Sabtu, 21 Desember 2013

Dear Gus Dur: Pesan Kerinduan untuk Anak Bangsa

Gus, maaf saya lancang menulis surat untuk Anda, saya tahu anda pasti geli membaca surat saya ini, tapi biarlah. Gus, saya tulis surat ini karena sudah gerah dengan hiruk pikuk orang-orang saat ini. Gus, hari-hari ini rakyatmu sedang gundah gulana. Saking galaunya, semua hampir bicara tetang topik yang sama, dan entah kenapa kok saya sudah merasa fokus bahasannya semakin melebar.?

Gus, sebenarnya semua berawal dari dialog seorang, saya enggan membahas apakah ada yang sesuai atau tidak sesuai dengan ucapan beliau, tapi yang pasti, sebagian umat merasa tersinggung, dan mulailah cerita ini berkembang.?

Dear Gus Dur: Pesan Kerinduan untuk Anak Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Dear Gus Dur: Pesan Kerinduan untuk Anak Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Dear Gus Dur: Pesan Kerinduan untuk Anak Bangsa

Gus, kalau saja anda masih hidup, tolong ajarkan kami secara langsung bagaimana cara hidup rukun berdampingan, ajarkan kami bagaimana minoritas menghargai mayoritas, dan bagaimana pula mayoritas menghargai minortas. Gus, Anda memang bukan tanpa kekurangan, tapi gaya nyeleneh anda yang kadang membuat suasana lebih cair.?

Saya yakin anda pasti bilang, “Kalau ada yang menistakan agama, hukumlah dia, berilah sanksi yang setimpal dan menjadi pelajaran agar bisa lebih baik, tapi yang bikin kita tergeleng-geleng, mereka yang melakukan korupsi, mereka yang mengambil uang rakyat, menebar bom, menyakiti sesama, dan yang memakan bukan hak-nya adalah yang benar-benar menistakan agama”.?

Saya setuju Gus, kemarin sore saya melihat orang-orang marginal, duduk diantaranya seorang ibu dan anaknya yang sedang berbagi sepotong roti. Lalu apa kabar dengan para koruptor itu Gus, mereka yang membuat kemiskinan di negeri ini semakin mengakar, mereka yang mungkin taat sembahyang, berangkat ke gereja, mendekatkan dahi ke tanah, bersujud di mesjid, dan berangkat ke tempat ibadah, tapi mereka membiarkan korupsi merajalela, dan berbuat seolah tak ada apa-apa.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gus, semua orang menurut saya sekarang terlalu berani menghujat penguasa, saya tahu kritik itu perlu, tapi bukan kemudian menghina, menjelek-jelekan, atau pun menghujat. Ke mana mereka pada saat zaman Orba. Hanya Anda dan segelintir orang yang berani berhadapan dengan penguasa.?

Saya dengar cerita pedih Anda saat di depak oleh Pasukan Penguasa dan harus duduk di kursi belakang, padahal itu jelas-jelas acara anda dan NU. Tapi itulah anda Gus, ditakuti penguasa saat banyak orang takut dengan penguasa dan memilih tidak berhadapan dengan penguasa.

Gus, coba ceritakan bagaimana situasi saat anda dilengserkan. Apa jadinya jika anda juga melawan orang yang melengserkan anda. Saat itu anda dipaksa turun tahta, tapi anda tidak kemudian membalasnya dengan parlemen jalanan, atau bahkan pasukan berani mati anda yang sudah siap untuk berangkat ke Jakarta. Bukankah itu yang kita sebut Negarawan, lebih merendah untuk kemenangan bangsa dan negara. Tanpa ingin membuat semuanya menjadi gaduh dan berkembang pada hal-hal negatif yang justru berpotensi memecah belah bangsa.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gus, saya dengar sekarang hampir tiap hari, ratusan bahkan ribuan orang datang ke tempat peristirahatan Anda, untuk sekedar ziarah dan memanjatkan doa. Tapi saya yakin di hati kecil anda bukan itu saja yang anda ingin. Anda ingin mereka semua bisa hidup damai, mereka semua bisa saling menghargai, saling menghormati, saling membantu selayaknya anak bangsa yang telah ditakdirkan menjadi Seorang Indonesia.?

Mereka tetap berpegang teguh pada akidah dan tuntunan agama, tapi juga menjaga adab, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena pada dasarnya kita semua telah sepakat dengan dasar negara Pancasila dan tata aturan kebangsaan yang lain.

Gus, Anda mungkin tak akan membalas surat ini, tapi izinkan saya agar seluruh Rakyat Indonesia bisa membaca surat ini. Surat yang dibuat tanpa ada tendensi pada pihak manapun. Surat yang ditulis sebagai bentuk perhatian dan kecintaan dari warga negara terhadap bangsanya. Surat yang ingin menggugah bahwa, berjalan berdampingan, tepo seliro, tenggang rasa adalah bukan sekadar retorika, tapi sungguh sebuah falsafah hidup dan identitas bahwa kita adalah INDONESIA.

(Andi Pamungkas Rahayu)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Warta, Sunnah, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 14 Desember 2013

PCNU Jombang Siap Sambut Tim Ekspedisi Islam Nusantara

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang siap menyambut tim Ekspedisi Islam Nusantara yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). PCNU Jombang tengah melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten (pemkab) setempat untuk menjalin kerja sama dalam pelaksanaan teknis penyambutan tim Ekspedisi Islam Nusantara tersebut.

PCNU Jombang Siap Sambut Tim Ekspedisi Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jombang Siap Sambut Tim Ekspedisi Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Jombang Siap Sambut Tim Ekspedisi Islam Nusantara

"PCNU Jombang akan bekerja sama dengan Pemkab Jombang untuk menyambut tim Ekspedisi dari PBNU, yang akan datang pada tanggal 19 April 2016," tutur Ketua PCNU Jombang KH Isrofil Amar. Rencana penyambutan ini dibahas segenap pengurus PCNU Jombang, Selasa (5/4) lalu.

Jumat (8/4) ini, rombongan ekspedisi memasuki hari kesembilan. Dari rencana 40 kota, dari Aceh sampai Papua, mereka baru melewati beberapa kota di Jawa Tengah. Tim Ekspedisi Islam Nusantara berangkat dari PBNU sekitar Kamis pukul 03.00 (31/3). Tempat pertama yang dikunjungi adalah Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam rapat pengurus PCNU Jombang tersebut forum juga telah menetapkan musyawarah kerja cabang (muskercab) yang terakhir dilaksanakan pada 8 Mei 2016. Namun terkait tempat, masih akan dibicarakan kembali pada rapat selanjutnya, antara di Kecamatan Mojagung dan Kecamatan Perak, Jombang.

Isrofil Amar menjelaskan bahwa Muskercab adalah forum untuk memonitor pelaksanaan sejumlah program tahun 2015 sesuai hasil muskercab sebelumnya. Dalam muskercab nanti juga akan dibahas perencanaan program untuk tahun 2016-2017.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia menambahkan, bersama dengan penyelenggaraan muskercab juga akan dihelat rangkaian kegiatan untuk memperingati hari lahir (harlah) NU. "Pada saat itu, juga akan diselenggarakan peringatan Harlah NU," katanya

Namun sebelum itu, lanjutnya, akan dilakukan kegiatan-kegiatan pra harlah. "Berupa lomba-lomba, apel dan kegiatan sosial," lanjutnya. (Syamsul Arifin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Habib Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 11 Desember 2013

Bagaimana Menyikapi Anak-anak Kecil Bercanda di Masjid?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pengasuh rubrik Bahtsul Masail Pondok Pesantren An-Nur Slawi yang baik, ketika sembahyang ashar dan terutama sembahyang maghrib tiba banyak anak-anak kecil usia sekolah dasar berkumpul di masjid. Mereka ikut sembahyang berjamaah bersama orang dewasa. Hanya saja mereka sesekali bercanda di masjid yang menimbulkan kegaduhan.

Bagaimana Menyikapi Anak-anak Kecil Bercanda di Masjid? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Menyikapi Anak-anak Kecil Bercanda di Masjid? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Menyikapi Anak-anak Kecil Bercanda di Masjid?

Ada juga pengurus masjid dan sebagian jamaah yang memperingati mereka. Sebagian lagi ada yang membentak mereka dengan keras. Sebenarnya bagaimana sikap kita menghadapi anak-anak kecil yang sesekali bercanda di masjid? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Assalamu alaikum. wr. wb. (Musa/Jakarta).

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua. Bermain lebih tepatnya bercanda memang sudah fitrah anak-anak. Karenanya hal ini tidak bisa dihindari. Tetapi kadang candaan mereka juga menggangu kenyamanan jamaah dewasa pengguna masjid.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Lalu bagaimana kita sebagai pengurus masjid atau orang dewasa menanggapi kehadiran anak-anak itu di masjid. Berikut ini kami kutip keterangan Imam Al-Ghazali perihal kemunkaran di masjid termasuk batasan dan pengecualiannya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Anak kecil tidak masalah masuk ke masjid selagi ia tidak bermain. Bermain di masjid tidak haram bagi mereka. Membiarkan mereka bermain di masjid juga tidak diharamkan kecuali jika mereka menjadikan masjid tempat bermain, dan itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Kalau sudah demikian (masjid jadi tempat bermain), maka wajib dilarang karena bermain di masjid termasuk aktivitas yang halal jika sedikit, dan tidak halal ketika banyak. Dalilnya adalah hadits riwayat Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah SAW berdiam demi Aisyah RA yang menyaksikan anak-anak Habasyah menari dan bermain perisai dari kulit dan berperang-perangan pada hari Idul Fithri di masjid. Tidak diragukan lagi bahwa anak-anak Habasyah itu seandainya menjadikan masjid tempat bermain, niscaya mereka akan dilarang bermain. Rasulullah SAW tidak memandang anak-anak itu bermain itu sebagai sebuah kemunkaran sehingga beliau SAW ikut menyaksikannya karena saking jarang dan langkanya,” (Lihat Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Mesir, Mushtafa Albabi Al-Halabi wa Auladuh, 1939 M/1358 H, juz 2, halaman 332).

Sayid Muhammad Az-Zabidi yang dengan telaten mensyarahkan kitab Ihya Ulumiddin mengakui bahwa kehadiran orang gila, anak kecil, dan orang mabuk perlu diwaspadai. Mereka tidak bisa menguasai diri sendiri sehingga dikhawatirkan dapat mencemari masjid. Ada baiknya kita melihat sedikit catatan Sayid Muhammad Az-Zabidi berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ? ? ? ?) ? ? ? ? ?

Artinya, “Di antara kemunkaran adalah masuknya orang gila, anak kecil, dan orang mabuk ke dalam masjid. Karena, mereka tidak memiliki daya pilih. Mereka tidak bisa memelihara diri mereka sendiri. Karenanya diusahakan mereka tidak masuk ke dalam masjid. (Anak kecil tidak masalah masuk ke masjid selagi ia tidak bermain). Dan bersamaan dengan (bermainnya) itu aman dari pencemaran,” (Lihat Sayid Muhammad bin Muhammad Al-Husayni Az-Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqin bi Syarhi Ihya’i Ulumiddin, Beirut, Muassasatut Tarikhil Arabi, 1994 M/1414 H, juz 7, halaman 55-56).

Bahkan Sayid Muhammad Az-Zabidi lebih tegas mengatakan bahwa candaan anak kecil di dalam masjid bukan bagian dari kemunkaran seperti Rasulullah SAW menyikapi kehadiran anak-anak Habasyah yang bermain di masjid seperti kami kutip berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?( ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Rasulullah SAW tidak memandang anak-anak itu bermain itu sebagai sebuah kemunkaran sehingga beliau SAW) sendiri (ikut menyaksikannya karena saking jarang dan langkanya) sebagai pendidikan dan peringatan bagi umatnya bahwa di dalam agama terdapat kelonggaran-kelonggaran,” (Lihat Sayid Muhammad bin Muhammad Al-Husayni Az-Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqin bi Syarhi Ihya’i Ulumiddin, Beirut, Muassasatut Tarikhil Arabi, 1994 M/1414 H, juz 7, halaman 56).

Catatan kami, kehadiran anak-anak kecil di masjid perlu dimaklumi dan perlu pendampingan orang tua, terutama bagi anak-anak kecil di bawah usia lima tahun agar tidak mencemari masjid dengan kemungkinan najis yang ada padanya.

Berikutnya, pengurus masjid dan para jamaah perlu memaklumi bahwa kehadiran anak-anak kecil terutama anak-anak di atas lima tahun itu patut disyukuri karena mereka sudah mengawali pembiasaan di masjid sedini mungkin.

Menciptakan “masjid ramah anak” memang membutuhkan kesiapan manajemen, tata ruang, dan kesadaran tinggi seluruh jamaah. Padahal anak-anak kecil juga memiliki hak guna terhadap masjid. Adapun candaan mereka yang mengganggu kenyamanan jamaah dewasa cukup diperingati dengan lemah lembut, tidak perlu bentakan, hardikan, dan cara kasar lainnya karena cara-cara kasar dapat menciptakan trauma dan banyak mudharat lainnya.

Demikian yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Makam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 07 November 2013

Ketika Kiai Ma’shum Lasem Menangis di Buntet Pesantren

Hari itu, para kiai, santri, dan masyarakat Buntet Pesantren telah bersiap menerima kedatangan tamu agung dari Rembang, Kiai Ma’sum Lasem.

Tiba di Buntet Pesantren, Kiai Ma’shum langsung disambut dengan shalawat yang dilantunkan oleh KH Fuad Hasyim, KH Busyrol Karim, dan dua qari internasional dari Buntet Pesantren, yakni KH Fuad Zen dan KH Jawahir Dahlan.

Lantunan merdu shalawat dari kitab al-Barzanji itu diiringi dengan tabuhan genjring oleh keempat kiai tersebut. Suara genjring yang berasal dari Palembang seketika membius Mbah Ma’shum.

Saat itu pula, Mbah Ma’shum menangis sembari ngendika (berucap), “Mboten. Mboten haram. Mboten haram (Tidak. Tidak haram. Tidak haram).”

Ketika Kiai Ma’shum Lasem Menangis di Buntet Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Kiai Ma’shum Lasem Menangis di Buntet Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Kiai Ma’shum Lasem Menangis di Buntet Pesantren

Kiai Ma’shum konon pernah mengharamkan genjring karena beberapa hal. Tetapi, begitu melihat tabuhan genjring di Buntet, beliau langsung menarik pernyataannya.

Selain Mbah Ma’shum, beberapa ulama lain yang pernah datang ke Buntet Pesantren juga disambut dengan tabuhan genjring, seperti Musniduddunya Syaikh Yasin al-Fadani dan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hadis, Malang, al-Habib Abdullah Bafaqih. (Syakirnf/Kendi Setiawan)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Baca Fragmen lainnya DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Amalan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 30 Oktober 2013

Awal Tahun, Belasan Ribu Banser Apel di Surabaya

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Gerakan Pemuda Ansor akan menggelar Apel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Awal Tahun di Surabaya. GP Ansor menurunkan sedikitnya 15-17 ribu anggota Banser dari Jawa Timur dan Jawa Tengah dalam acara Apel Awal Tahun 2014.

Rencana itu dibahas PW GP Ansor Jateng yang dihadiri cabang GP Ansor se-Jateng di Kudus, Rabu (25/12).

Awal Tahun, Belasan Ribu Banser Apel di Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Awal Tahun, Belasan Ribu Banser Apel di Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Awal Tahun, Belasan Ribu Banser Apel di Surabaya

Ketua GP Ansor Solo M Anwar yang hadir dalam pertemuan itu mengatakan, acara apel Banser itu rencananya jatuh pada “Tanggal 4 Januari di Surabaya.”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain rencana apel di Surabaya, pertemuan di Kudus itu juga membahas kewajiban untuk menyelenggarakan Diklatsar (Pendidikan dan Latihan Dasar) di tiap jenjang kepengurusan di Ansor, tambah Anwar.

“Bahkan Diklatsar ini menjadi syarat untuk mendapatkan SK selain syarat penyelenggaraan sebuah konferensi,” jelas Anwar, Kamis (26/12).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk penyelenggaraan konferwil, pengurus GP Ansor harus melaksanakan minimal 4 kali Diklatsar. Hal ini dilakukan untuk memacu para pengurus agar lebih giat membangun kapasitas kader selain menggiatkan pengaderan, pungkas Anwar. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 29 Oktober 2013

PW Fatayat NU DIY Gelar Konferwil ke-XI

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Setelah pada Ahad (19/2), PW GP Ansor NU DIY menyelenggarakan Konferwil ke-XV, kini giliran PW Fatayat NU DIY yang menggelar Konferwil ke-XI di Pondok Pesantren Aji Al-Muhsin Krapyak. Tema yang diusung pada Konferwil kali ini adalah Perempuan Sehat dan Berdaulat Menuju Indonesia yang Beradab.?

PW Fatayat NU DIY Gelar Konferwil ke-XI (Sumber Gambar : Nu Online)
PW Fatayat NU DIY Gelar Konferwil ke-XI (Sumber Gambar : Nu Online)

PW Fatayat NU DIY Gelar Konferwil ke-XI

Beberapa tamu undangan yang hadir di antaranya adalah Wakil Rais Syuriyah KH Zuhdi Muhdlor, Wakil Ketua PWNU Fahmi Akbar Idris, PP. Fatayat NU, Wakil Bupati Bantul H Abdul Halim Muslih, anggota DPR RI Agus Sulistiyono, Anggota DPD RI Hafidz Asram, perwakilan wakil Gubernur DIY, TNI, Polri dan beberapa organisasi perempuan yang ada di DIY.?

Ketua PW Fatayat NU DIY, Isti Yusrianah dalam sambutannya mengungkapkan bahwa selama lima tahun kepemimpinan, PW Fatayat NU sudah berusaha semaksimal mungkin melaksanakan amanah konferensi lima tahun yang lalu.?

“Tapi karena garapan PW Fatayat sangat banyak, kami memilih skala prioritas. Ada tiga garapan yang selama ini menjadi program unggulan, yakni program keuangan keluarga, pemberdayaan ekonomi dan kesehatan reproduksi di kalangan remaja,” tegas Isti di hadapan para peserta.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada kesempatan tersebut, Isti juga menyampaikan banyak terima kasih kepada para suami yang telah mengizinkan istri-istrinya untuk berkhidmat di Fatayat NU DIY.?

“Tanpa dukungan, semangat dan motivasi para suami serta orang tua, mustahil para sahabat ini bisa maksimal dalam berhidmah di Fatayat NU,” tambah Isti.?

Setelah ini, lanjut Isti saya minta pamit dari Fatayat NU DIY. Sudah 27 tahun saya mengabdi di Fatayat. Kini saya akan ganti berkhidmah di Muslimat NU DIY.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Wakil Ketua PWNU DIY Fahmi Akbar Idri dalam sambutannya memberikan apresiasi yang tinggi kepada para ? pengurus PW Fatayat NU DIY.

“PWNU DIY sangat bangga dan menghargai kerja keras PW Fatayat NU DIY yang telah menjalankan tugas konstitusional organisasi dengan menjalankan Konferwil ke-XI,” ujar Fahmi.?

Fahmi berpesan kepada PW Fatayat NU yang terpilih nanti agar mampu meneruskan program-program baik yang telah digagas oleh pengurus sebelumnya.?

“Jangan lupa juga, pengurus ke depan harus bisa menggarap kaderisasi. Biar bisa mengimbangi GP Ansor yang gencar melaksanakan kaderisasi. Biar tertata dan terstruktur dengan baik,” tandasnya.?

Pada perhelatan Konferwil ke-XI tersebut, diramaikan juga dengan parade shalawat yang diikuti oleh pesantren-pesantren se-DIY. Juga digelar seminar tentang kesehatan reproduksi. (Nur Rokhim/Mukafi Niam)?



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pemurnian Aqidah, PonPes, Anti Hoax Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 04 Oktober 2013

UIJ Beri Perhatian Khusus bagi Penghafal Al-Quran

Jember, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Universitas Islam Jember (UIJ) terus berpartisipasi dalam melahirkan orang-orang terdidik di jagat nusantara ini. Hal ini bisa dilihat misalnya dari wisuda yang digelar perguruan tinggi milik NU Cabang Jember tersebut di hotel Bandung Permai, Sabtu (18/2).

Ada ada sekitar 350 mahasiswa diwisuda dalam rapat terbuka Senat UIJ tersebut. Mereka berasal dari Fakultas? Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Agama Islam (FAI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Pertanian dan Fakultas Hukum. Dari jumlah tersebut, peserta wisuda terbanyak berasal dari? FKIP dan FAI, yang masing-masing menyumbang? lebih dari 100 mahasiswa.

Menurut? ketua panitia wisuda, Akhmadi, wisuda kali? ini memang dibatasi karena beberapa pertimbangan.? “Peserta wisuda dibatasi karena? disesuaikan dengan kenyamanan fasilitas,” tukasnya kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi.

UIJ Beri Perhatian Khusus bagi Penghafal Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
UIJ Beri Perhatian Khusus bagi Penghafal Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

UIJ Beri Perhatian Khusus bagi Penghafal Al-Quran

Yang menarik, di wisuda ini? terdapat 17 wisudawan yang hafal Al-Quran 30 juz. Mereka adalah mahasiswa Prodi Komunikasi, FISIP. Mereka dinyatakan lulus dengan indeks prestasi (IP)? rata-rata di atas tiga koma. UIJ sendiri tidak mempunyai lembaga sayap? yang menggodok? mahasiswa peminat hafalan Al-Quran, namun itu hasil kerjasama antara UIJ dengan sebuah lembaga hafalan Al-Quran di Kabupaten Jember.

“Ini merupakan komitmen kami untuk terus mendorong lahirnya orang-orang terdidik yang hafal Al-Quran,” ujar Rektor UIJ H. Abdul Hadi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sejak beberapa tahun lalu, UIJ memberi perhatian khusus kepada calon mahasiswa penghafal Al-Quran. Mereka yang hafal Al-Quran minimal 5 juz, bisa kuliah di UIJ dengan beasiswa terbatas, yaitu membayar separuh dari biaya normal. Program tersebut diutamakan bagi anak-anak tokoh NU atau lulusan sekolah yang berafiliasi ke NU.

“Itu sebagai penghargaan kami kepada anak-anak muda yang hafal Quran sekaligus untuk merangsang kader-kader NU hafal Quran,” jelasnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Habib, Pondok Pesantren, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi