Sabtu, 10 April 2010

Ribuan Siswa Bershalawat di Karnaval Maulid Nabi

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, SD Ta’mirul Islam Surakarta mengadakan kegiatan karnaval, Rabu (22/1). Ribuan siswa turut meramaikan acara tersebut dengan berbagai pentas seni dan aksi.

Ribuan Siswa Bershalawat di Karnaval Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Siswa Bershalawat di Karnaval Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Siswa Bershalawat di Karnaval Maulid Nabi

Karnaval diselenggarakan dengan rute dimulai dari Masjid  Tegalsari Laweyan menuju ke Lapangan Sriwedari. Para siswa pun berjalan kaki menyusuri jalan rute yang ditempuh dengan mendendangkan shalawat. Sebagian dari mereka ada pula yang membawa poster dengan tulisan “Perbanyak Shalawat Agar Mendapat Syafaat”.

Tiba di Lapangan Sriwedari, salah satu perwakilan siswa ditunjuk untuk menyampaikan ceramahnya. Jauhar Nafis yang menjadi dai cilik, menyampaikan keterangan tentang Rasul sebagai teladan umat manusia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Nabi Muhammad SAW merupakan teladan kita semua, karena nabi memiliki akhlak terpuji,” terangnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut salah satu guru SD Ta’mirul, Udin, acara ini bertujuan untuk menanamkan sedari dini, rasa cinta anak kepada Nabi Muhammad. “Juga sebagai syiar shalawatan, sebagai salah satu ajaran Ahlussunah wal Jamaah di kota Solo,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 25 Maret 2010

KH Makruf Amin Ajak Nahdliyin Bersatu Kembali

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Wakil Rais Aam KH Makruf Amin mengajak para muktamirin dan seluruh warga NU untuk bersatu kembali setelah sebelumnya, dalam muktamar ke-33 ini penuh dinamika. 

KH Makruf Amin Ajak Nahdliyin Bersatu Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Makruf Amin Ajak Nahdliyin Bersatu Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Makruf Amin Ajak Nahdliyin Bersatu Kembali

“Kami hanya memohon doa dan dukungan, marilah kita menyatukan kembali. Kami sangat bersyukur sekali, walaupun awalnya ada ketegangan sebagai satu bagian dari dinamika pembahasan, pembicaraan dan perdebatan, tetapi akhirnya biaunillah, kita kembali bersatu dan menyatu dengan kompak,” katanya dalam pidato setelah ditetapkan oleh ahwa sebagai wakil rais aam.

Ia menyampaikan jabatan wakil rais aam merupakan satu tanggung jawab yang besar, yang sebenarnya terlalu berat, “tapi karena ini permintaan para ulama, dari seluruh cabang dan wilayah di seluruh Indonesia, maka dengan segala kerendahan hati, dengan segala permohonan maaf yang sebenar-besarnya, terpaksa kami menerima tugas ini sebagai rasa hormat kami kepada para ulama,” katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kami menyadari betul tanggung jawab ini besar sekali, tantangan ke depan semakin besar dan kompleks, baik yang menyangkut berbagai aliran, pikiran, akidah, kebathilan dan berbagai tantangan... ini menjadi sesuatu yang sungguh sangat berat.” 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selanjutnya, ia mengajak seluruh jamiyyah NU dan jamaah NU untuk melakukan kerja yang lebih keras lagi sesuai dengan tantangan yang dihadapi, “ kita kuatkan akidah aswaja, kita hidupkan lagi amaliyah nahdliyah. Kita tingkatkan kegiatan kita dalam rangka melakukan perbaikan halaqah islahiyah, baik yang sifatnya keagamaan diniyah maupun kemaslahatan ijtimaiyah.”

Ia juga berjanji akan melakukan penguatan kembali kepemimpinan para ulama dalam Nahdlatul Ulama seperti yang digariskan oleh para pendiri NU. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 20 Maret 2010

Memahami Sikap PBNU (Sebuah Tanggapan)

Oleh Dwiyanto Indiahono



Membaca tulisan Saudara Syafiq Naqsyabandi (nu.or.id – 30 Desember 2016), kami merasa perlu untuk unjuk pendapat tentang memahami sikap PBNU terkait dengan Aksi Bela Islam (ABI). Sangat awal, pernyataan “Sikap PBNU yang memilih kontra terhadap Aksi Bela Islam” merupakan kalimat yang harus dikritisi. Jejak rekam posisi PBNU dan Aksi Bela Islam menunjukkan posisi yang tidak dapat dikatakan “kontra”. Sebab posisi yang dipilih oleh PBNU adalah juga posisi yang diambil oleh PP Muhammadiyah terkait dengan Aksi Bela Islam. Jadi mengambil kesimpulan PBNU memilih kontra terhadap Aksi Bela Islam merupakan kesimpulan pribadi, yang perlu direvisi. Ada beberapa alasan.

