Selasa, 08 Agustus 2017

Fungsi, Tujuan dan Hakikat Zakat

Fungsi dan Hakikat Zakat

Yang dimaksud dengan zakat di sini bukanlah zakat fitrah yang berhubungan dengan ibadah puasa Ramdhan. Tetapi zakat kekayaan (zakat mal) yang wajib dibayarkan oleh setiap muslim yang memiliki jenis kekayaan tertentu dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Oleh karena itu pembahasan zakat kekayaan ini tidak harus dibarengkan dengan pembahasan ibadah puasa, karena kewajiban membayar dan menunaikannya tidak selalu pada bulan Ramadhan. Namun demikian tidak ada salahnya bulan Ramadhan ini digunakan sebagai ruang untuk mengingatkan kembali kewajiban zakat atas orang muslim berikut fungsi dan hikmahnya.

Zakat adalah satu dari rukun Islam, selain syahadat, shalat, puasa dan haji. Sebagaimana asal kata rukun dari bahasa Arab ar-ruknu yang bermakna sudut. Rukun atau sudut adalah ruang pertemuan antara satu sisi dengan sisi lainnya, di dalam sudut ini terdapat rangka yang berfungsi sebagai perekat sehingga satu bangunan bisa berdiri dengan kokoh. Demikian lah fungsi rukun Islam yang empat, syahadat, puasa, haji dan zakat. Adapun shalat merupakan satu tonggak kokoh di tengah yang menghubungkan keempat sudut tersebut, yang dalam bahasa jawa disebut juga sebagai soko guru. Inilah yang dimaksud dengan kalimat As-sholatu imaduddin. Bahwa shalat merupakan tiang utamanya agama Islam.

Ibarat sebuah bangunan yang memerlukan empat rangka yang terletak di empat sudut dan satu soko guru, demikian pula keberadaan agama Islam dengan kelima rukun Islamnya, yang mana  zakat berlaku sebagai salah satu sudutnya. Demikianlah pentingnya zakat dalam agama Islam sehingga Allah swt mewajibkannya dalam surat Al-Bayyinah ayat 5:

Fungsi, Tujuan dan Hakikat Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Fungsi, Tujuan dan Hakikat Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Fungsi, Tujuan dan Hakikat Zakat

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Begitu juga yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah saw. sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Abbas ra.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bahwasannya Rasulullah saw. mengutus Muadz ra. ke negeri Yaman maka beliau berpesan “serulah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan aku (Muhammad) adalah utusan Allah. Jika mereka mentaatimu terhadap seruan itu, maka berilah pelajaran mereka, bahwa Allah mewajibkan mereka untuk mengerjakan shalat lima waktu sehari semalam, jika mereka mentaati seruanmu itu maka berilah pelajaran kepada mereka bahwa Allah mewajibkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya dari mereka untuk orang-orng fakir. 

Secara bahasa arti zakat adalah bertambah. Adapun secara syara’ adalah harta tertentu yang diambil untuk diberikan kepada golongan tertentu, yaitu ashnaf tsamaniyah (delapan golongan yang berhak menerima zakat).

Kedelapan golongan tersebut telah diterangkan dalam surat at-Taubah ayat 60:

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

 Adapun keterangan tentang kedelapan golongan itu adalah sebagai berikut.

Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.  Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah. Memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir. Orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya. Pada jalan Allah (sabilillah): yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. Di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain. rang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya. Demikianlah menjadi sangat mafhum jika zakat menjadi salah satu hal tepenting yang menyokong keberadaan agama Islam. Karena zakat menjadi salah satu sistem distribusi ekonomi yang berfungsi meratakan dan menumbuhkan perekonomian umat.

Pada sisi lain zakat merupakan proses penyucian diri dari segala harta yang kotor yang merupakan hak orang lain. Apabila kotoran tersebut tidak segera dikeluarkan, niscaya akan merusak harta kekayaan yang ada. Sehingga kekayaan yang ada menjadi tidak berkah. Inilah salah satu hikmah diwajibkannya zakat  bagi orang muslim.

Oleh karena itu, tidak tepat jika seseorang yang membayar zakat dianggap sebagai dermawan, karena zakat itu merupakan kewajiban. Bahkan dengan posisi demikian zakat lebih pantas dikatakan sebagai batas kekikiran seseorang, artinya seseorang itu telah terlepas dari status kikir bila telah menunaikan zakat, tetapi belum sampai pada taraf dermawan. Karena dia baru membayar apa yang diwajibkan saja.

