperlukan dalam dunia pembangunan karena sudah barang tentu lulusan pesantren akan dengan mudah membangun masyarakatnya sebab memiliki ikatan sosial yang kuat.

Itu bukti bahwa pendidikan pesantren mampu menciptakan generasi pembelajar sepanjang hayat sebagai buah dari konsep thuluz zaman. Belajar dari pesantren, dunia pendidikan Indonesia hendaknya tidak lepas dari akar tradisi dan budaya masyarakatnya. ? Ini penting untuk mewujudkan generasi yang mampu memberikan solusi konkret terhadap setiap persoalan yang melilit masyarakat. Tidak dengan konsep dan teori yang terlalu mengawang-awang. Apalagi dengan ceramah kosong yang hanya berisi hujatan dan larangan terhadap tradisi dan budaya yang jelas-jelas menciptakan harmoni di tengah kehidupan masyarakat.

Pesantren dan pendidikan Islam pada umumnya memandang bahwa sasaran ilmu agama tidak lain adalah masyarakat sehingga pemahaman agama harusnya tidak bersifat tertutup (eksklusif) melainkan harus terbuka atau inklusif terhadap segala yang berkembang di tengah masyarakat. Eksklusivisme hanya akan membuat agama Islam sebagai rahmat dengan mudah akan tertolak oleh masyarakat. Sehingga alih-alih membuat masyarakat sadar akan limpahan rahmat Tuhannya, yang terjadi justru bersikap apatis terhadap agamanya. Ini poin penting agar lembaga pendidikan sebagai pencetak generasi masa depan agar tidak menjauhkan diri dari akar sosial masyarakatnya.***

Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Habib, Pesantren, Nasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 01 Januari 2016

Arifin Ilham Pimpin Dzikir Akbar di Probolinggo

Probolinggo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pemerintah Kabupaten Probolinggo, Senin (26/8) menggelar halal bihalal dan dzikir akbar bersama Ustadz Moh. Arifin Ilham selaku Pimpinan Majelis Adz-Dzikro, Jakarta Pusat. Kegiatan dipusatkan di Alun-alun Kota Kraksaan.

Acara ini digelar dengan tujuan untuk melanggengkan tradisi halal bihalal Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo dengan seluruh elemen masyarakat Kabupaten Probolinggo yang biasanya dilakukan berkeliling ke 24 kecamatan. Halal bihalal dan dzikir akbar ini diawali dengan pembacaan kitab suci Alqur’an.

Arifin Ilham Pimpin Dzikir Akbar di Probolinggo (Sumber Gambar : Nu Online)
Arifin Ilham Pimpin Dzikir Akbar di Probolinggo (Sumber Gambar : Nu Online)

Arifin Ilham Pimpin Dzikir Akbar di Probolinggo

Halal bihalal dan dzikir akbar yang diikuti oleh ribuan jama’ah ini dihadiri oleh Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana, SE didampingi suaminya selaku Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si, Wakil Bupati Drs. H.A. Timbul Prihanjoko, jajaran Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), Sekretaris Daerah H. Moch. Nawi serta Kepala SKPD dan Camat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Probolinggo.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tampak pula Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH. Moch. Syaiful Hadi, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Kraksaan H. Nasrullah Ahmad Suja’i beserta segenap pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE dalam sambutannya menuturkan bahwa halal bihalal dan dzikir akbar ini baru pertama kali dilakukan. Sebab tahun sebelumnya, Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo yang keliling mendatangi 24 kecamatan melakukan halal bihalal.

“Agar bisa tampil beda, makanya dikemas berbeda. Tidak hanya halal bihalal, namun sekaligus dzikir akbar bersama KH. Moh. Arifin Ilham,” ujar Bupati Tantri di hadapan ratusan jama’ah yang saat itu menggunakan pakaian serba putih.

Dalam kesempatan tersebut Bupati Tantri mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Katanya, sebagai manusia biasa, dirinya tidak akan lepas dari salah dan khilaf dalam berinteraksi dan melaksanakan tugas sebagai pelayan masyarakat.

“Mohon doa pula agar kami dalam melayani masyarakat diberikan kekuatan dan kemampuan sehingga lima tahun ke depan mampu menjadi pelayan masyarakat yang khusnul hotimah menuju Kabupaten Probolinggo yang baldatun toyyibatun warobbun ghofur,” jelas Bupati Tantri.

Sementara Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si dalam sambutan singkatnya meminta untuk terus memelihara budaya yang ada di Indonesia yang tidak bertentangan dengan syariat Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja, red). Yakni budaya halal bihalal. “Mari kita pelihara budaya yang hanya ada di Republik Indonesia ini berupa halal bihalal,” ajaknya singkat.

Sedangkan Ustadz Moh Arifin Ilham diawal ceramahnya mengingatkan bahwa manusia hidup di dunia ini hanyalah sesaat. “Sebentar lagi kita akan menemui ajal. Jangan sia-siakan kesempatan ini, perbanyak berdo’a, ibadah kepada Allah SWT,” katanya.

Lebih lanjut ustadz kondang itu mengajak jama’ah untuk menundukkan kepala dan menengadahkan kedua tangan untuk berdo’a, meminta ampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat selama ini. “Mari kita tundukkan kepala, kita tengadahkan kedua tangan memohon ampunan kepada Allah SWT atas semua dosa yang telah kita perbuat,” ajaknya.

Sejenak kemudian, ribuan jama’ah yang memenuhi halaman tengah Alun-alun Kota Kraksaan terlihat hening, khusyuk sambil mengamini doa-doa yang dipanjatkan oleh Ustadz Ilham Arifin.

Diakhir ceramahnya, ia juga mengajak umat muslim di Kabupaten Probolinggo untuk membiasakan sedekah, biasakan menjaga wudlu’ dan memperbanyak istighfar. “Dengan bersedekah rezeki kita akan mudah,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Humor Islam, Berita, Amalan Pondok Pesantren An-Nur Slawi