Memahami Sikap PBNU (Sebuah Tanggapan) (Sumber Gambar : Nu Online)
Memahami Sikap PBNU (Sebuah Tanggapan) (Sumber Gambar : Nu Online)

Memahami Sikap PBNU (Sebuah Tanggapan)

(Baca: Memahami Sikap PBNU)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pertama, PBNU dan PP Muhammadiyah dalam beberapa waktu terakhir mengambil posisi sebagai mediator antara Gerakan Aksi Bela Islam dan Negara. Dua institusi terbesar umat Islam itu tengah berusaha menjadi peredam hubungan antara Negara dan ABI. Ketika ABI berlangsung dengan tertib, dan Negara pun turut memberikan apresiasi, sebenarnya PBNU dan PP Muhammadiyah pun telah sukses menjadi mediator. Dua institusi besar ini tengah secara jernih melakukan analisa. Bayangkan jika kedua lembaga tersebut secara resmi menyatakan dukungan, Jakarta mungkin bisa banjir massa, sebanjir-banjirnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kedua, PBNU dan PP Muhammadiyah secara struktural memang tidak menyatakan seruan untuk turun mengikuti ABI. Tetapi secara kultural dua lembaga tersebut harus diakui memiliki andil dalam “membiarkan” warga mereka untuk ikut? ABI. Keikutsertaan warga NU dan Muhammadiyah dalam ABI tergambar dari banyak sikap selama perhelatan ABI berlangsung. Warga kedua lembaga tersebut juga berhasil melebur dengan Umat Islam yang lain untuk menyerukan aspirasinya. Warga di area akar rumput dua ormas besar itu memang sebagian ada yang menyayangkan sikap para elit organisasi mereka. Tetapi dibalik itu, mereka juga dapat memahami bahwa mereka tidak dilarang untuk ikut serta dalam ABI.

Ketiga, mendudukkan posisi PBNU struktural sebagai “kontra” dengan ABI sebenarnya justru menjadikan PBNU seakan-akan tidak memiliki peran dalam ABI. Padahal di sana ada KH. Ma’ruf Amin selaku Rais Aam PBNU, pimpinan tertinggi dalam organisasi NU yang didaulat menjadi Ketua Umum MUI. Keluarnya pernyataan keagamaan oleh MUI terkait dengan adanya penodaan agama oleh BTP tidak lepas dari peran KH. Ma’ruf Amin. Sehingga jika penulis Syafiq Naqsyabandi memilah antara PBNU struktural dan PBNU kultural, sebagai pisau analisis untuk membedah kedudukan PBNU dalam ABI tidaklah tepat. PBNU Struktural ada yang secara fungsional menjadi pioner pernyataan sikap keagamaan MUI, dan itu berarti PBNU struktural pun memiliki peran besar dalam ABI. Apalagi beberapa pernyataan sikap PBNU secara tegas sejalan dengan aspirasi ABI. Salah satunya misalnya, pernyataan sikap PBNU pasca Aksi 411 yang secara nyata membela aksi dan meyakini bahwa kericuhan yang sempat terjadi dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin merusak kemurnian Aksi 411. PBNU juga menyayangkan kelambanan pemerintah dalam melakukan komunikasi politik dengan masyarakat.

Keempat, argumentasi penulis artikel itu yang mencuplik kasus-kasus terdahulu untuk memperkuat sikap PBNU yang beberapa kali berbeda dengan posisi umat Islam, dalam kasus ABI ini menjadi tidak relevan. Kasus-kasus yang diceritakan merupakan kasus-kasus yang memang terjadi dalam situasi yang represif. Memahami kasus-kasus tersebut juga harus dengan analisis kondisi pada waktu itu. Sikap-sikap yang seakan-akan “mendua” tersebut merupakan bentuk keluwesan PBNU untuk bertahan dan melawan rezim yang otoriter kepada Umat Islam.

PBNU dan Muhammadiyah merupakan dua ormas terbesar yang memiliki pengalaman berhadapan dengan pemerintah dan mengayomi masyarakat. Pilihan-pilihan kebijakan organisasi tentu diambil bukan hanya “ingin berbeda” dengan ormas-ormas Islam yang lain. Pilihan kebijakan itu murni lahir karena kedua ormas tersebut memiliki cara berbeda untuk membela umat, membela Islam dan berhubungan baik dengan pemerintah. Pilihan kebijakan tersebut bukan berarti “kontra” tetapi merupakan bentuk “dukungan” ABI dalam wajah lain.

Penulis adalah dosen kebijakan publik FISIP Universitas Jenderal Soedirman.



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Budaya, Kiai, Pahlawan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 16 Maret 2010

Sistem Kupon Subsidi Pupuk Masih Simpang Siur

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sistem penyaluran subsisi pupuk melalui kupon ternyata belum menjadi keputusan pemerintah. Menyusul spekulasi seputar efektifitas sistem baru itu serta usulan beberapa pakar ekonomi untuk menyerahkan harga pupuk kepada mekanisme pasar alias mencabut subsidi, dikatakan, sistem itu hanyalah rencana alternatif Departemen Pertanian (Deptan) agar subsidi pupuk yang diberikan tidak salah sasaran.

"Kupon pupuk itu masih salah satu opsi yang disampaikan Deptan untuk mengatasi masalah pupuk di petani. Jadi, itu masih wacana dan belum menjadi putusan Presiden, apalagi dilaksanakan," kata Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, Jumat (8/12) siang usai sholat Jumat di mesjid Baiturahmin di Kompleks Istana Wapres, Jakarta.

Sebelumnya, Menko Perekonomian Boediono mengungkapkan rencana sistem voucher untuk distribusi pupuk bersubsidi pada tahun 2007 dalam rapat gabungan komisi IV dan VI DPR dengan pemerintah baru-baru ini. Tujuan pembagian langsung pupuk lewat sistem kupon ini dilakukan pemerintah dengan tujuan mencegah terjadi kelangkaan pupuk dan peningkatan anggaran subsidi pupuk.

Sistem Kupon Subsidi Pupuk Masih Simpang Siur (Sumber Gambar : Nu Online)
Sistem Kupon Subsidi Pupuk Masih Simpang Siur (Sumber Gambar : Nu Online)

Sistem Kupon Subsidi Pupuk Masih Simpang Siur

Uji coba ini akan dilakukan menjelang akhir masa tanam pertama 2007. Hasil uji coba, kata Boediono, akan dievaluasi secara menyeluruh pada pertengahan 2007, baik yang terkait dengan kebijakan pupuk secara umum, jumlah kebutuhan pupuk yang sebenarnya, irama tanam, dan pasokan pupuknya.

Kesimpangsiuran informasi mengenai kebijakan pupuk ini juga terjadi saat Menteri pertanian (Mentan) membatalkan rencana kenaikan HET pupuk pada Januari 2007 sebesar 50% setelah menteri mendengarkan instruksi presiden agar mencari solusi terbaik perpupukan nasional. (nam)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, Habib, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 25 Januari 2010

Kiai NU Raih Penghargaan Konferensi Sufi Internasional di Maroko

Maroko, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kiai NU yang mewakili Indonesia, Ahmad Najib Afandi berhasil meraih penghargaan penulisan makalah terbaik dalam The International Academic Center of ? Sufi and Aesthetic Studies (IACSAS) yang berlangsung di kota Fes, Maroko, (9-12/5).?

Pengasuh Pesantren asy- Syafiiyyah, Kedungwungu Krangkeng Indramayu Jawa Barat itu, menerima penghargaan dari Direktur IACSAS, Syeikh Dr Aziz ? al-Chubaeti, usai memaparkan makalah berjudul "Pengaruh Tasawuf ? Maroko terhadap Interaksi Sosial Masyarakat Indonesia" di hadapan perwakilan dari 40 negara.

Gus Najib, demikian akrab disapa, berhasil membentangkan data pengaruh tasawuf Maroko terhadap keberagamaan di Indonesia.

Kiai NU Raih Penghargaan Konferensi Sufi Internasional di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai NU Raih Penghargaan Konferensi Sufi Internasional di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai NU Raih Penghargaan Konferensi Sufi Internasional di Maroko

"Diantara bukti persambungan antara tasawuf Indonesia dengan tasawuf Maroko –yang selama ini sering dilupakan--baik melalui hubungan guru dan murid dan hubungan budaya, juga faktor lainnya. Ibrahim Harakat dalam bukunya Pengantar Sejarah Ilmu di Maroko, bahwa setelah berdirinya Maroko di wilayah Afrika yang subur dengan ulamanya telah membuka akses mereka untuk ekspansi ke Timur (masyriq) untuk berdakwah dengan membawa karya-karya monumentalnya sehingga tersebarlah mereka di wilayah Timur sampai memiliki banyak murid," tutur mantan wakil sekretaris Pengurus Pusat Maarif ? NU itu.

Dengan data tersebut, Gus Najib meyakini bahwa perjalanan ulama-ulama Maroko sampai ke Jawa setelah pertemuan mereka dengan orang Jawa di Tanah Suci, Mekah. Hal itu, katanya, dapat dibuktikan dengan banyaknya ulama yang dimakamkan di Jawa dengan nama Syeikh al-Maghribi.

Sementara, bukti adanya hubungan intelektual secara langsung dengan ulama Maroko adalah banyaknya pelajar Indonesia yang pernah berguru kepada ulama Maroko, seperti Syeikh Abdul Hadi (Abad IX) dari kerajaan Buton yang berguru kepada Syeikh Said al Maghribi, Syeikh Muhamad ? Nafis Al-Banjari (1710-1812 M) murid dari Syeikh Abdurahman bin Abdul Aziz al Maghribi ketika di Makkah, yang pendapatnya banyak dipakai oleh Syeikh Ihsan Jampes Kediri dalam karya fenomenalnya Sirajuttalibin.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gus Najib memaparkan, sisi lain yang jelas menjadi bukti persambungan dan pengaruh tasawuf ? Maroko di Indonesia adalah karya para sufi ? Maroko, seperti, Asyifa karya Qadi Iyad, Dalail Khaerat karya Syeikh al-Jazuli, Jawahirul Maani dan Shalawat al-Fatih karya Syeikh Attijani.

"Selanjutnya banyak tarekat yang didirikan oleh ulama Maroko, kini besar di Indonesia, seperti As-Sadziliyah, At-tijaniyah, Al-Ahmadiyah (Ahmad bin Idris al - Maghribi (1760-1837 M)," kata Gus Najib.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tasawuf Indonesia sebenarnya memiliki persambungan dengan banyak negara. Kurdi melalui Syeikh Amin al-Kurdi dengan kitabnya Tanwirul Qulub. India melalui karya Syeikh Burhanpuri dengan karyanya Tuhfat Al Mursalah yang menjadi referensi awal lahirnya tasawuf ? falsafi di Indonesia.

“Demikian juga dengan Persia melalui kitab "Syuab Al-Iman" karya al-Mulaibari yang dikomentari oleh Syeikh Nawawi Banten dengan nama Qamiut Tughyan,” ujarnya.

Namun, dari sekian sumber tasawuf Indonesia itu, semuanya memiliki validitas referensi yang menjamin ke-sunah-an tasawuf Indonesia. Dengan sumber-sumber yang Islam natural itu, semestinya sudah menjamin segala praktik tasawuf dan tarekat di Indonesia tidak akan menyimpang dari syariat dan akidah. "Dan, dengan keragaman sumber itu pula, seharusnya menjadikan kuatnya kebhinekaan tasawuf dan Islam Indonesia," tegasnya.

"Bukti lain yang menguatkan adanya hubungan Islam Indonesia dengan Maroko, adanya persamaan ornamen ukiran kayu (yang kaya warna) di atap di sejumlah masjid di Maroko dengan yang ada di bangunan warisan budaya Indonesia, seperti, Masjid Sunan Gunung Jati dan Masjid Said Naum, Kebon Kacang, Jakarta. Juga lainnya," pungkas pria yang juga rektor Sekolah Tinggi Islam al-Hikmah Brebes itu. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 21 Desember 2009

Kesebelasan Ruhul Islam Anak Bangsa Juara Liga Santri Aceh I

Banda Aceh, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Pertandingan Grand Final Liga Santri Nusantara (LSN) Tahun 2017 Regional Sumatera I Aceh berlangsung sengit. Laga yang berlangsung di Stadion Mini Unsyiah Banda Aceh, Selasa (19/9) harus melalui tendangan adu penalti. Akhirnya kesebelasan Pesantren Ruhul Islam Anak Bangsa (Riab) Keutapang, Aceh Besar keluar sebagai juara.

Kedua tim yang lolos ke final adalah Riab FC dan Al-Manar FC. Sejak menit pertama sampai terakhir pertandingan imbang tidak ada satu gol pun yang tercipta.

Kesebelasan Ruhul Islam Anak Bangsa Juara Liga Santri Aceh I (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesebelasan Ruhul Islam Anak Bangsa Juara Liga Santri Aceh I (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesebelasan Ruhul Islam Anak Bangsa Juara Liga Santri Aceh I

Berakhir imbang kedua tim beradu nasib melalui tendangan penalti. Skor berakhir 4-3 yang membawa kesebelasan Ruhul Islam Anak Bangsa keluar sebagai juara Liga Santri Nusantara 2017 Regional Sumatera I Aceh.

Menjadi runner-up, kesebelasan Pesantren Al-Manar berhak mendapatkan trofi. Sedangkan juara ketiga masing-masing didapatkan oleh Al-Falah Abu Lam U dan Insan Qurani.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pemain kesebelasan Al-Manar adalah Juliosa (kiper), Haikal, Mufijar Azam, Febria Maulana, Iskandar, Arif Rahman, Ridha Maulana, Mirwanda, Rianza, M Ajibhana, Nailul. Mereka bermain di bawah asuhan pelatih Nazaroul.

Pemain kesebelasan Riab terdiri atas Misbahul (kiper), Irsal, Amar, Mudahsir, Mujahid, Maulana, Zulkarnaini,Haris, Febi, Sunni, dan Fauzi. Mereka berada di bawah asuhan pelatih Sarwoko. (Indra Kariadi/Alhafiz K)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Pendidikan, Amalan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 01 Desember 2009

Majelis Alumni: Jangan Terjebak Pembahasan Kandidat

Kudus, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dalam Konferensi Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kudus pada 17 Juni besok, Majelis Alumni IPNU-IPPNU Kudus mengingatkan para kader dan anggota untuk tidak terjebak pada pembahasan sosok kandidat. Pasalnya, hal tersebut bisa mengancam kondusivitas organisasi badan otonom pelajar NU di masa depan.

Majelis Alumni: Jangan Terjebak Pembahasan Kandidat (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Alumni: Jangan Terjebak Pembahasan Kandidat (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Alumni: Jangan Terjebak Pembahasan Kandidat

Ketua Majelis Alumni Agus Hari Ageng mengatakan, perdebatan mengenai sosok kandidat bisa memunculkan persoalan baru yang berdampak pada keutuhan, kekompakan, dan kebersamaan pengurus mendatang. Bahkan tidak menutup kemungkinan bisa melahirkan perpecahan di kalangan kader-kader potensial.

“Kita harus belajar dari pengalaman. Bila tidak  bisa me-manage secara baik bisa lahirkan friksi-friksi antarkomponen pengurus cabang sendiri pasca-Konferensi. Hal ini Lebih baik kita hindari dengan fokus membicarakan program IPNU-IPPNU ke depan,” katanya dalam pertemuan PC IPNU-IPPNU dengan Majlis alumni terkait persiapan Konfercab IPNU-IPPNU Kudus di kediaman mantan ketua IPNU era 90-an M Aflach Desa Loram, Jati, Kudus, Selasa (10/6) lalu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pernyataan senada disampaikan mantan Wakil Ketua PC IPNU Kudus Sholeh Syakur. Menurutnya, konferensi yang mengarah pada kandidat hanya memunculkan semangat dukung-mendukung yang bisa mengabaikan persoalan masa depan organisasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Sebaiknya kita berpikir obyektif bagaimana mengembalikan IPNU-IPPNU ini ke ranah edukatif bukan ranah pragmatis politis. Sebab belakangan ini kita mengalami pergeseran orientasi kepada pragmatisme maupun oportunisme kekuasan,” ujar Syakur.

Misalkan, imbuh Syakur, berbicara pemimpin IPNU-IPPNU ke depan harus mencari kader yang pernah menjabat ketua di  level sebelumnya sehingga akan paham kontinuitas perjuangan, arah program, dan pengambilan kebijakan.

“Seorang pemimpin harus yang memahami fungsi dan mempunyai visi misi yang memajukan organisasi. Tanpa mempunyai hal tersebut lebih baik jadi makmum saja,” tandasnya lagi.

Sementara Ketua PC IPNU Kudus Dwi Saifullah mengharapkan dukungan dan partisipasi para alumni untuk memberikan dorongan demi kesuksesan perhelatan konferensi yang diadakan di MANU Nahdlatul Muslimin Undaan Kudus.

“Kami berharap para alumni IPNU-IPPNU tetap terjalin dengan baik sehingga keberadaanya mampu menjadi inspriasi dan spirit perjuangan bagi kader-kader dan generasi penerus,” harap Dwi. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Syariah, Humor Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi