Rabu, 02 Agustus 2017

Pengobatan Gratis NU Diserbu Warga

Pekalongan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kegiatan pengobatan gratis yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan kerjasama dengan Rabithah Alawiyah Kota Pekalongan mendapat sambutan yang meriah dari masyarakat.

Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati 91 tahun NU menurut kalender Hijriyah berlangsung di sekretariat Cabang Rabithah Alawiyah diikuti tidak kurang dari 402 pasien dengan rincian pengobatan medis 226 pasien, rukyah Aswaja 62 pasien, akupuntur 51 pasien dan bekam 63 pasien.

Pengobatan Gratis NU Diserbu Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengobatan Gratis NU Diserbu Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengobatan Gratis NU Diserbu Warga

Sambutan cukup meriah dari warga terlihat sejak pagi saat pendaftaran dibuka. Pasalnya, di samping empat jenis pengobatan yang disediakan, panitia juga melayani cek gula, kolesterol dan konsutasi kesehatan, sehingga acara yang bertajuk "NU Peduli Kesehatan" mendapat respon yang cukup baik dari masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua PCNU Kota Pekalongan, H. Ahmad Rofiq berharap kegiatan bersama dalam bidang kesehatan antara NU dan Rabithah Alawiyah dapat terus berlanjut pada event event lainnya, sehingga tali silaturrahim ini tidak akan putus di tengah jalan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Jika kemarin PCNU telah memulai dengan menggelar acara halal bi halal bersama dan kali ini di bidang kesehatan, saya berharap pada kesempatan lain juga dijalin dalam bidang ekonomi," ujarnya saat membuka kegiatan pengobatan putaran kedua.

Ditambahkan, ke depan hendaknya dalam kegiatan hlal bi halal juga dapat diadakan kegiatan sosial yang bersentuhan dengan masyaraat di lingkungan kegiatan, sehingga warga tidak hanya jadi penonton saja.

Maftuhin (50) asal Klego, menyambut baik kegiatan pengobatan gratis dilaksanakan NU dengan Rabithah Alawiyah. Dirinya berharap kegiatan seperti ini sesering mungkin diadakan dengan berpindah pindah tempat, khususnya di wilayah pinggiran Kota Pekalongan.

Kegiatan NU Peduli Kesehatan yang dimotori Nahdliyin Center Kota Pekalongan masih akan menggelar kegiatan yang sama di Ranting NU Tegalrejo dan Banyurip Alit dengan melibatkan banyak relawan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan pihak pihak terkait. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hadits, Khutbah, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 31 Juli 2017

Khotbah Jumat Mesti Kontekstual dengan Kebutuhan Umat

Majalengka, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) KH Abdul Manan A Ghani menegaskan fungsi masjid sebagai pusat ? pemberdayaan masyarakat. Kegiatan masjid harus bergerak mengikuti kebutuhan masyarakat, termasuk khotbah Jumat.

Menurut Manan, tidak relevan seorang khotib yang gencar menggaungkan isu-isu internasional, dengan mengabaikan keterpurukan rakyat yang sedang dihadapi. Padahal, jamaah membutuhkan pencerahan dan solusi untuk memecahkan persoalan mereka.

Khotbah Jumat Mesti Kontekstual dengan Kebutuhan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Khotbah Jumat Mesti Kontekstual dengan Kebutuhan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Khotbah Jumat Mesti Kontekstual dengan Kebutuhan Umat

“Khotibnya bicara Osama bin Laden, Palestina, dan seterusnya. Padahal, jamaahnya bingung dikejar-kejar rentenir. Jadi khotbah perlu disesuaikan dengan masyarakatnya,” ujarnya saat memberikan materi Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) LTMNU Kabupaten Majalengka dan Kota Cirebon di Sumberjaya, Majalengka, Jawa Barat, Ahad (6/1) petang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Manan menjelaskan, masjid tak sebatas tempat upacara peribadatan, seperti shalat. Seperti diteladankan Nabi, tempat suci ini juga berguna untuk menyelesaikan berbagai problem sosial, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Manan menyayangkan khotbah di sejumlah masjid yang muatan materinya jauh dari persoalan konkret masyarakat sekitarnya. Alih-alih member solusi, para khotib justru menggaungkan wacana yang tidak kontekstual, atau bahkan provokasi permusuhan.

?

?

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? ? : Mahbib Khoiron?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Daerah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 26 Juli 2017

Muskerwil PWNU Jatim Bahas Isu Lokal dan Nasional

Surabaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi 



Menjelang Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur membentuk tim kecil untuk membahas materi. Dalam Muskerwil itu akan ada empat komisi yang akan dibahas beberapa isu lokal dan nasional.

Muskerwil PWNU Jatim Bahas Isu Lokal dan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Muskerwil PWNU Jatim Bahas Isu Lokal dan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Muskerwil PWNU Jatim Bahas Isu Lokal dan Nasional

"Muskerwil juga akan membahas isu isu kebangsaan yang sedang menerpa Indonesia," kata KH Mutawakkil Alallah saat ditemui setelah rapat terbatas (23/8).

Dalam Muskerwil yang akan dilakukan pada 24 sampai 25 Septmber itu, PWNU bersama tim inti akan membagai dalam empat komisi, di antaranya Komisi Progam Kerja, Komisi Organisasi, Komisi Rekomendasi dan Bahtsul Masail.

Kiai Mutawakkil Alallah mengatakan, Muskerwil ini sebagai ajang untuk mengevaluasi kinerja PWNU Jawa Timur dalam hal pelaksaan progam. Muskerwil juga sebagai bahan untuk mengoptimlisasi progam kerja yang sudah dirumuskan pada Konferwil dan sebagai bahan untuk Munas dan Konbes PBNU mendatang.

Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo ini, juga menegaskan bahwa dalam Muskerwil akan membahas soal isu kebangsaan seperti upaya untuk menanggulangi gerakan radikalisme dengan mengadakan progam deradikalisasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Problem dana haji juga direncanakan akan dibahas di komisi bahtsul masail," tegasnya. "Dari hasil Muskerwil ini akan menjadi bahan rekomendasi pada forum tertinggi setelah muktamar NU itu," pungkas Kiai Mutawakkil. (Rof Maulana/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Aswaja, Pahlawan, Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 24 Juli 2017

Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pendidikan agama saat ini masih terhenti pada pengajaran ilmu agama, belum mencapai internalisasi nilai.? Pendidikan agama masih lebih terfokus pada aspek afektif, bukan kognitif.

“Pendekatannya masih pada a’malul jawarih (gerak tubuh), tidak sampai a’malul qulub (ketergerakan hati: red),” kata Mustasyar PBNU KH Tholchah Hasan, ketika menjadi narasumber dalam Temu Pakar Pendidikan Islam: Deradikalisasi, Multikultural, Wawasan Kebangsaan, serta PenguatanAkhlakul Karimah, di Jakarta, Senin (24/9).

Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional

Dalam kesempatan itu, Kiai Tholchah mempertanyakan pencapaian pendidikan agama selama ini. “Banyaknya perilaku menyimpang di kalangan pemuda pelajar, seperti radikalisasi, narkoba, pergaulan bebas, dan kriminalitas, memunculkan pertanyaan tentang sampai di mana capaian dan pengaruh pendidikan Islam terhadap perubahan perilaku dan sikap peserta didik di sekolah,” ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurutnya, tidak semua guru agama di sekolah mempunyai kelayakan mengajar agama, baik dari segi penguasaan bahan ajar, performa dalam menjalankan tugas, maupun keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, perlu adanya pembekalan berkesinambungan bagi peguatan penguasaan guru terhadap materi ajar.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Guru agama selama ini lebih mencerminkan dirinya sebatas sebagai pendidik professional, tidak bisa menjadi pendakwah yang bertanggungjawab terhadap pendidikan spiritual,” katanya.?

Menurut Kiai Tholchah, di luar kompetensi pendidik yang diatur dalam PP 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, khusus guru agama, harus ada 2 kompetensi yang dikuasai, yaitu: leadership dan spiritual. Jika tidak ada 2 kompetensi ini, pendidikan agama di sekolah terasa kering.

Ditambahkan, guru agama selama ini juga kurang menggunakan soft-skill secara kreatif sehingga sulit dalam membentuk lingkungan keagamaan yang mendukung. Selain itu, apresiasi dan dukungan komunitas sekolah juga sering kurang memadai. Akibatnya fasilitas dan sarana pembelajaran pendidikan agama sangat terbatas.

Lebih dari itu, pendidikan agama sebagai saranan pembentukan karakter luhur, membutuhkan figur keteladanan (uswah hasanah). Tanpa itu, pendidikan agama akan kering dan hambar.?

Sayangnya, tambah Kiai Tholchah, keteladanan justru mulai langka di sekolah. Guru agama bahkan tidak mampu menjadi teladan di sekolahnya. Banyak guru agama yang minder di sekolahnya, dan merasa lebih rendah di banding guru lain.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Sumber ? : Kementerian Agama

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Stand Majalah Bangkit PWNU DIY di Muktamar Ramai Pengunjung

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur SlawiDi ajang Muktamar ke-33 NU di Jombang, 1-5 Agustus, Majalah Bangkit PWNU DIY membuka stand di kompleks Pesantren Tebuireng dan di sekitar alun-alun Jombang. Stand tersebut menjajakan merchandise khas muktamar yakni kaos dan poster ibroh Rais Aám. Sejak dibuka sabtu sore, stand Majalah Bangkit tersebut ramai pengunjung. “Kami sampai kuwalahan melayani pengunjung yang sejak stand kami buka, tak putus-putus. Sampai-sampai, kaos khas muktamar laris manis dan habis malam itu juga,” ujar Muhlisin penjaga stand di Tebuireng, Ahad (02/08)Selain kaos, poster ibroh Rais A’am khas Majalah Bangkit juga laris manis. Poster ibroh yang paling digemari adalah poster ibrohnya KH Hasyim Asyári yang berbunyi, “Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya.“Begitu stand kami buka, beberapa jam kemudian Poster ibroh KH Hasyim Asy’ari langsung ludes dibeli para pengunjung. Hari ini, rencananya tim dari Jogja akan mengirimkan lagi kaos dan poster ibroh Rais Aám,” tambahnya.? Ditemui terpisah, senada dengan Muhlisin, Yayan penjaga stand di Alun-alun Jombang juga mengungkapkan hal yang sama. “Ini di luar dugaan. Para pengujung begitu antusias membeli merchandise yang kami jajakan. Kaos dan poster ibroh Rais Aam khas Majalah Bangkit ludes diserbu pengujung dan habis malam itu juga,” ujarnya. Menurut Pimpinan Redaksi Majalah Bangkit PWNU DIY, Muhammadun, larisnya merchandise yang dijajakan di stand Majalah Bangkit dikarenakan merchandise tersebut berkaitan langsung dengan muktamar. “Kaos muktamar dan Ibroh Rais Aám yang kami jual berkaitan langsung dengan muktamar. Bukan hanya kaos biasa saja. Selain itu, desain-desain baju kami juga beda dengan yang lain. Jadi wajar kalau antusiasme pengunjung begitu besar. (Nur Rokhim/Mukafi Niam)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Stand Majalah Bangkit PWNU DIY di Muktamar Ramai Pengunjung (Sumber Gambar : Nu Online)
Stand Majalah Bangkit PWNU DIY di Muktamar Ramai Pengunjung (Sumber Gambar : Nu Online)

Stand Majalah Bangkit PWNU DIY di Muktamar Ramai Pengunjung

Calon Jamaah Haji Lansia Bisa Ajukan Percepatan Keberangkatan

Batam, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Kementerian Agama kembali menerapkan kebijakan untuk mempercepat keberangkatan jamaah haji lanjut usia (lansia). Karenanya, bagi jamaah yang berusia  minimal 75 tahun bisa segera mengajukan percepatan keberangkatan ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota tempat mendaftar haji (domisili).

“Tahun ini masih diberikan kesempatan bagi lanjut usia minimal 75 tahun untuk mengajukan percepatan keberangkatan. Sehingga diharapkan jamaah lansia mendapat prioritas mengingat kondisi fisik yang lemah,” kata Kasubdit Pendaftaran Haji M Noer Alya Fitra (Nafit), Kamis malam (10/03) sebagaimana dikutip dari laman kemenag.go.id.

Calon Jamaah Haji Lansia Bisa Ajukan Percepatan Keberangkatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Calon Jamaah Haji Lansia Bisa Ajukan Percepatan Keberangkatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Calon Jamaah Haji Lansia Bisa Ajukan Percepatan Keberangkatan

Menurutnya, calon jamaah haji lansia yang ingin mendapat percepatan keberangkatan bahkan dapat didampingi oleh satu pendamping. “Prosedurnya dengan mengajukan ke Kemenag Kabupaten/Kota tempat pendaftaran,” tambahnya.

Selain prioritas lansia, Kementerian Agama juga telah menerbitkan  Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 29 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji Reguler yang membatasi pendaftaran haji minimal berusia 12 tahun. Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Ditjen PHU Ahda Barori mengatakan bahwa sebelumnya tidak ada aturan minimal usia untuk mendaftar haji.

“Antrian haji sudah terlalu lama di Indonesia sehingga dalam aturan yang baru, mendaftar haji harus sudah berusia 12 tahun,” terang Ahda. Bahkan,  antrian daftar tunggu haji di Sulawesi Selatan sudah mencapai 28 tahun.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Aturan lainnya,  lanjut Ahda, kuota haji diprioritaskan untuk jamaah yang belum berhaji. Kalau orang yang sudah pernah haji ingin berhaji lagi, dia baru boleh mendaftar kembali setelah sepuluh tahun dari keberangkatan terakhir.

Regulasi baru penyelenggaraan haji ini disosialisasikan kepada para kepala seksi pendaftaran haji seluruh Sumatera dan unsur Ditjen  Penyelenggaraan Haji Dan Umrah. Sebelumnya, sosialisasi telah dilakukan di Makassar untuk kawasan Indonesia Timur dan Yogyakarta untuk wilayah Jawa. Red: Mukafi Niam

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU, Quote, Hikmah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 23 Juli 2017

PBNU Kutuk Rencana Pemindahan Makam Nabi

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan upaya untuk memindahkan makam suci Nabi Muhammad harus ditentang keras oleh umat Islam.

“Allah yang akan menjaga Utusan-Nya, semoga yang akan membongkar makam beliau dilaknat Allah,” tegasnya, Rabu.?

PBNU Kutuk Rencana Pemindahan Makam Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kutuk Rencana Pemindahan Makam Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kutuk Rencana Pemindahan Makam Nabi

Kiai Said yang menyelesaikan pendidikan doktornya di Universitas Ummul Qura Makkah ini menjelaskan, memang, ada kebencian mendalam orang-orang Wahabi terhadap jamaah yang menziarahi makam Rasulullah karena hal itu dianggap syirik.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Banyak orang Arab Saudi yang sudah bepergian ke pojok-pojok dunia, tetapi belum pernah ke Madinah,” jelasnya.

Ia menggambarkan hal ini, seperti orang Indonesia yang sudah pergi ke mana-mana, tetapi belum pernah mengunjungi Candi Prambanan atau Borobudur.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebelumnya, harian The Independent melaporkan adanya proposal yang sudah disebarkan di lingkungan pengelola dua masjid suci, masjidil haram dan masjid nabawi, salah satunya berisi rencana tentang pemindahan makam nabi dari Masjid Nabawi ke pemakaman al Baqi, dan menjadikan makam nabi anonim sebagaimana makam-makam keluarga nabi yang sebelumnya sudah dipindah ke tempat tersebut. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Halaqoh, Amalan, PonPes Pondok Pesantren An-Nur Slawi