Kamis, 12 Maret 2015

NU Belanda Jadikan Islam Nusantara sebagai Diplomasi Budaya Indonesia

Den Haag, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?

Kedutaan Besar RI di Den Haag menyelenggarakan jamuan makan malam dan gelar kebudayaan bertajuk Nusantara Night. Kegiatan ini diselenggarakan KBRI Den Haag sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan konferensi internasional mengenai Islam moderat di Indonesia yang sukses diselenggarakan dua hari sebelumnya (27/3) di kampus Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda.?

NU Belanda Jadikan Islam Nusantara sebagai Diplomasi Budaya Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Belanda Jadikan Islam Nusantara sebagai Diplomasi Budaya Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Belanda Jadikan Islam Nusantara sebagai Diplomasi Budaya Indonesia

Konferensi bertema “Rethinking Indonesia’s Islam Nusantara: From Local Relevance to Global Significance” ini diselenggarakanh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda dengan dukungan penuh dari KBRI Den Haag serta bekerja sama dengan Kementerian Agama RI, Vrije Universiteit dan sejumlah lembaga lain. Direktur Jendral Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, berkenan membuka konferensi ini dan sekaligus menyampaikan keynote speech.

Dalam sambutannya di konferensi internasional, Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja, menyatakan bahwa tema konferensi ini sangat tepat waktu sebagai konter atas meluasnya pandangan mengenai benturan peradaban (clash of civilization) di antara sebagian pemimpin dunia dan masyarakat Barat dewasa ini.?

“Banyak karakter positif dari Islam Nusantara sangat relevan untuk mewujudkan Islam sebagai agama kemanusiaan dan perdamaian di pentas global,” kata Dubes I Gusti Agung Wesaka Puja.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Beberapa karakter positif Islam Nusantara diilustrasikan secara rinci oleh Dubes RI ini, seperti akomodatif terhadap konteks lokal, respek terhadap keragaman, inovatif dalam dakwah, kepedulian pada pendidikan karakter, pendekatan kebudayaan, dan komitmen pada keadilan.?

“Karakter semacam ini menghasilkan ekspresi Islam yang menekankan moderasi, toleransi, non-kekerasan, keadilan dan perdamaian,” tegas Dubes RI yang pernah berperan penting dalam tercapainya kesepakatan perdamaian RI dengan GAM pada 15 Agustus 2005. ?

Acara Nusantara Night diselenggarakan oleh KBRI Den Haag untuk menegaskan signifikansi Islam Nusantara pada tataran global. Hal ini secara konkret akan ditunjukkan dengan bagaimana Islam Nusantara dapat menjadi salah satu komponen kunci dari diplomasi budaya Indonesia di kancah politik internasional.

Oleh karena itu, selain beberapa pertunjukan seni dan kebudayaan, acara Nusantara Night ini juga akan diisi dengan pidato kebudayaan oleh empat Duta Besar RI mengenai “Diplomasi Budaya Islam Nusantara: Pengalaman dan Refleksi.” Keempat Dubes RI yang akan menyampaikan pidatonya adalah Agus Maftuh Abegebriel (Dubes RI untuk Arab Saudi), Achmad Chozin Chumaidy (Dubes RI untuk Lebanon), Safira Machrusah (Dubes RI untuk Aljazair), dan Husnan Bey Fananie (Dubes RI untuk Azerbaijan).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua Syuriyah PCINU Belanda, KH Nur Hasyim Subadi, menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sangat besar kepada Dubes I Gusti Agung Wesaka Puja atas dukungan yang telah diberikan.?

“Hal ini menunjukkan kepedulian tinggi KBRI Den Haag atas signifikansi Islam Nusantara bagi citra global Indonesia di kancah internasional,” tegas tokoh ulama alumni Universitas Al-Azhar Kairo ini.?

Apresiasi senada juga disampaikan ? Katib Syuriyah PCINU Belanda, M. Shohibuddin. Menurutnya, dukungan besar KBRI Den Haag baik dalam mendukung konferensi internasional maupun menyelenggarakan Nusantara Night merupakan bukti bahwa Pemerintah RI memiliki kesadaran dan komitmen tinggi untuk menjadikan Islam Nusantara sebagai salah satu komponen diplomasi budaya Indonesia di luar negeri.?

“Diplomasi ‘Saunesia’ (Saudi Arabia-Indonesia) yang membuahkan kunjungan kenegaraan Raja Salman dan penandatanganan kesepakatan kedua negara untuk bekerja sama memajukan moderatisme Islam dan melawan terorisme tidak terlepas dari peran kunci Dubes Agus Maftuh Abegebriel melalui pendekatan Islam Nusantara,” tegas mahasiswa doktoral di University of Amsterdam ini.

Ditemui secara terpisah, Fahrizal Yusuf Affandi, salah satu aktivis PCINU Belanda yang sekaligus panitia Nusantara Night, juga menyampaikan penghargaan yang tinggi atas peran besar KBRI Den Haag dalam mendukung promosi Islam Nusantara di arena global.?

“Penandatangan dan deklarasi Piagam Den Haag sebagai pesan utama Nusantara Night tidak akan terwujud tanpa dukungan penuh dari KBRI Den Haag,” kata mahasiswa doktoral di Wageningen University ini.?

Menurutnya, Piagam Den Haag itu akan menegaskan Islam Nusantara sebagai komitmen bangsa Indonesia untuk mewujudkan perdamaian, keadilan dan persaudaraan di antara seluruh umat manusia.?

Piagam ini diharapkan akan ditandatangani oleh para hadirin Nusantara Night yang terdiri dari para Duta Besar RI, pejabat Kementerian Agama RI, pemakalah pada konferensi internasional, diaspora Indonesia di berbagai negara, serta peneliti dan pemerhati Islam dan Indonesia dari berbagai lembaga akademik di Belanda. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 10 Maret 2015

Peserta Konbes Keluarkan Petisi Pelajar Putri NU 2014

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sedikitnya 55 kader IPPNU mengakhiri Konbes dengan pendeklarasian Petisi Pelajar Putri NU 2014 di Cibubur, Jakarta Timur, Ahad (2/3) siang. Pembacaan bersama petisi itu dipandu empat rekanita yang mewakili pelajar putri NU dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Deklarasi petisi ini dinyatakan oleh sedikitnya 55 peserta Konbes IPPNU 2014, beberapa mantan Ketua Umum PP IPPNU, delegasi Kemenakertrans Abdul Wahid Maktub, dan 90 santriwati pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur.

Peserta Konbes Keluarkan Petisi Pelajar Putri NU 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Konbes Keluarkan Petisi Pelajar Putri NU 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Konbes Keluarkan Petisi Pelajar Putri NU 2014

Petisi itu berisi empat poin sikap IPPNU atas semakin terpuruknya kualitas kepemimpinan di Indonesia di samping lemahnya penegakkan hukum, buruknya integritas pemimpin, dan juga korupsi yang menjamur.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mereka sebagai pelajar putri NU menyatakan pertama, hanya akan memilih pemimpin yang amanah, tegas, antikolusi, korupsi, dan nepotisme.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kedua, mereka sebagai bagian dari pemilih pemula akan berpartisipasi secara aktif dalam Pemilu 2014 dan menolak golput. Ketiga, mereka meminta pemerintah untuk lebih aktif menyosialisasikan pendidikan politik untuk seluruh pelajar Indonesia.

Keempat, mereka mengajak seluruh pelajar Indonesia untuk mengawal penyelenggaraan pemilu yang jujur, adil, dan damai.

“Saya bangga dengan seluruh pengurus harian wilayah IPPNU peserta Konbes sekalian. Petisi yang dihasilkan Konbes IPPNU ini sangat penting. Selamat jalan menuju kediaman masing-masing. Sebarkan petisi ini ke seluruh pelajar di pelosok negeri di Indonesia,” kata Ketua Umum PP IPPNU Farida Farichah, Ahad (2/3).

Deklarasi ini ditutup dengan penandatangan bersama seluruh peserta Konbes IPPNU 2014, tamu undangan yang hadir, dan puluhan santriwati pesantren Al-Hamid. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Amalan, Habib, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 25 Februari 2015

Paus: Tak Boleh Seorangpun Hina Keyakinan Orang Lain

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Paus Francis membahas insiden berdarah di kantor koran "Charlie Hebdo" dengan menegaskan bahwa tidak ada satu orang pun boleh menghina keyakinan orang lain, dengan kata lain kebebasan berbicara bukan berarti sama sekali tidak terbatas.

Paus berbicara membahas kontroversi "Charlie Hebdo" kepada jurnalis yang berada di dalam penerbangan bersamanya meninggakan Sri Lanka menuju Filipina. 

Paus: Tak Boleh Seorangpun Hina Keyakinan Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Paus: Tak Boleh Seorangpun Hina Keyakinan Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Paus: Tak Boleh Seorangpun Hina Keyakinan Orang Lain

Menurut Paus, sebagaimana diwartakan Time, kebebasan beragama dan kebebasan berekspresi adalah hak-hak manusia yang sangat fundamental tapi semua itu bukan berarti bebas tanpa batas sama sekali.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dengan bahasa Italia, ia menjelaskan, "Ada batasnya. Setiap agama mempunyai martabat. Saya tidak bisa mengejek agama yang menghormati kehidupan manusia dan keberadaan manusia."

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia merinci dengan contoh keseharian, "Bila ada kawan yang berkata-kata buruk tentang ibu saya, pasti saya tinju hidungnya." 

"Kita tidak boleh memprovokasi, kita tidak boleh menghina keimanan orang lain, kita tidak boleh bercanda soal iman," ujarnya.

Charlie Hebdo menjual kartun yang beberapa kali menggambarkan Nabi Muhammad dengan nada ejekan. Dalam keimanan Islam, sebagai wujud meyakini Tuhan sebagai satu-satunya yang layak disembah, sosok Nabi tidak boleh digambar. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah, Makam, Kiai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 04 Februari 2015

Guru Aswaja Maarif NU Harus Bersertifikat

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Terjadi kesepahaman antara Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan Maarif NU Jombang dengan Aswaja NU Center Jombang. Kedua lembaga ini bersepakat bahwa para guru yang mengajar materi Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) harus memiliki sertifikat Aswaja yang dikeluarkan oleh dua lembaga ini.

Hal ini disampaikan Direktur Aswaja NU Center Jombang, Yusuf Suharto kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Jum’at (11/4). "Tadi siang antara PC LP Maarif NU Jombang dengan PC Aswaja NU Center Jombang telah menyepakati hal ini," kata dosen di Universitas Darul Ulum Jombang ini. Pertemuan dihadiri oleh Ketua PC LP Maarif NU, KH Salmanuddin.

Guru Aswaja Maarif NU Harus Bersertifikat (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Aswaja Maarif NU Harus Bersertifikat (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Aswaja Maarif NU Harus Bersertifikat

PC LP Maarif NU Jombang akan mengundang sejumlah guru yang mengajar mata pelajaran Aswaja untuk disamakan persepsinya seputar pengetahuan dan pemahaman Aswaja secara benar. "Hal ini juga menjadi amanah dari Musyawarah Kerja PCNU Jombang yang beberapa waktu lalu dilaksanakan," kata Yususf Suharto.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pertimbangan lain karena ternyata ada sejumlah sekolah dan madrasah yang belum menggunakan materi Aswaja. Padahal buku panduan telah disediakan oleh PW Maarif NU Jawa Timur. "Ini agak riskan karena materi Aswaja hanya diberikan kepada siswa dalam bentuk amaliyah ibadah," tandasnya.

Yang juga tidak kalah penting adalah ternyata di sejumlah madrasah dan sekolah beredar buku Pendidikan Agama Islam yang mempersoalkan sejumlah amaliyah Aswaja. "Seperti dibidahkannya ziarah kubur, pelarangan penggunaan jimat dan sebagainya," terangnya. "Hal ini sangat meresahkan sejumlah sekolah dan guru," lanjutnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sejumlah permasalahan tersebut menjadi keprihatinan bersama antara kedua lembaga. "Apakah para guru Aswaja kurang memahami materi yang disampaikan kepada para peserta didik atau ada masalah lain, akan kami dalami," ungkapnya.

Kegiatan pendalaman materi keaswajaan bagi guru ini nantinya dilangsungkan di auditorium Universitas Wahab Hasbullah atau Unwaha Tambakberas Jombang bulan depan. "Awalnya akan dilangsungkan bulan April, tapi karena ada tahapan pemilu akhirnya digeser ke bulan Mei," katanya.

Para guru yang telah mengikuti pendalaman Aswaja ini nantinya akan diberikan Sertivikat Aswaja sebagai bukti bahwa yang bersangkutan berhak dan layak mengajar materi Aswaja di sekolah dan madrasah. "Tanpa sertivikat Aswaja, para guru bisa diragukan pemahaman dan kemempuan dalam memahami Aswaja secara baik dan benar," sergahnya.

Ada sekitar tiga ratus guru yang akan mengikuti kegiatan ini. "Tahap pertama baru dilakukan bulan Mei, namun akan terus dilaksanakan sampai seluruh guru Aswaja mengikuti kegiatan ini," katanya.

Pemateri Aswaja ini adalah para kiai di jajaran Syuriyah PCNU Jombang dan pengurus Aswaja NU Center Jombang yang dipandang memiliki pemahaman dan kedalaman perihal keaswajaan. (Syaifullah/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi RMI NU, Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 22 Januari 2015

Radio Aswaja FM Pekalongan Siap Diluncurkan

Pekalongan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pekalongan akan mengawali program barunya dengan meresmikan radio komunitas Aswaja yang berjalur FM dengan kanal 107.8 M.Hz.

Radio Aswaja FM Pekalongan Siap Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio Aswaja FM Pekalongan Siap Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Radio Aswaja FM Pekalongan Siap Diluncurkan

Acara peresmian Radio Aswaja dibarengkan dengan pembukaan Muskercab dan Pelantikan PCNU Kota Pekalongan Jumat (22/2) di Gedung Aswaja Pekalongan.

Pilihan radio sebagai upaya untuk mensinergikan program program dari lembaga dan lajnah yang memerlukan media agar bisa sampai di tengah tengah warga NU di Kota Pekalongan yang cukup banyak.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua PCNU Kota Pekalongan H. Ahmad Rofiq mengungkapkan, biaya radio cukup murah juga masih sanggup bersaing dengan media televisi, koran maupun internet.

"Dengan radio, berbagai program informasi dan pesan pesan keagamaan bisa sampai kepada masyarakat yang nantinya akan dikemas dengan baik sehingga pendengar tidak bosan," ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dikatakan, sebagai radio komunitas, Aswaja FM akan berusaha semaksimal mungkin dikelola secara profesional, sehingga pendengar tidak jenuh dan justru lebih terhibur dengan informasi informasi pendidikan dan dakwah dengan kemasan yang lebih menarik.

"Saya sudah punya beberapa tenaga ahli yang bisa mengelola radio Aswaja FM dan kesemuanya merupakan kader kader NU pilihan," ujar Rofiq perihal siapa yang akan mengelola radio.

Bertempat di komplek Gedung Aswaja Pekalongan, beberapa acara unggulan sudah disiapkan oleh pengelola radio antara lain, ngaji kitab kuning, tausiyah kiyai, membedah ahlus sunnah wal jamaah dan program dialog masalah rumah tangga, kesehatan, pendidikan dan santri bertanya kiyai menjawab dengan nara sumber yang cukup mumpuni.

Namun demikian, pada dua bulan pertama baru akan diluncurkan dengan lagu lagu saja, sedangkan siaran resminya baru akan dimulai pada April atau Mei mendatang.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, Nasional, Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 07 Januari 2015

Pramuka NU Mahir Aswaja dan Ahli Teknologi

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Usai melaksanakan shalat Magrib berjamaah, sejumlah peserta terlihat menunggu dengan tertib di mushala. Masing-masing mendekap laptop. Mereka adalah peserta lomba cerdas cermat Aswaja online.

Pramuka NU Mahir Aswaja dan Ahli Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pramuka NU Mahir Aswaja dan Ahli Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pramuka NU Mahir Aswaja dan Ahli Teknologi

Salah seorang peserta dari Lampung tampak sumringah menghadapi babak kualivikasi materi Ahlus Sunnah wal-Jamaah secara online ini. Meskipun sebagai pengalaman pertama, namun ia optimis bisa lolos pada babak berikutnya.

Inilah antara lain yang membedakan perkemahan di lingkungan LP Ma’arif? NU dengan perkemahan serupa. Ada adu kemampuan dan wawasan keaswajaan ala Nahdlatul Ulama yang dilakukan secara online.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tidak semata mengasah diri secara fisik dan kemampuan kepramukaan, para peserta Perkemahan Wirakarya Pramuka LP Ma’arif NU Nasional (Perwimanas) juga diuji pengetahuan dan kedalaman materi keaswajaan ala NU.

Utusan peserta perkemahan ini diadu dalam kegiatan lomba cerdas cermat Aswaja. “Ada seratus peserta yang mengikuti lomba cerdas cermat keaswajaan ini secara online,” kata Hizbullah Huda, MPdI (26/6).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Koordinator IT (Informasi dan Teknologi) Perwimanas ini menandaskan, pada seleksi awal, setiap Sangga mengirimkan utusan untuk beradu kemampuan menjawab sejumlah soal yang telah disediakan panitia.

“Mereka dikumpulkan di aula mushala dan diberikan materi soal yang harus dijawab secara serempak,” tandas pengurus PW LP Ma’arif NU Jawa Timur ini.

Peserta diwajibkan menjawab setidaknya lima puluh soal Aswaja yang diselesaikan selama dua puluh menit. Namun demikian, para peserta tidak akan dapat saling mencontek lantaran akan mendapatkan soal secara acak, baik urutan soal dan jawabannya.

“Dengan demikian, tidak akan ada kecurangan seperti yang didengar pada pelaksanaan ujian di banyak tempat,” kata alumnus Unesa Surabaya ini.

Dari seratus peserta yang mengikuti seleksi di babak awal, dipilih hanya 15 peserta putra dan putri untuk maju pada babak berikutnya.

“Untuk peserta yang masuk seleksi tahap dua nantinya juga diberikan soal dengan mekanisme seperti babak awal,” katanya.

Dari 15 peserta akan dipilih 4 peserta baik putera maupun puteri. “Mereka inilah yang akan memasuki babak final dengan memperebutkan juara satu, dua, tiga serta harapan,” kata Abdul Latif, yang juga bertugas di bagian IT.

Saat babak final, mereka harus melewati sejumlah babak. Yang pertama adalah berupa tanya jawab, dilanjutkan tanya jawab lemparan, khitabah serta adu cepat.

Untuk khitabah, para peserta harus menjelaskan soal yang telah dipilih. “Penilaian kemampuan berpidato sangat menentukan,” katanya. ?

Diluar itu semua, cerdas cermat ini setidaknya memberikan kesan mendalam sehingga saat pulang ke tempat masing-masing, peserta bisa mendapatkan pemahaman dan kedalaman Aswaja NU.

Demikian juga, sebelum berangkat, peserta Perwimanas disyaratkan mengenal teknologi informasi secara baik. Karena semua soal disampaikan dalam bentuk online dengan memanfaatkan jaringan internet yang ada di lokasi.

“Internet, laptop, komputer dan perangkat komunikasi yang lain adalah sesuatu yang tidak terhindarkan dari seorang pelajar dan aktifis pramuka NU,” terangnya. “Namun yang harus ditekankan adalah bahwa penguasaan terhadap sejumlah piranti teknologi itu hendaknya dapat dioptimalkan untuk tujuan mulia,” lanjutnya.

“Makna inilah yang akan ditekankan kepada peserta Perwimanas, dengan tetap mendorong mereka untuk menguasai teknologi informasi yang sehat dan bermanfaat,” tandas guru MTsN Denanyar Jombang yang juga pengurus PCNU Jombang ini.

Kesan peserta terhadap lomba ini sangat luar biasa. “Tidak ada kegiatan seperti ini di tempat lain,” kata peserta lain. “Saya makin bangga menjadi bagian dari NU,” kata Yuliatin dari Kalimantan Tengah.

Redaktur? ? ? ? : Abdullah Alawi

Kontributor : Syaifullah Ibnu Nawawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kiai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 01 Januari 2015

Dua Ulama Pencipta Lagu Kemerdekaan Khas Pesantren

Oleh M. Rikza Chamami



Dunia pesantren mengenal rabithah (hubungan guru-murid) yang sangat kuat. Guru selalu menjadi inspirasi para santri-santrinya yang pernah mengaji. Demikian pula guru, selalu senang jika melihat para santrinya sukses berkhidmah di tengah masyarakat luas. Tugas sebagai guru seakan tuntas memiliki generasi penerus. Santri juga merasa gembira karena dapat meneruskan manfaat ilmu dari para guru-gurunya.

Dua Ulama Pencipta Lagu Kemerdekaan Khas Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Ulama Pencipta Lagu Kemerdekaan Khas Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Ulama Pencipta Lagu Kemerdekaan Khas Pesantren

Demikian pula tampaknya yang dirasakan oleh guru-murid yang sama-sama berjuang meraih kemerdekaan Republik Indonesia dan mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Siapakah dia? KHR Asnawi Kudus (1861-1959 M) dan KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971). Dua tokoh pesantren ini dikenal sebagai sosok guru dan murid yang saling mendukung satu dan lainnya dalam segala hal perjuangan menegakkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

KHR Asnawi adalah salah seorang guru dari KH Abdul Wahab Chasbullah ketika mencari ilmu di Makkah bersama KH Bisri Sjansuri Jombang, KH Dahlan Pekalongan, KH Kamal Hambali Kudus, KH Mufid Kudus dan KH Ahmad Muchid Sidoarjo (Minan Zuhri: 1983). KHR Asnawi sangat lama bermukim di Makkah menjadi guru di Masjidil Haram dan mengajar ilmu agam di rumah pondokannya.

Demikian pula KH Abdul Wahab Chasbullah disebutkan mulai belajar di Makkah sejak usia 27 tahun dan mukim selama lima tahun (Ubaidillah Sadewa: 2014). Di antara guru Mbah Wahab selain KHR Asnawi selama belajar di Makkah adalah Syaikh Mahfudz Termas (tasawwuf dan ushul fiqih), Syaikh Mukhtaram Banyumas (Fathul Wahab), Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (fiqih), Syaikh Baqir Yogyakarta (manthiq), Syaikh Asy’ari Bawean (ilmu hisab), Syaikh Sa’id Al Yamani (nahwu), Syaikh Sa’id Ahmad Bakry Syatha (nahwu), Syaikh Abdul Karim Al Daghestany (Kitab Tuhfah), Syaikh Abdul Hamid Kudus (ilmu ‘arudl dan ma’ani) dan Syaikh Umar Bajened (fiqih).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari sisi nasab, kedua Kiai ini sama-sama keturunan dari Walisongo. KHR Asnawi keturunan dari Sunan Kudus Sayyid Ja’far Shodiq dan KH Abdul Wahab Chasbullah adalah keturuan dari Maulana Ishaq (ayahanda Sunan Giri). Sehingga sangat wajar, dalam bidang perjuangan dan keilmuan antara keduanya sangat memiliki kemiripan. Semangat dalam mencari ilmu dan ketegasan dalam menjalankan hukum agama juga menjadi komitmen keduanya.

Salah satu perjuangan yang tidak pernah dilupakan oleh kedua Kiai ini adalah dalam mengusir penjajah. Kekuatan ilmu dan santri yang dimilikinya, baik di Kudus dan Jombang digerakkan untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Kedaulatan Indonesia sangat dibela mati-matian. Apalagi penjajah hadir di bumi Indonesia sangat mengganggu hak asasi manusia dan membawa misi menghanguskan Islam yang sudah dipeluk oleh penduduk Indonesia.

Sejak masih ada di Makkah, KHR Asnawi dan KH Abdul Wahab Chasbullah sudah merancang bagaimana Indonesia yang terjajah oleh Belanda itu bisa merdeka. Mbah Asnawi bersama dengan Mbah Wahab, KH Abbas Jember dan KH Dahlan Kertosono mendirikan Sarekat Islam (SI) Cabang Makkah. Gerakan nasionalisme sudah digaungkan dari tanah haram dengan menguatkan eksistensi SI dalam merespon pergerakan nasional. Sepulangnya ke Indonesia, dua Kiai ini masih menggelorakan cinta tanah air dan bertekad mengusir penjajah.

KHR Asnawi yang merupakan Penasehat SI Cabang Kudus dengan gagah berani membuat fatwa: “Haram hukumnya menyamai pakaian Belanda (bercelana, berjas, berdasi dan bertopi)”. Fatwa ini diindahkan oleh semua penduduk Kudus dan sekitarnya. Dalam memperjuangkan hak muslim di Kudus, KHR Asnawi pernah dipenjara oleh Belanda, karena fitnah penjajah “geger pecinan”.

Dan justru dari balik jeruji penjara, dakwah KHR Asnawi semakin kuat dan semua santri membala mati-matian dengan membenci penjajah dan minta KHR Asnawi dibebaskan. Semangat kebangsaan ditanamkan oleh KHR Asnawi kepada murid-muridnya. Mbah Asnawi mendirikan organisasi dan madrasah sebelum kemerdekan: Jam’iyyatun Nashihin, Nahdlatul Ulama dan Madrasah Qudsiyyah.

Hal yang sama juga dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Organisasi SI masih digeluti selama berada di Surabaya. Gerakan nyata Mbah Wahab dalam mendukung kemerdekaan sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Kemerdekaan dan hengkangnya penjajah menjadi komitmen Mbah Wahab yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Indonesia, Islam dan kerukunan bangsa Indonesia perlu diwujudkan.

Persinggungan dan keakraban Mbah Wahab dengan Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara, W. Wondoamiseno, Hendrick Sneevliet, Alimin, Muso, Abikusno Tjokrosujono dan Soekarno membuatnya semakin kuat merancang pergerakan cinta tanah air. Termasuk peran Mbah Wahab dalam mendirikan Islam Studie Club bersama Dr Soetomo pada 1920. Termasuk Mbah Wahab mulai mendirikan organisasi? dan madrasah sebelum kemerdekaan: Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathan dan Nahdlatut Tujjar.

Karya Lagu Pesantren



Di antara wujud kebanggaan dan kecintaan KHR Asnawi dan KH Abdul Wahab Chasbullah ditunjukkan dengan karya seninya. Dua kiai ini dikenal sebagai sosok yang ‘alim dalam agama dan ahli membuat syi’ir (lagu khas pesantren berbahasa Arab). Apalagi dalam catatan sejarah, Mbah Wahab belajar ilmu ‘arudl (membahas cara membuat sya’ir berbahasa Arab) dengan KH Abdul Jalil sejak di Makkah. Dan dunia pesantren memang tidak pernah melupakan ilmu ‘arudl dan ilmu balaghah (badi’, ma’ani dan bayan).

Karya pesantren berupa syi’ir kemerdekaan yang dikarang oleh KHR Asnawi sudah sangat masyhur di kalangan santri Kudus. Syi’ir kemerdekaan (mudah disebut sebagai Lagu Kemerdekaan khas pesantren) itu adalah:

? ? ? * ? ? ?

? ? * ? ? ?

? ? ? * ? ? ?

? ? ? * ? ?

? ? ? * ? ? ? ?

? ? ? ? ? * ? ? ? ?

? ? ? * ? ?

? ? ? * ? ? ? ?

? ? * ? ?

? ? * ? ?

? ? ? * ? ?

? ? * ? ?

Sungguh kemerdekaan telah jelas bagi bangsa Indonesia

Seluruh bangsa bergembira selamanya

Karena untuk mendapatkan itu dibutuhkan perjuangan total

Dibawah jajahan kolonial Jepang dan Belanda

Ada yang diasingkan di Digul Irian Jaya

Ada juga yang dipenjara dengan penuh kepedihan

Sungguh mereka benar-benar ikhlas mengkhidmahkan diri untuk negara

Jiwa kebangsaan menggerakkan mereka berjuang secara nyata

Demi bangsa dan negara

Semoga Tuhan membalas perjuangan mereka

Dengan menjaga kemerdekaan berpendapat yaitu demokrasi

Menuju kemakmuran keadilan sosial

Adapun lagu kebangsaan yang dikarang oleh KH Abdul Wahab Chasbullah sudah sangat masyhur dan akan menjadi “Lagu Perjuangan Nasional”, yaitu:

? ? ? ? ? ?

? ? ? ?

? ? ? ?

? ? ?

? ?

? ? ?

? ? ? ?

? ? ?

“Pusaka hati wahai tanah airku

Cintamu dalam imanku

Jangan halangkan nasibmu

Bangkitlah, hai bangsaku!

Indonesia negriku

Engkau Panji Martabatku

S’yapa datang mengancammu

‘Kan binasa dibawah dulimu!”

Karya Mbah Wahab ini ada yang menyebutkan dikarang sejak 1916 (versi Cak Anam) dan digemakan sejak 1934 (versi Ubaidillah Sadewa). Keduanya jelas menunjukkan bahwa karya lagu pesantren ini berada pada posisi sebelum kemerdekaan. Dalam buku “Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1830-1945” karya Zainul Milal Bizawie (2016: 55) terdapat kalimat tambahan dalam karya Mbah Wahab, yakni:

Jangan kalian menjadi orang terjajah

Sungguh kesempurnaan dan kemerdekaan

Harus dibuktikan dengan perbuatan

Karya pesantren dari dua Kiai ini menjadikan nyata, bahwa komitmen Kiai dalam mendorong kemerdekaan dan merayakannya menjadi bagian yang utuh. Maka rasanya terharu sekaligus bangga mendengar "Yahlal Wathan" karya KH Abdul Wahab Chasbullah Jombang menjadi Lagu Nasional. Dan guru Kiai Wahab bernama KHR Asnawi Kudus juga memiliki Syiir Proklamasi Kemerdekaan, Shalawat Kebangsaan dan Syiir Nasionalisme menyambut IR Soekarno sebagai Presiden RI.

Zainul Milal Bizawie menegaskan bahwa: “Setiap langkah Mbah Wahab yang dinamis, beliau selalu meminta nasehat dan saran dari Kiai Asnawi Kudus. Apalagi dengan keberadaan KH Hasyim Asy’ari yang selalu hati-hati dan penuh pertimbangan. Dalam kedinamisan dan pergerakannya, Mbah Wahab selalu minta saran Mbah Asnawi yang lebih aktif dan dinamis”. Disinilah titik temu Mbah Asnawi dan Mbah Wahab. Keduanya menggambarkan isi hati dan muatan dakwah Islamnya dalam lagu-lagu yang isinya hampir memiliki kesamaan.

Hubungan guru & murid ini kompak dalam mendarmabaktikan ilmu arudl-nya untuk Indonesia dengan lagu-lagu kemerdekaan khas Pondok Pesantren. Mbah Asnawi dan Mbah Wahab adalah sosok Kiai yang benar-benar menunjukkan bahwa bangsa Indonesia itu harus pandai dan harus dihibur dengan lagu khas pesantren untuk menyemangati cinta bangsa sekaligus mengenang jasa para pahlawan. Semoga lahir Asnawi dan Wahab baru di bumi Nusantara ini. Wallahu a’lam.

Penulis adalah alumni Madrasah Qudsiyyah Kudus, Pjs Ketua Umum IPNU tahun 2009 & Dosen UIN Walisongo



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU, Hadits Pondok Pesantren An-Nur Slawi