Adapun syarat wajibnya zakat yang harus dipenuhi oleh mereka yang terkena hukum wajib membayar zakat adalah, 1) orang Islam, 2) orang merdeka, 3) milik sempurna, 4) sampai satu nisab, 5) sampai haul (satu tahun).

Demikian sedikit keterangan untuk mengingatkan kembali kewajiban zakat kepada umat mslim. Keterangan lebih lanjut mengenai tatacara, besaran dan syarat zakat kekayaan dapat dilihat dalam situs www.laziznu.or.id  (Red. Ulil H)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Aswaja, Nusantara Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 07 Agustus 2017

Ribuan Nahdliyin Memeriahkan Pelantikan PWNU Sulsel

Makassar, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ribuan Nahdliyin ikut mengantar prosesi pelantikan PWNU Sulawesi Selatan (Sulsel) masa khidmat 2013-2018 dibawah kepemimpinan KH Muh. Sanusi Baco sebagai rais syuriyah dan Prof Dr Iskandar Idy sebagai ketua tanfidziyah.

Ribuan Nahdliyin Memeriahkan Pelantikan PWNU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Nahdliyin Memeriahkan Pelantikan PWNU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Nahdliyin Memeriahkan Pelantikan PWNU Sulsel

Berbagai usur warga NU hadir, diantaranya Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama se-Sulawesi Selatan, pengurus banom se-Sulawesi Selatan, dan tentunya masyarakat NU pada prosesi pelantikan PWNU Sulsel yang berlangsung meriah di Hotel Sahid Makassar, (6/6/2013).

Sholawat pun menggema di Ballroom hotel, ketika prosesi pelantikan mulai berlangsung. Tampak hadir H Jusuf Kalla, Gubernur Sulawesi Selatan, Sekretaris Jenderal PBNU, Wakil Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan, HM Aksa Mahmud, Andi Djamaro Dulung, Rektor Universitas Islam Makassar, Walikota/Bupati se-Sulawesi Selatan, Kepala Dinas se-Sulawesi Selatan, Rekor UMI, Pangdam Wirabuana, Kapolda Sulselbar, dan masih banyak tokoh-tokoh Sulawesi Selatan lainnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Prosesi pelantikan pun berlangsung khidmat, ketika Sekretaris PWNU Sulsel Prof Dr H Arfin Hamid, MH membacakan naskah Surat Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tentang Pengesahan. Setelah prosesi pelantikan PWNU Sulsel masa khidmat 2013-2018 yang langsung dilantik oleh Sekretaris Jenderal PBNU H Marsudi Syuhudi sudah selesai.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam sambutannya. Marsudi Syuhud menyampaikan pesan untuk mengembalikan NU di pesantren, sehingga PWNU Sulsel kali ini diminta untuk lebih konsentrasi dalam dunia pendidikan dan berharap untuk tetap menjaga kesolidan untuk membangun NU Sulsel yang lebih baik.

Sedangkan dalam sambutan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo mengajak semua pengurus NU Sulsel yang baru dilantik untuk bersama-sama membangun Sulawesi Selatan yang jauh lebih baik dan jangan sungkan untuk menegur apabila dalam kepemimpinannya, jauh dari ulama, khususnya NU Sulawesi Selatan.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor:Andi Muhammad Idris

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nusantara Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Merumuskan Gus Dur Muda

Gagasan dan pemikiran Ketua Umum PBNU 1984-1999 KH Abdurrahman Wahid yang dituangkan dalam bentuk tulisan sejak tahun 1970-an tak habis digali. Pemikirannya masih tetap relevan hingga sekarang. Tak heran, beraragam buku dengan berbagai pendekatan telah terbit. Beragam diskusi dan seminar tak habis-habis digulirkan.

Sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan dan melanjutkan gagasan kiai yang biasa disapa Gus Dur, salah seorang santrinya di Pondok Pesantren Ciganjur Jakarta, Syaiful Arif, merumuskan kegiatan bertajuk “Kursus Pemikiran Gus Dur”. Kursus tersebut menggali detail-detail gagasan Gus Dur.  

Merumuskan Gus Dur Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Merumuskan Gus Dur Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Merumuskan Gus Dur Muda

Dalam kursus tersebut, lebih menekankan gagasan Gus Dur saat muda. Syaiful Arif menyebutnya Gus Dur Muda, yaitu antara 1970 hingga 1999 (ketika Gus Dur jadi Presiden RI keempat). Dalam istilah lain disebut Gus Dur teoritis.  

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk mengetahui lebih jauh tentang kursus pemikiran Gus Dur Abdullah Alawi dari Pondok Pesantren An-Nur Slawi mewawancarai anaka muda kelahiran Kudus, Jawa tengah, 1981. Syaiful Arif termasuk anak muda NU yang cukup produktif dalam menulis buku. Berikut petikan wawancaranya. 

Asal mula muncul ide kursus pemikiran Gus Dur?

Gus Dur kan sudah wafat, kalau tidak diterusin pemikirannya kan sayang. Selama ini kan gerakan-gerakan Gus Durian itu hanya menenmpatkan Gus Dur sebagai pribadi, bukan sebagai pemikiran.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kenapa bisa berkesimpulan seperti itu?

Karena di dalam gerakan gerakan Gus Durian selama ini, penggalian pemikiran itu kayaknya kurang belum maksimal. Menempatkan Gus Dur sebagai pribadi, ya bagus, karena memang Gus Dur pribadi. Artinya, yang kita diskusikan, kita ingat, yang ingin kita teruskan itu kan perjuangannya sebagai pribadi. Tapi kan di dalam pribadi Gus Dur itu, ada Gus Dur praktis, ada Gus Dur teoritis.

Gus Dur praktis itu, Gus Dur di dalam praktik politik dan praktik perjuangannya, baik di PKB, di negara, maupun di NU. Nah, tetapi praktik Gus Dur, praktik perjuangannya dilandasi oleh Gus Dur yang teoritis. Artinya dilandasi oleh pemikiran. Nah, saya lihat selama ini, -ya ini mungkin pembagian wilayah kerja aja ya, teman-teman yang memang masuk di dalam praktik Gus Dur, saya memilih di ruang-ruang teoritisnya. Itu yang pertama. 

Yang kedua, jelas sekali selama ini kan Gus Dur itu pemikir. Kalau tidak kita tidak dijaga pemikirannya melalui diskusi-diskusi yang intens, ya warisan itu akan jadi warisan “berdebu” di dalam buku-bukunya yang mungkin hanya sekilas sekali ditengok dan dibaca. Padahal kan kalau pemikiran terhenti pada teks, dia hanya terhenti pada teks. Bukan menjadi pemikiran. Menjadi pemikiran itu kan ketika diperbincangkan. Dari perbincangan itu bisa kemudian ditindaklanjuti, bisa dikritisi, bisa menjadi inspirasi. Jadi, aku kebetulan pernah nyantri dengan beliau, ya merasa beban moral. Makanya kemudian yang kupilih kan kursus. Kursus ini kan artinya satu langkah menuju, kita bedakan antara diskusi dengan kursus ya. Diskusi kan tidak ada silabus, hanya sekadar berbagi informasi. Tapi kalau kursus itu ada silabus, dan metodenya juga metode klasikal. Artinya di situ tidak hanya ada pembicara, tetapi ada tutor, pengajar. 

Nah, kalau seseorang sudah memastikan diri sudah siap untuk menjadi pengajar atau tutor di dalam kursus itu kan dia punya konsekuensi kan, ya dia harus menguasai betul, detail dari pemikiran Gus Dur karena kan sebelum kursus ini aku menawarkan sama teman-teman Gus Durian ya.

Metode kursus kan mengkelaskan Gus Dur karena selama ini kan pemikiran Gus Dur hanya terserak-serak, bercerai-berai di opini di koran. Kemudian aku memiliah Gus Dur muda dan Gus Dur tua. 

Bagiamana penjelasannya?

Gus Dur muda itu Gus Dur dari tahun 1970 sampai pertengahan 90. Gus Dur tua itu Gus Dur sejak menjadi presiden sampai wafat. Nah, Gus Dur muda, yaitu Gus Dur yang pemikirannya layak menjadi diskursus intelektual karena tulisan-tulisannya tidak hanya dalam bentuk opini di koran, tapi di makalah-makalah panjang. Baik dalam jurnal seperti Prisma, jurnal Pesantren, maupun makalah-makalah seminar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Nah, dengan tulisan-tulisan panjang itu kan kita bisa merumuskan pemikiran Gus Dur sebagai wacana intelektual dan materi-materi akademis. Nah, kursus pemikiran Gus Dur itu masuk di ruang itu. Jadi, menempatkan Gus Dur dalam wacana intelektual dan khususnya materi-materi akademis. 

Kenapa disebut kursus?

Karena kan ya memang sampai saat ini belum ada kurikulum pemikiran Gus Dur. Karena itu aku kemudian merumuskan materi, silabus pemikiran Gus Dur yang aku harapkan sistematis dan menjadi satu langkah menuju yang akademis, atau akademisasi Gus Dur. 

Sementara Gus Dur tua itu kan sejak menjadi presiden sampai lengser, itu kan Gus Dur yang tulisan-tulisannya hanya dipercikkan di koran. Gus Dur yang sudah sepuh itu, ya Gus Dur yang sudah  praktis. Tulisan-tulisan di koran adalah refleksi dari peristiwa-peristiwa aktual atau penggalian kembali memori pemikiran yang masih ada dalam endapan di pemikiran beliau. Selama ini banyak orang menempatkan Gus Dur hanya di dalam Gus Dur di era tua. Mereka tidak masuk di dalam pemikiran Gus Dur di era muda. 

Gus Dur muda? 

Itu terkait materi. Gus Dur muda itu Gus Dur yang terinspirasi dari teologi pembabasan Amerika Latin. Dari situ Gus Dur kemudian mengolah tradisi Islam, khusunya tradisi Islam pesantren dan NU, untuk menghadapi developmentalisme Orde Baru . Gus Dur muda itu kan Gus Dur era Orde Baru. Dalam era Orde Baru itu, Gus Dur yang masih muda, merumuskan tradisi; mengolah tradisi intelektual Islam tradisional pesantren dan NU dalam wacana-wacana teologi pembebasan untuk menghadapi developmentalisme dan modernisasi. Jadi, kalau developmentalisme itu kan wacana ekonomi politik, kalau modernisasi kan wacana kebudayaan. Nah, Gus Dur mencoba mengolah tradisi-tradisi Islam pesantren dan NU untuk menanggapi modenisasi dan developmentalisme.

Nah, salah satu hasil prodak pemikirannya seperti Islam sebagai etika sosial. Islam sebagai etika sosial itu kan jarang dilihat banyak orang karena selama ini orang melihat pemikiran Islam Gus Dur itu kan hanya dua, pribumisasi Islam dan pluralisme agama. Padahal ketika aku telusuri di dalam teks-teks Gus Dur muda itu ada dua pemikiran lain yang selama ini belum dibaca orang. Yang pertama, Islam sebagai etika sosial dan kedua, negara kesejahteraan Islam.

Bagaimana penjelasannya kedua-duanya? 

Nah, itu kemudian aku jadikan materi ya. Islam sebagai etika sosial. Di kursus itu kan, pemikiran Islam Gus Dur; kalau kita pinjam istilah Marx, ya itu kan basis struktur, ada struktur ada suprastruktur. Ada lantai, ada tiang, ada dinding ada langit-langit, ada atap. Nah, pribumisasi Islam itu, lantai dari pemikiran Gus Dur karena ia mempertemukan Islam dan budaya. Nah, budaya itu kemudian menjadi landasan dari masyarakat dan landasan dari negara. Nah, prbumisasi Islam sebagai basis struktur dari pemikiran Islam Gus Dur itu kemudian menopang struktur pemikiran Islam Gus Dur, yakni Islam sebagai etika sosial. Kenapa? Karena Islam sebagai etika sosial adalah pemikiran Islam Gus Dur yang menempatkan Islam sebagai etika masyarakat; akhlak sosial. Jadi Gus Dur itu selalu memaknai akhlak sebagai etika sosial. Beliau tidak pernah menafsiri di luar konteks itu, umpamanya akhlak adalah pribadi. Itu nggak pernah, beliau. Jadi, akhlak itu pasti dalam kurung etika sosial.

Etika sosial itu bagaiamana?

Etika sosial itu sederhana, Gus Dur mencoba menggali kemudian merumuskkan prinsip-prinsip etis kehiidupan sosial. Prinsip-prinsip etis kehidupan sosial itu sebenarnya letakanya di dalam kewajiban masyarakat untuk menciptakan sturktur masyarakat yang berkeadilan. Struktur masyarakat yang berkeadilan itu merupakan wujud wujud etis masyarakat yang didukung oleh prinsip-prinsip keislaman. Gus Dur menarik dalam hal ini. Beliau punya gagasan tentang rukun sosial. Di Islam itu kan ada rukan Islam ada rukun iman. Rukun iman itu teologis, rukun Islam itu, katakanlah amal ya dari iman. Kata Gus Dur di dalam rukun Islam itu ada dimensi sosial ada zakat, ada haji ada shalat (ketika berjamaah). 

Artinya, amal-amal ritual itu sebenarnya bersifat sosial. Artinya memiliki keberpihakan terhadap pensejahteraan masyarakat. Namun sayangnya, banyak sekali umat Islam yang hanya memahaminya dalam kerangka ritual individual. Akhirnya, rukun sosial itu tidak ada dampak sosialnya. Nah, Gus Dur menggagas kita perlu sebuah rukun sosial, atau rukun tetangga, kata Gus Dur. Rukun sosial itu menjembatani antara rukun Islam dengan rukun iman. Artinya, kita harus menjadikan kepedulian sosial itu sebagai bagian dari rukun Islam dan rukun iman, menjadi bagian dari teologi. 

Jadi, Gus Dur menggagas teologi sosial. Nah, ini Islam sebagai etika sosial. Ini struktur. Struktur sosial dari basis yang ditopang pribumisasi Islam. Kenapa? Karena, tanpa pribumisasi Islam, Islam tidak akan menjadi etika sosial. Kenapa? Karena pribumisasi Islam-lah yang kemudian meleraikan ketegangan antara Islam dan budaya. Nah, ketidakmampuan meleraikan Islam dan budaya akan menyebabakan islamisasi budaya atau purifikasi budaya lokal yang kemudian menjadi trade mark dari gerakan-gerakan Arabis. Nah, gerakan-gerakan Arabis itu, kata Gus Dur, terjebak di dalam perjuangan Islam yang simbolik. Kenapa? Karena tujuan mereka hanya menerapkan simbol-simbol Islam di dalam budaya lokal. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Aswaja, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 06 Agustus 2017

BNN Ajak Warga NU Berantas Penyalahgunaan Narkoba

Banyuwangi, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso menilai problem bangsa Indonesia khususnya dalam hal penyalahgunaan narkoba sudah pada titik mengkhawatirkan. Karenanya ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk NU, untuk bersama-sama memberantas praktik haram ini.

BNN Ajak Warga NU Berantas Penyalahgunaan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
BNN Ajak Warga NU Berantas Penyalahgunaan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

BNN Ajak Warga NU Berantas Penyalahgunaan Narkoba

Mantan Kabareskrim yang akrab disapa Buwas ini menyampaikan, Pemerintah memutuskan bahwa negara sudah dalam status darurat penyalahgunaan narkoba. Angka kematian yang disebabkan narkoba meningkat 130 persen hanya dalam 3 bulan.

“Ini sungguh-sungguh sangat mengkhawatirkan. Kami BNN akan bekerja keras untuk dapat menekan angka negatif ini, tentunya dengan berbagai usaha yang harus didukung penuh oleh masyarakat khususnya warga NU sebagai organisasi Islam dengan massa terbesar di negara ini," ujar Budi dalam halaqoh nasional yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi, Senin (11/1).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Forum halaqah hasil kerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam) ini membahas tentang bahaya narkoba, terorisme, dan radikalisme. Turut hadir Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Saud Usman Nasution, Wakil Gubernur Jatim H Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), Ketua PWNU Jatim KH Hasan Mutawakkil Alalloh, dan Ketua PCNU Banyuwangi H Masykur Ali.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gus Ipul yang juga Ketua PBNU dalam sambutannya mengatakan bahwa narkoba, terorisme, dan radikalisme adalah musuh bangsa bersama, dan ketiganya harus dijadikan skala prioritas dalam hal pemberantasan masalah di negeri ini.

Baginya, acara halaqoh nasional seperti ini merupakan salah satu wujud kepedulian dan kesungguhan pemerintah dalam pencegahan serta pemberantasan narkoba dan terorisme dari tingkat paling bawah yaitu akar rumput yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa. Menurutnya, NU harus berada di garda terdepan dalam mewujudkan tujuan pemerintah yang mulia ini.

Acara ini dihadiri sekitar tiga ribu warga, termasu para pengurus NU di berbagai tingkatan, perwakilan pelajar dari berbagai sekolah di Banyuwangi. (Anang Lukman Afandi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

95 Persen Konten Media Sosial adalah Sampah

Ambon, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?

President of Southeast Asian Press Alliance (SEAPA), Eko Maryadi, mendorong awak media dan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menjadikan content media sosial sebagai bahan pemberitaan.?

95 Persen Konten Media Sosial adalah Sampah (Sumber Gambar : Nu Online)
95 Persen Konten Media Sosial adalah Sampah (Sumber Gambar : Nu Online)

95 Persen Konten Media Sosial adalah Sampah

"Bisa saya katakan 95 persen konten media sosial adalah sampah," kata Eko saat menjadi narasumber dalam Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme di Ambon, Maluku, Kamis (3/11) melalui siaran pers.?

Eko menyebut content media sosial adalah informasi yang belum dapat dikategorikan sebagai berita, sehingga menyebarluaskannya dibutuhkan sebuah kehati-hatian. "Menjadi persoalan karena kebiasaan masyarakat kita begitu menerima broadcast di Whatsapp, menganggapnya menarik dan menyebarluaskan. Padahal itu informasi yang mentah yang belum terverifikasi kebenarannya," tegasnya.?

Khusus kepada awak media, Eko meminta agar verifikasi ketat dilakukan ketika akan menjadikan content media sosial sebagai bahan pemberitaan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Chek dan rechek mutlak dilakukan secara ketat. Jangan karena alasan suka dan percaya yang mengirimkan orang tenar, kita (wartawan) ? langsung memberitakannya," tandas Eko.?

Dalam keterangannya mantan jurnalis di beberapa media asing tersebut juga mengatakan, pelaku terorisme terindikasi sengaja memanfaatkan media sosial untuk menyebarluaskan paham yang diyakininya, karena tidak mampu melakukannya melalui media arus utama.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Juga karena media sosial saat ini paling banyak diakses masyarakat, mengalahkan media massa pers. Nyaris semua masyarakat menggunakan gadget yang di dalamnya ada aplikasi sosial media. Sekali lagi, hati-hati menyikapi dan menyebarluaskan content yang ada di media sosial," jelas Eko. ?

Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme adalah salah satu metode Pelibatan Masyarakat dalam Pencegahan Terorisme yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di 32 provinsi se-Indonesia. Satu metode lainnya adalah Visit Media, kunjungan dan diskusi dengan redaksi media massa pers. (Red: Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 03 Agustus 2017

Ma’arif NU Jombang Sapa Madrasah di Lereng Hutan

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kebanyakan para pegiat dan pengabdi pendidikan yang tulus ada di tingkatan bawah. Dengan keterbatasan yang dimiliki, mereka masih berkenan membina peserta didik dengan penuh keikhlasan. Kiprah seperti ini tidak luput dari perhatian LP Maarif NU Jombang.

Ma’arif NU Jombang Sapa Madrasah di Lereng Hutan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ma’arif NU Jombang Sapa Madrasah di Lereng Hutan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ma’arif NU Jombang Sapa Madrasah di Lereng Hutan

Pengurus LP Maarif NU Jombang memiliki program bulanan yang bernama silaturahmi dan bakti sosial. "Kegiatan ini hasil kerja sama LP Maarif NU bersama kelompok kerja penyuluh kabupaten Jombang," kata Ketua LP Maarif Jombang, KH Salmanuddin, Rabu (27/8) petang.

Untuk bulan ini, lokasi yang dituju adalah MI Maarif NU Raden Patah yang berada di desa Cupak kecamatan Ngusikan. Kegiatan ini diikuti KH Taufiq Abdul Jalil (PCNU Jombang), utusan dari MWC Maarif NU Kudu, Ploso, Ngusikan, serta Kesamben. Juga ikut bergabung 10 penyuluh Kementerian Agama Jombang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Perasaan iba, sedih, haru, dan salut campur aduk saat rombongan menginjakkan kaki di madrasah yang berada di pinggiran hutan ini. Betapa tidak, jumlah peserta didik di madrasah tersebut hanya 23 siswa. "Itu adalah jumlah keseluruhan dari kelas 1 hingga 6," kata Gus Salman, sapaan akrabnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Namun kendati kondisinya cukup memprihatinkan, namun ada secercah kebanggaan dari madrasah ini. "Meskipun berada di kawasan lereng hutan, namun madrasah ini berkenan untuk ikut Badan Hukum Perkumpulan Nahdhatul Ulama atau BHPNU," tandas Pengasuh pesantren Babussalam Kalibening Mojoagung ini.

Benar-benar istimewa dan sangat membanggakan, lanjutnya.

Di hadapan para guru dan murid, rombongan kemudian memberikan penyuluhan tentang arti pendidikan serta pentingnya menjaga kesehatan. "Meskipun berada di kawasan yang kurang mendapat perhatian, tapi kami berharap para guru dan murid di sini tetap semangat mengajar dan menuntut ilmu, serta berupaya menjaga kesehatan diri dan lingkungan," kata Gus Salman.

Usai pemberian materi kesehatan dan motivasi pendidikan, rombongan kemudian memberikan bantuan seragam kepada seluruh siswa. "Kami juga memberikan sejumlah alat olahraga, dan alat shalat kepada dewan guru serta layanan kesehatan," katanya. 

"Apa yang kita lakukan selama ini, rasanya tidak sebanding dengan yang mereka khidmatkan kepada agama, bangsa dan negara, juga NU," tandas alumnus Madrasatul Quran Tebuireng ini. 

Kesadaran untuk bergabung dalam BHPNU menjadi bukti nyata bahwa madrasah ini taat organisasi. "Dan itu ternyata dilakukan dengan penuh kesadaran diri oleh madrasah yang memiliki tenaga pengajar, siswa dan fasilitas yang cukup memprihatinkan," katanya dengan mata berkaca-kaca.

Karena itu, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, LP Maarif akan terus memberikan perhatian kepada madrasah yang memiliki loyalitas tinggi kepada NU.

Gus Salman berharap agar Maarif diberikan kekuatan untuk membantu agar keberadaan madrasah di kawasan terpencil seperti ini bisa mendapatkan perhatian. "Ini bentuk kepedulian kita kepada masa depan dan generasi NU di masa mendatang," pungkasnya. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, News, Tokoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 02 Agustus 2017

Pengobatan Gratis NU Diserbu Warga

Pekalongan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kegiatan pengobatan gratis yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan kerjasama dengan Rabithah Alawiyah Kota Pekalongan mendapat sambutan yang meriah dari masyarakat.

Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati 91 tahun NU menurut kalender Hijriyah berlangsung di sekretariat Cabang Rabithah Alawiyah diikuti tidak kurang dari 402 pasien dengan rincian pengobatan medis 226 pasien, rukyah Aswaja 62 pasien, akupuntur 51 pasien dan bekam 63 pasien.

Pengobatan Gratis NU Diserbu Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengobatan Gratis NU Diserbu Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengobatan Gratis NU Diserbu Warga

Sambutan cukup meriah dari warga terlihat sejak pagi saat pendaftaran dibuka. Pasalnya, di samping empat jenis pengobatan yang disediakan, panitia juga melayani cek gula, kolesterol dan konsutasi kesehatan, sehingga acara yang bertajuk "NU Peduli Kesehatan" mendapat respon yang cukup baik dari masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua PCNU Kota Pekalongan, H. Ahmad Rofiq berharap kegiatan bersama dalam bidang kesehatan antara NU dan Rabithah Alawiyah dapat terus berlanjut pada event event lainnya, sehingga tali silaturrahim ini tidak akan putus di tengah jalan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Jika kemarin PCNU telah memulai dengan menggelar acara halal bi halal bersama dan kali ini di bidang kesehatan, saya berharap pada kesempatan lain juga dijalin dalam bidang ekonomi," ujarnya saat membuka kegiatan pengobatan putaran kedua.

Ditambahkan, ke depan hendaknya dalam kegiatan hlal bi halal juga dapat diadakan kegiatan sosial yang bersentuhan dengan masyaraat di lingkungan kegiatan, sehingga warga tidak hanya jadi penonton saja.

Maftuhin (50) asal Klego, menyambut baik kegiatan pengobatan gratis dilaksanakan NU dengan Rabithah Alawiyah. Dirinya berharap kegiatan seperti ini sesering mungkin diadakan dengan berpindah pindah tempat, khususnya di wilayah pinggiran Kota Pekalongan.

Kegiatan NU Peduli Kesehatan yang dimotori Nahdliyin Center Kota Pekalongan masih akan menggelar kegiatan yang sama di Ranting NU Tegalrejo dan Banyurip Alit dengan melibatkan banyak relawan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan pihak pihak terkait. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hadits, Khutbah, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi