Kamis, 17 April 2014

Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sejak dahulu kala perkembangan dan kemajuan dunia Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengaruh besar pondok pesantren. Setiap pondok pesantren di Indonesia memiliki figur sentral ulama yang enggan disebut-sebut sebagai ulama, sehingga mereka lebih nyaman apabila dipanggil kiai, ajengan, guru, tuan guru, Abuya dan sebagainya.

Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga

Demikian disampaikan Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin, Rabu (16/11). Ia menulis pernyataannya itu dalam akun Facebook pribadinya.?

Menurutnya, ulama sebagai figur sentral di pondok pesantren bukan sekedar bertanggung jawab mentransfer ilmu-ilmu dasar agama, melainkan lebih penting dari itu adalah contoh teladan terbaik di hadapan para santrinya.?

“Ulama di pondok pesantren adalah teladan mereka, karena ulama adalah manusia yang mendedikasikan hidupnya untuk senantiasa meneladani Rasulullah SAW, baik dari sisi ilmunya maupun akhlaknya,” tulis Gus Ishom.

Dengan demikian, lanjutnya, dari dunia pondok pesantren akan dan telah terlahir generasi yang bermanfaat bagi manusia lainnya, yang bukan saja pandai mengutip ayat atau hadits Nabi, melainkan lebih penting dari itu menjadi "santri" yang mampu untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. sepanjang hayatnya, sehingga ia pun menjadi contoh teladan terbaik bagi masyarakat sekitarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Saya sebut sebagai pesantren asli Indonesia, karena para kyai pengasuhnya selalu memberikan keteladanan akan arti penting mencintai tanah air Indonesia. Karena bumi Indonesia adalah tempat yang wajib dijaga keamanannya agar agama dapat terjaga dengan cara diajarkan dengan sebenar-benarnya dan dilaksanakan dengan sempurna,” urainya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Terbukti tidak terhitung jasa para kiai dan para santri yang telah berjihad mengusir penjajah dari bumi kita, selain mengusir sejauh mungkin penyakit kebodohan dari jiwa manusia sebagai salah satu sebab pengganggu keamanan negara.

“Saya sebut pesantren asli Indonesia, karena sejak dahulu kala hingga kini nama-nama pondok pesantren itu meskipun terkadang ada nama Arabnya, namun lebih sering populer disebut nama daerah tempat lokasinya, seperti pondok pesantren Bangkalan (Madura), pondok pesantren Langitan (Tuban), pondok pesantren Lirboyo (Kediri), pondok pesantren Ploso (Kediri), pondok pesantren Tebu Ireng (Jombang), pondok pesantren Kempek (Cirebon), pondok pesantren Buntet (Cirebon), pondok pesantren Babakan Ciwaringin (Cirebon), pondok pesantren Leler (Banyumas), pondok pesantren Kesugihan (Cilacap) dan masih sangat banyak yang tidak bisa disebutkan lagi,” papar kiai muda asal Lampung ini.

Pendek kata, tambahnya, untuk menjadi pusat tafaqquh fiddin (pendalaman ajaran agama Islam) yang berasal dari dunia Arab maka tidak harus mengimpor apa saja yang berbau budaya Arab, melainkan bahwa dunia pondok pesantren tetap tidak pernah keluar dari berkomitmen untuk menjaga dan menjunjung tinggi budaya lokal.?

Dia menjelaskan, menjadi seorang muslim Indonesia itu tidak mesti harus seperti orang Arab dengan segala budayanya. Sehingga tepat dan benarlah ungkapan kaidah fikih, bahwa tidak patut keluar dari adat kebiasaan orang di sekitar kita sepanjang adat istiadat itu tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Pondok pesantren di Indonesia adalah hasil budaya asli bangsa Indonesia yang biasanya secara turun temurun diwariskan. Maka sebagai "barang warisan", setiap pondok pesantren yang ada mestilah dijaga dari kepunahan, harus terus dikembangkan dan "lebih dicanggihkan" agar tidak tergerus atau terpinggirkan oleh kompleksitas perkembangan zaman.?

“Jika tidak dipelihara, maka pondok pesantren "barang warisan" itu akan habis atau akan menjadi barang antik seperti keris sakti yang kehebatannya hanya bisa menjadi bahan cerita untuk berbangga-bangga dari para pewaris "Gus atau Kang" dunia pondok pesantren,” tutup Gus Ishom. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Makam, Aswaja Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 10 April 2014

Pengurus Mahasiswa Thoriqoh NU Sleman Dibentuk

Sleman, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Setelah Pengurus Wilayah Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (Matan) DI Yogyakarta dilantik tanggal 2 November 2014 lalu, disusul kemudian pelantikan Pengurus Cabang Kabupaten Sleman di Pesantren Ar-Rabithah, Sleman, Ahad Siang (23/11).

Di sela-sela pelantikan bertajuk “Pembekalan dan Pembentukan Pengurus Cabang Matan Kabupaten Sleman”, Ketua PW Matan DIY, Tomy, mengungkapkan bahwa setelah ini akan segera membentuk PC Matan di Bantul, Kota, dan Kulonprogo.

Pengurus Mahasiswa Thoriqoh NU Sleman Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus Mahasiswa Thoriqoh NU Sleman Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus Mahasiswa Thoriqoh NU Sleman Dibentuk

"Segera akan kita siapkan untuk di Kota Yogyakarta, Bantul, dan Kulonprogo. Kita harus segera membentuk komisariat-komisariat di Universitas-Universitas di Yogyakarta. Itu ke depan yang harus kita persiapkan," ujar Tomy pada Pondok Pesantren An-Nur Slawi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Ketua PCNU Sleman, KH. Nurjamil Dimyati mewakili jajaran PCNU Sleman memberikan apresiasi sebesar-besarnya atas kehadiran Matan di Kabupaten Sleman.

"Saya memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya. Semoga ke depan Matan di Sleman ikut mewarnai Sleman. Saya harap Matan itu benar-benar ada. Jangan ada tapi seolah-olah tidak ada," ujar KH. Nurjamil Masduqi yang disambut tawa para peserta.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hal senada juga diungkapkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Ar-Rabithah, KH. M. Masud Masduqi. "Saya ikut senang dengan adanya Matan di Sleman. Kalau sudah terbentuk, Pesantren ini bisa dijadikan kantornya atau semacam basecampnya," ujar KH. Masud Masduqi yang disambut tepuk tangan meriah.

Dalam acara tersebut, Ahyar Machmudi terpilih sebagai ketua PC Sleman lewat pemilihan. Untuk membentuk kepengurusannya, para peserta sepakat membentuk tim formatur yang akan ikut menentukan pengurus-pengurus PC Sleman. (Nur Rokhim/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Kiai, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 16 Maret 2014

PCNU Probolinggo Segera Produksi Air Minum AMINU

Probolinggo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dalam waktu dekat, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo akan memproduksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) AMINU. AMINU ini nantinya akan diproduksi dan berada dibawah naungan Koperasi Amanah Barokah Sejahtera.

Surat Keputusan (SK) pendirian koperasi yang dibawah binaan PCNU Kabupaten Probolinggo ini sendiri diterima langsung oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi dari Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Probolinggo Santiyono, Jum’at (18/12) malam.

PCNU Probolinggo Segera Produksi Air Minum AMINU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Probolinggo Segera Produksi Air Minum AMINU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Probolinggo Segera Produksi Air Minum AMINU

Penyerahan SK Koperasi Amanah Barokah Sejahtera ini disaksikan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo HM. Nawi dan sejumlah pengurus. Selanjutnya SK ini diserahkan oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi kepada Ketua Koperasi Amanah Barokah Sejahtera Bambang Lasmono.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Awalnya koperasi ini akan diberi nama Koperasi Amanah. Hanya saja karena ada Permenkop dan UMKM (Peraturan Menteri Koperasi dan UMKM) yang mengharuskan nama koperasi terdiri dari 3 suku kata, maka dirubahlah namanya menjadi Koperasi Amanah Barokah Sejahtera,” kata Sekretaris PCNU Kabupaten Probolinggo Khairul Ishaq.

Menurut Khairul Ishaq, pendirian koperasi yang akan memproduksi air minum ini dilakukan agar NU sebagai sebuah organisasi mampu tampil mandiri tanpa tergantung kepada organisasi dan lembaga lain didalam menjalankan program kerjanya

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Harapannya NU mampu mandiri secara financial dalam mencukupi atau menjalankan program kerjanya. Sudah diputuskan AMINU ini paling lambat bulan Pebruari 2016 sudah mulai produksi. Pasar pertama yang bisa dijadikan sasaran adalah dinas daerah instansi lainnya,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Internasional, Kajian Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 15 Maret 2014

Inilah Kepanjangan Sebutan Kata Santri

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Kata "santri" berasal dari lima huruf arab. Lima huruf arab tersebut didefinisikan oleh KH Hasyim saat memberikan mauidhoh dalam Haflah Akhiris Sanah dan Harlah Az Zahra XI berlangsung di halaman pesantren Az-Zahra Desa Sekuro Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara, Kamis (19/5) siang.

Santri berasal dari huruf sin, salik fil ibadah. Menurut kiai yang berasal dari Desa Wonorejo itu artinya jalur beribadahnya harus lurus. Dalam hal ini ia menekankan orang tua harus memberikan contoh yang baik untuk keluarganya. Sebab ia sangat prihatin dengan kondisi anak zaman sekarang yang susah diatur sehingga ibadah yang tekun harus diperkuat.

Inilah Kepanjangan Sebutan Kata Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Kepanjangan Sebutan Kata Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Kepanjangan Sebutan Kata Santri

Kedua, naibun anis syuyukh. Santri, kata dia, harus mulai menata hati dan bercita-cita untuk meneruskan perjuangan para sesepuh. Santri harus menjadikan waktu adalah ilmu sehingga tidak ada waktu yang tersisa kecuali untuk menuntut ilmu.

Setelah nun, huruf ketiga ialah ta’. Taibun anid dzunub. “Tobat dari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan,” lanjut Hasyim.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Raghibun fil khairat. Senang dengan hal-hal yang positif. “Jika ada kesempatan untuk mengaji luangkan waktu untuk mengikutinya.”

Yang terakhir, yakin ala man an’amallahu ma’ah. Menjadi santri, tegas dia, harus yakin jika Allah sudah memberikan jatah rizki tetapi wajib dibarengi dengan usaha.

Senada dengan Kiai Hasyim definisi santri juga dikemukakan oleh KH Mukhlisin. Menurut pengurus Yayasan Az-Zahra Sekuro, pertama, sitrul aurat, menutup aurat. Menutup aurat harus lahir bathin.

Anggota DPR RI ini prihatin atas kasus kejahatan seksual yang merajalela. Apalagi dengan kabar yang menimpa gadis perempuan yang diperkosa oleh banyak orang.

Berikutnya, nun, naha anil munkar. Mencegah kemunkaran. Sumber dari segala sumber kejahatan ialah miras. Karenanya khamr itu disebut dengan ummul khobaits (induk kejahatan).

Ketiga, taufiq. Santri harus kuat untuk menjaga dirinya. Keempat, ra’isul ummah. Ke depan santri adalah calon-calon pemimpin bangsa. “Untuk itu harus dipersiapkan sejak sekarang,” harap Mukhlisin.

Untuk yang pamungkas, ya’kulu qalil, saat masih santri harus tirakat. Sedikit makannya tidak berlebihan.

Hal yang sama disampaikan, Mukhlisin, wali murid dari M Ilzam Kholid. Menurut perwakilan wali itu santri itu sanggup nerusaken tuntunan rasul illahi (siap meneruskan tuntunan rasul illahi).

Dalam kesempatan itu, dirinya mengingatkan usai lulus dari SMP, SMK dan pesantren santri tidak boleh melupakan guru. “Karena tidak ada mantan guru,” pungkas Mukhlisin.

Kegiatan yang berlangsung setengah hari dimeriahkan paduan suara, tari, silat, drama serta gerak dan lagu. Tahun ini SMP Az-Zahra mewisuda 24 santri dan SMK sejumlah 54 dari jurusan Otomotif, Multimedia dan Broadcasting. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa, Budaya Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 30 Januari 2014

LDNU Pati Songsong Tahun Baru dengan Pengajian Wayang Kulit

Pati, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dalam Rangka Menyongsong Pergantian Malam Tahun Baru 2013 M atau 1434 H Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Pati bekerjasama dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI Pati) dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU Pati) mengadakan pagelaran Ngaji Wayang Kulit dengan tema “Jayalah Bangsaku”.

LDNU Pati Songsong Tahun Baru dengan Pengajian Wayang Kulit (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Pati Songsong Tahun Baru dengan Pengajian Wayang Kulit (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU Pati Songsong Tahun Baru dengan Pengajian Wayang Kulit

Kegiatan digelar pada Sabtu (29/12/12) lalu, dimulai pada pukul 19.30 di kantor Dewan Kesenian Kabupaten (DKP) Pati, dekat stadion Joyokusumo Pati jl. Tlogowungu Km. 5.

Kali ini pengurus LDNU, KNPI dan IPNU Kabupaten Pati ingin memberikan refleksi kepada masyarakat untuk selalu memperbaharui laku baik menjadi lebih baik dan mencintai ragam seni kehidupan baik seni, budaya, ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Dalam rangka tahun baru paling tidak kita harus memperbaharui perbuatan kita yang semula kurang baik harus menjadi lebih baik, sekaligus menyadari dan mencintai ragam kehidupan baik seni, budaya, ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Jadi dalam acara ini ada seni dan dakwah di sini, ada wayangan, dan pengajian. Sehingga dengan adanya ragam yang dikolaborasikan tersebut akan membuka wawasan masyarakat bahwa segala macam aspek kehidupan itu penting untuk kehidupan kita ke depan,” tutur Sa’dullah, Ketua LDNU dan KNPI Kabupaten Pati.

Dalam acara malam itu juga memberikan kesempatan kepada masyarakat yang hadir, siapapun untuk menyampaikan uneg-uneg, gagasan, ide, pemikiran-pemikiran, atau keluh-kesahnya paling tidak 7 (tujuh) menit, baca puisi, atau merefleksikan apapun yang ingin disampaikan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rentetan acara sudah dimulai pada hari Kamis (27/12) dengan pagelaran lomba pidato tiga bahasa, yakni bahasa Inggris, Arab dan Jawa yang diperuntukkan untuk umum, maksimal usia 28 (dua puluh delapan tahun). Dan pagelaran lomba tiga bahasa ini diikuti oleh 27 peserta yang terseleksi dari kalangan santri, pelajar dan mahasiswa. Pagelaran lomba dilaksanakan di gedung NU Kabupaten Pati yang dimulai pukul delapan sampai dengan pukul satu siang.

“Selain menyambut tahun baru, acara lomba ini dilakukan guna menggali potensi masyarakat Kabupaten Pati, baik pelajar, santri dan mahasiswa untuk membangun dan menumbuhkembangkan semangat berpidato tiga bahasa,’ tutur Muhammad Mubarok, Ketua IPNU Kabupaten Pati.

“Kita ingin memberikan motivasi pada kader-kader penerus atau para pemuda/pelajar biar semangat belajar tekhnologi dan bahasa. Menguasai bahasa maka akan menguasai dunia,” tambah Sa’dullah.

Adapun penyerahan hadiah dilaksanakan bersamaan dengan Pagelaran Ngaji Wayang Kulit. Sa’dullah juga menyampaikan bahwa dalam setiap kegiatan, IPNU, LDNU dan KNPI Kabupaten Pati selalu bekerjasama dan selalu berdampingan. Misal seperti mengadakan renungan di malam kemerdekaan, 17 Agustus dan Sumpah Pemuda guna merefleksikan dan merenungi anugerah kemerdekaan yang telah diberikan Allah SWT.

“Pada pergantian malam tahun baru kita mengadakan renungan dan do’a istighatsah, setelah Isya’ untuk mendo’akan bangsa ini supaya orang yang memegang peran penting di negara ini menjadi sadar, lebih baik dan bangsa ini lebih makmur,” tambah Sa’dullah.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muhamad Zakka

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 19 Januari 2014

120 Pelajar Ikuti Sanlat IPNU-IPPNU Sorong

Sorong, Pondok Pesantren An-Nur Slawi 

Sekitar 120 pelajar mengikuti pesantren kilat yang digelar Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan (IPNU) dan PC Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Sorong, Papua Barat pada Senin-Rabu (22-24/8). 

Kontributor Pondok Pesantren An-Nur Slawi di Sorong Zaenal Arifin mengabarkan, peserta tersebut adalah siswa-siswi MTs Al Maarif 1 Aimas beserta santriwan-santriwati Pondok Pesantren Minhajuth Tholibin. Pesantren tersebut sebagai tuan rumah kegiatan tersebut. 

120 Pelajar Ikuti Sanlat IPNU-IPPNU Sorong (Sumber Gambar : Nu Online)
120 Pelajar Ikuti Sanlat IPNU-IPPNU Sorong (Sumber Gambar : Nu Online)

120 Pelajar Ikuti Sanlat IPNU-IPPNU Sorong

Dalam kegiatan tersebut diharapkan peserta lebih mengenal dan mencintai agamanya, sekaligus penanaman faham Ahlussunnah wal-Jamaah sejak dini bagi mereka.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Redaktur: Abdullah Alawi 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Doa, Tokoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pergunu Jabar Imbau Guru Kenalkan Sejarah dengan Menarik

Tasikmalaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Wakil Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat Saepuloh mengimbau guru-guru NU, terutama guru sejarah, harus bisa menyampaikan pelajaran dengan menarik serta bisa memahamkan peserta didik bahwa sejarah itu penting dalam konteks kekinian.

Menurut Saepuloh menarik di sini bisa dengan berbagai cara, misalnya mempelajari sejarah tidak melulu melalui teks, tapi film. Bisa juga anak-anak diajak turun langsung ke tempat-tempat bersejarah. “Bisa juga anak-anak itu belajar sejarah dengan mempraktikan sendiri dalam seni peran seperti teater supaya bisa lebih mengen,” terangnya.

Pergunu Jabar Imbau Guru Kenalkan Sejarah dengan Menarik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jabar Imbau Guru Kenalkan Sejarah dengan Menarik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jabar Imbau Guru Kenalkan Sejarah dengan Menarik

?

Saepuloh juga mengimbau guru NU untuk mengajarkan sejarah lokal dimana mereka tinggal supaya tidak terasing di tempat tinggalnya sendiri. “Ajarkanlah sejarah supaya anak tahu perjuangan leluhurnya,” katanya melalui pers rilis selepas menghadiri Seminar Sejarah; Sejarah Kota Tasikmalaya: Pertumbuhan dan Perkembangan Kota di Priangan Timur. Kegiatan tersebut berlangsung di Tasikmalaya, Hotel Harmoni pada Sabtu, (18/10). ?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jangan sampai, lanjut dia, orang yang lebih tahu sejarah kita justru orang lain. Jika itu terjadi bisa saja mereka melakukan penyelewengan sehingga merugikan pihak yang ditulis.

Pada seminar yang diselenggarakan Pergunu Jawa Barat bekerja sama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung Kemendikbud RI dan Pemerintah Kota Tasikmalaya tersebut, hadir, Kepala BPNB Bandung Drs. Toto Sucipto, Wakil Ketua Pergunu Jawa Barat H. Saepuloh, M.Pd., dan Kepala Dinas Budaya, Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga Drs. Undang Hendiana, M.Pd.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Prof. Dr. Sobana Hardjasaputra, MA., Muhajir Salam, S.S., Dr. Agus Mulyana, M.Hum., Dr. Didin Wahidin, M.Pd. (Ketua ISNU Jawa Barat), Drs. Heru Erwanto, dan Rahmat Mahmuda., SH., M.M.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Budaya, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Drs. Undang Hendiana, M.Si., menyambut baik kegiatan tersebut yang bertujuan untuk menggali dan memahami perkembangan kota Tasikmalaya, “Semoga kegiatan ini ada out put yang baik bagi kota Tasikmalaya,” katanya.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 45 guru sejarah dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), 45 orang budayawan, serta 10 orang dari dinas Budaya, Pariwisata, Pemuda,? dan Olah Raga Pemkot Tasikmalaya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Makam Pondok Pesantren An-Nur Slawi