Rabu, 06 Maret 2013

Fatayat Harus Terus Gerakkan Dakwah Islam Rahmatan Lilalamin

Cianjur, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Gerakan dakwah yang dijalankan NU adalah dakwah Islam rahmatan lilalamin. Dakwah NU ini juga sinergis dengan nilai dan budaya Nusantara, sehingga kehadiran Islam yang didakwahkan NU selalu sinergis untuk membangun masyarakat setempat. Fatayat mesti terus menggerakkan ? dakwah yang sudah dijalankan NU tersebut.

Fatayat Harus Terus Gerakkan Dakwah Islam Rahmatan Lilalamin (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat Harus Terus Gerakkan Dakwah Islam Rahmatan Lilalamin (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat Harus Terus Gerakkan Dakwah Islam Rahmatan Lilalamin

Demikian disampaikan Dr H Asad Said Ali, Wakil Ketua Umum PBNU, dalam acara pembukaan Halaqoh Islam Indonesia dan Workshop Aswaja yang diselenggarakan PP Fatayat NU di Ciloto Cianjur, Kamis, (26/2).

"Gerakan dakwah NU adalah rahmatan lil alamin bukan anarki. Makanya, ajaran Islam yang didakwahkan adalah khas nusantara yang menjunjung tinggi keberadaan nilai dan budaya,” ujar As’ad.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Ketua Umum PP Fatayat, Ida Fauziyah mengatakan bahwa acara ini merupakan kelanjutan dari pelantikan Forum Daiyah Fatayat (Fordaf) pada 21 Februari 2015 lalu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Acara ini bagi Fatayat sangat penting, karena Fatayat juga harus mampu merumuskan langkah langkah dakwah yang terukur dan sistematis supaya tidak gagap dalam merespon gerakan anarkis," tegas Ida Fauziyah.

Dalam acara kali ini, peserta datang dari Pengurus Wilayah Fatayat di seluruh Jawa. Semangat para peserta membuat cuaca alam yang dingin menjadi khidmat dan penuh kehangatan. (Muyassaroh/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, Ulama, Kajian Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 02 Maret 2013

Jika Tak Memungkinkan, Sebaiknya Ibu Hamil Tidak Naik Pesawat

Sidoarjo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Perempuan hamil yang bepergian dengan pesawat untuk keluar kota dengan jarak tempuh yang cukup jauh, tentu lebih efektif dari segi waktu. Tetapi, transportasi pesawat menjadi alternatif dengan catatan kondisi kehamilannya dipastikan sehat tanpa komplikasi atau penyakit penyerta lainnya.

"Jika dipaksakan terbang dalam kondisi kehamilan yang tidak memungkinkan, bisa terjadi risiko gangguan ringan hingga berat. Seperti keguguran pada kehamilan awal, lahir sebelum waktunya, sumbatan pembuluh darah, sampai dehidrasi yang dapat berakibat fatal bagi kondisi ibu dan janin," kata dokter yang bertugas di Rumah Sakit NU Sidoarjo, Umi, Jumat (12/2).

Jika Tak Memungkinkan, Sebaiknya Ibu Hamil Tidak Naik Pesawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Tak Memungkinkan, Sebaiknya Ibu Hamil Tidak Naik Pesawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika Tak Memungkinkan, Sebaiknya Ibu Hamil Tidak Naik Pesawat

Umi menyarankan sebaiknya pada saat kehamilan berusia di atas 12 minggu di bawah 36 minggu, dan sampai 32 minggu untuk hamil kembar. Pada usia kehamilan di atas 12 minggu, ibu hamil sudah melewati masa-masa mual, kondisi kehamilan sudah lebih stabil serta kondisi fisik sang ibu sudah lebih kuat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebelum usia kandungan mencapai 12 minggu, sebaiknya ibu hamil tidak menggunakan transportasi pesawat. Dikhawatirkan, kondisi ibu hamil dapat menimbulkan risiko gangguan lainnya bahkan bisa terjadi keguguran. Karenanya sebelum bepergian sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu untuk memastikan sejauh mana kondisi kesehatan ibu dan kandungannya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Terutama jika sebelumnya pernah menderita beberapa hal, seperti pernah mengalami perdarahan selama kehamilan, kencing manis, rasa mual berlebihan di pagi hari, pernah keguguran, hipertensi, penyakit jantung hingga preeclampsia/eklampsia," terang dokter yang bertugas di Rumah Sakit NU itu.

Risiko gangguan ringan bisa dialami seperti perut kembung, telinga berdenging, perut berkontraksi, hingga kram dan pembengkakan pada kaki atau mata kaki. Kondisi itu umumnya terjadi selama penerbangan di atas 3-5 jam. Sementara gangguan yang lebih serius berupa pembekuan darah (blood clots/thrombosis).

"Gejala terjadinya pembengkakan, nyeri dan merah pada bagian belakang kaki terutama di bawah lutut. Penyebab kedua gangguan itu adalah kurang lancarnya peredaran darah," jelasnya.

Menurutnya, bagi ibu hamil yang hendak naik pesawat sebaiknya jauh hari sebelum berangkat harus periksa ke dokter kandungan terlebih dulu, mencari informasi seputar rumah sakit atau pertolongan medis di tempat tujuan pada hari keberangkatan dan saat penerbangan, tiba di bandara jauh lebih awal agar lebih santai ketika melalui proses check-in dan securiti.

Terburu-buru di Bandara, sambung Umi, dapat menimbulkan stres dan itu bukan awal yang baik untuk memulai penerbangan terutama bagi ibu hamil. Begitu sampai di pesawat, usahakan untuk ke toilet terlebih dahulu. Hal itu berguna jika ternyata penerbangan pesawat ditunda dan penumpang sudah tidak diperbolehkan ke toilet.

"Beritahu petugas di konter check in Bandara tentang keadaan Anda agar mereka dapat mempersiapkan kebutuhan Anda sebaik mungkin, kenakan pakaian yang longgar dan nyaman, sepatu yang nyaman dan compression stocking, kenakan sabuk pengaman tepat di bawah perut, minum air dan jus yang banyak untuk menghindari dehidrasi selama penerbangan," tegasnya. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa, Cerita, AlaSantri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 26 Februari 2013

LPPNU Kudus Pelopori Kedaulatan Pangan Nahdliyin

Kudus, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kedaulatan pangan warga NU mendapat prioritas bagi program kerja Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kudus. Program kerja ini diarahkan untuk mengatasi tantangan dan permasalahan ekonomi dan pertanian demi menopang kemandirian pangan terutama warga NU.

LPPNU Kudus Pelopori Kedaulatan Pangan Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
LPPNU Kudus Pelopori Kedaulatan Pangan Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

LPPNU Kudus Pelopori Kedaulatan Pangan Nahdliyin

“Memanfaatkan lahan seperti pekarangan dengan menanam tanaman seperti sayuran yang biasa diperlukan bisa untuk mencukupi kebutuhan sekaligus mengurangi pengeluaran biaya sehari-hari,” ujar Ketua LPPNU Kudus Rois Noor kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi di sela sarasehan petani LPPNU di pesantren Al-Mawaddah desa Honggosoco Jekulo Kudus, Selasa (15/4).

LPPNU, tambah Rois, akan membuka outlet guna mewadahi pemasaran produk dan hasil pertanian para petani binaan NU. “Tentu saja hasil pertanian yang dipasarkan berupa produk organik.”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rois menambahkan, selama ini LPPNU mendampingi petani untuk mengembangkan pertanian organik sehingga outlet ini nantinya bisa menjadi akses pasar hasil pertanian mereka.

Wakil Ketua PCNU Kudus Fajar Nugroho menegaskan, NU Kudus terus mendukung tiga program unggulan yang sudah digariskan LPPNU Kudus, pertanian organik, kemandirian pangan, dan outlet hasil bumi sebagai upaya pemberdayaan kaum tani.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sarasehan petani bertajuk “Sosialisasi Badan Usaha Milik Petani (BUMP)” ini menghadirkan Ketua PW LPPNU Jawa Tengah Edi Waluyo sebagai narasumber. Acara ini dihadiri pengurus cabang NU Kudus, kelompok petani binaan, dan pengurus LPPNU sekaresidenan Pati. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tokoh, Makam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 21 Februari 2013

Habib Abdurrahman: Jangan Mudah Mengafirkan dan Membid’ahkan

Kotawaringin Barat, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Majlis dzikir dan shalawat Rijalul Ansor Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah menyelenggarakan kegiatan rutin di Masjid Nurul Qolbi Kelurahan Baru Pangkalan Bun, Ahad (7/1) malam, Agenda sebulan sekali tersebut dihadiri para pengurus Gerakan Pemuda Ansor Kobar dan warga sekitar. 

Habib Abdurrahman: Jangan Mudah Mengafirkan dan Membid’ahkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Abdurrahman: Jangan Mudah Mengafirkan dan Membid’ahkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Abdurrahman: Jangan Mudah Mengafirkan dan Membid’ahkan

“Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman dan menanamkan amalan Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja) khususnya kepada generasi muda Islam," Muhammad Sulthon, PC Ansor Muhammad Sulthon,  Wakil Sekretaris PC GP Ansor Kobar. 

Selama kegiatan, panitia menghadirkan Habib Abdurrahman bin Husein Al Qodiri. Dalam penjelasannya, ia menekankan agar generasi muda NU dan umumnya seluruh generasi Islam agar waspada terhadap paham radikalisme. Di antara cirinya adalah mudah mengafirkan dan menyatakan pihak lain melakukan bid’ah dalam ibadah. 

"Jangan mudah mengafirkan orang lain. Dan jangan mudah membidahkan ibadah orang lain, " jelas Habib. 

Habib Abdurrahman juga mengatakan pentingnya memberikan pemahaman akidah Aswaja kepada masyarakat umum khususnya generasi muda Islam. Hal ini dimaksudkan agar mereka selamat dari ancaman paham yang bisa memecah kerukunan umat beragama serta mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Sekarang banyak ideologi yang diterapkan oleh kelompok tertentu untuk mempengaruhi khususnya generasi muda. Mereka mencekoki agar para pemuda benci terhadap amalan-amalan yang merupakan warisan para alim ulama dan kiai," tandasnya. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Lebih jauh Habib Abdurrahman memberikan penjelasan betapa berbahaya jika para pemuda tidak dibentengi dengan pengetahuan agama yang benar.”Jika salah, maka maulidan, yasinan, tahlilan dan ziarah kubur, akan mereka anggap haram,” tegasnya. (Suhud/Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kiai, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 20 Februari 2013

Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Warna lokal atau penyebaran Islam dengan menghargai budaya setempat agar mudah diterima oleh masyarakat ternyata bukan monopoli Islam Indonesia. Marokko, salah satu negera dengan penduduk mayoritas muslim juga sangat menghargai tradisi lokal.

Informasi ini dikemukakan oleh Nasrullah Jasam, MA, alumni Ponpes Assidiqiyah Jakarta yang kini sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Abdul Malik Sa’di Tetauan Marokko, saat berkunjung ke Pondok Pesantren An-Nur Slawi? pekan lalu.

Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko

Diceritakan oleh Nasrullah bahwa banyak tradisi Islam di Marokko yang mirip dengan Indonesia seperti dalam ritual orang meninggal seperti peringatan tujuh hari, 40 hari sampai dengan haul. Contoh lain, kalau di Indonesia ada istilah bubur merah, bubur putih, di Marokko pada momen-moment tertentu ada makanan tertentu, dan hanya keluar pada saat itu. Pada hari Jum’at, mereka makan kus-kus, makanan seperti tumpeng. Pada bulan Ramadhan, di Indonesia ada makanan tertentu, hal yang sama juga terjadi di Marokko.

“Jadi ada benang merah. Kalau memang Syeikh Maghribi itu betul dari Marokko mungkin bisa terlacak, tapi sampai sekarang asal Islam di Indonesia masih kontraversi, jadi saya kira hampir sama dengan Indonesia, tidak puritan seperti di Arab Saudi, sangat kultural dan ramah terhadap budaya lokal,” tandasnya.

Dijelaskannya bahwa wilayah Marokko merupakan wilayah yang terarabisasi atau musta’rob, bukan Arab murni, sama juga dengan Mesir dan Aljazair. Ketika Islam masuk dan ingin diterima secara ramah, maka konsekuensinya seperti yang terjadi di Indonesia dimana kulitnya tidak dipertahankan tetapi substansi ajarannya tidak dirubah.

Seperti juga di Indonesia, tasawwuf juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, Nasrullah menuturkan bahwa secara pribadi ia? pernah mengikuti ritual tasawwuf di Marokko, yaitu tarekat Kodiriah Buziziyah. Pada bulan maulud yang di Indonesia dirayakan dengan meriah, hal yang sama juga dilakukan di Marokko, ada tarekat yang melakukan semacam kholwat selama 30 hari, ada yang menghadiahi sapi yang besar dan gemuk.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Justru model seperti ini banyak menarik orang-orang bule, karena Marokko kan berdekatan dengan Eropa, untuk belajar Islam. Jadi nuansa mistiknya kuat. Katakanlah daerah-daerah seperti Marakhes, kalau kita ke sana kita rasakan mistisnya sangat kuat,” imbuhnya.

Kebebasan Beragama Dihargai

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam beberapa aspek, kebebasan dalam menjalankan agama juga dihargai. Setiap warga negara diajarkan tentang ajaran Islam, tetapi negara tidak memaksakannya. Alumni Ponpes Assidiqiyah tersebut memberi contoh meskipun ia kuliah di fakultas Ushuluddin yang notabene merupakan fakultas agama, tetapi mahasiswa tidak diwajibkan untuk berjilbab dan jika berjilbab, ini merupakan atas kesadaran pribadinya, bukan atas paksaan. “Saat ini, para pemikir Marokko sangat bangga bahwa Islam di Marokko paling moderat. Terlepas dari fihak lain setuju atau tidak,” imbuhnya.

Hari Raya Selalu Bersamaan

Jika di Indonesia, berlebaran bisa diawali pada hari yang berbeda, jangan harap hal tersebut terjadi di Marokko. Meskipun ada pendapat yang berbeda tentang penentuan hari lebaran, tetapi ketika pemerintah memutuskan, semua warga negara mengikutinya. Ini memang berkaitan dengan perangkat UU yang memungkinan negara bisa menentukan kapan puasa diawali dan diakhiri. Dalam UU Marokko, setiap warga negara wajib berpuasa Ramadhan, sebagai konsekuensinya, jika ia berlebaran duluan sementara negara masih belum memutuskan puasa diakhiri, ia bisa dijerat UU.

“Ada komitmen bahwa pemimpin spiritual adalah raja sebagai amirul mukminin dan kebijakan harus keluar dari sana. Jadi saya kira kewibawaan pemerintah yang membedakan. Kalau di Indonesia, sebagai contoh dalam kasus lebaran. Kalau ada ormas yang menyatakan lebaran berbeda, Depag tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang perangkat hukumnya tidak ada. Tapi kalau disana tidak, kalau diputuskan hari ini, ya harus hari ini karena memang UU-nya jelas. Ini peranan pemerintah yang paling signifikan,” tandasnya.

Dijelaskannya secara umum, penduduk Marokko mengikuti mazhab Maliki, baik para pengikut salafy atau tradisional. Hal ini terefleksikan dari wudhunya, bahkan dari wiridan yang mereka baca setiap sholat sampai dengan sholat taraweh semuanya sama, mungkin hanya lagunya saja yang berbeda.

Kesempatan Beasiswa

Sampai sekarang, baru sekitar 40-an mahasiswa Indonesia yang belajar disana. Sebagian besar belajar pada tingkat pascasarjana dengan komposisi 20 persen belajar S1, 30 persen belajar S2 dan 50 persen studi doktoral.

Pemerintah Marokko memberikan jatah 15 orang untuk beasiswa disana Marokko, tapi selama ini tidak berjalan lancar karena ada tumpang tindih dalam pengelolaannya. Depag menerima dan yang daftar sendiri juga diterima. Namun kebijakan ini sudah diperbaiki dengan kebijakan satu pintu melalui kedutaan Marokko di Indonesia tetapi difasilitasi oleh Depag.

Sayangnya, karena komunitas NU masih kecil, mereka belum melembaga seperti di Mesir dengan KMNU-nya. “Karena komunitas NU-nya terlalu kecil, kalau kita membentuk nanti malah menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan dari teman-teman yang berhaluan lain. Jadi kita tetap personal saja, tetapi sering mengadakan halaqah, umpamanya informasi tentang NU bisa kita baca dari Pondok Pesantren An-Nur Slawi, gusmus.net, atau gusdur.net,” paparnya. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 06 Januari 2013

Taklukkan Nur Iman Sleman 2-4, Nurul Islam Jember Gapai Final LSN

Sidoarjo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Babak semifinal yang mempertandingkan antara tim dari Pondok Pesantren (PP) Nurul Islam Jember berhadapan dengan PP Nur Iman Sleman di Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (3/12). PP Nurul Islam Jember berhasil menaklukkan PP Nur Iman Sleman Yogyakarta dengan skor akhir 4-2 untuk menuju final Liga Santri Nusantara 2015.

Babak pertama pertandingan nampak gesit. Kedua tim saling merebut bola. Di menit ke 15 PP Nurul Islam berhasil mencetak gol atas tendangan Alfiano nomer punggung 9. Di menit 32, Agil tim PP Nurul Islam kembali mencetak gol hingga babak pertama berakhir dengan skor 2-0.

Taklukkan Nur Iman Sleman 2-4, Nurul Islam Jember Gapai Final LSN (Sumber Gambar : Nu Online)
Taklukkan Nur Iman Sleman 2-4, Nurul Islam Jember Gapai Final LSN (Sumber Gambar : Nu Online)

Taklukkan Nur Iman Sleman 2-4, Nurul Islam Jember Gapai Final LSN

Babak kedua pertandingan semakin seru. Keduanya saling menunjukkan kemampuannya. Menit ke 41, PP Nurul Islam kembali mencetak gol berkat tendangan Alfiano. Tak mau kalah, tim PP Nur Iman Sleman mengejar ketinggalannya dan berhasil dimanfaatkan oleh Aldy hingga gol pada menit ke 46 dan skor menjadi 3-1.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menit ke 75, PP Nurul Islam kembali melakukan gerakan dan akhirnya berhasil mencetak gol atas tendangan Ardiansyah. Menit ke 78, PP Nur Iman Sleman berhasil mencetak goal yang disuting oleh Rahmad sehingga skor menjadi 4-2 sampai peluit akhir ditiup wasit.

Pelatih sekaligus manajer PP Nurul Islam Jember, Sutikno mengatakan, meskipun cuaca di Gelora Delta Sidoarjo cukup panas, namun anak asuhannya mampu menunjukkan permain yang baik. "Alhamdulillah, anak-anak bisa menerapkn apa yang distrategikan sehinga goal bisa tercipta," kata Sutikno kepada wartawan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dirinya berharap pada final nantinya bisa menampilkan pertandingan dengan lebih baik lagi. Menurutnya, menang bukanlah hal yang mudah. Karena skill dari kedua tim sama baiknya. "Hal ini karena keberuntungan berpihak ke kami sehingga bisa menang. Semoga tim kami bisa juara, minimal selisih dua gol," harapnya.

Sutikno mengakui, bahwa tim yang akan berhadapan pada final nantinya sangat bagus. Namun, dirinya menanggap semua lawan sama, yang terpenting penampilannya. "Semua lawan kita anggap sama semua. Nanti kami akan menerapkan sistem full menyerang agar pada saat ditonton menjadi enak. Mudah-mudahan tim kami menjadi juara," pungkas Sutikno. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 13 November 2012

Dicatut, Rais Syuriyah NU Sumenep Tak Merasa Restui Pendirian FPI

Sumenep, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Keluarga KH Ahmad Basyir, Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Guluk-Guluk, Sumenep, memberikan klarifikasi terkait beredarnya cupilkan gambar (screen capture) status Facebook milik Ibrahim Muzammil yang menyebut Kiai Basyir memberi doa dan restu kepada DPW FPI Sumenep.

“Setelah saya matur kepada KH Ahmad Basyir apakah dalam beberapa bulan terakhir ada seseorang yang sowan untuk semacam minta izin, mohon restu atau sambungan doa untuk mendirikan FPI di Sumenep, jawaban beliau sama sekali tidak ingat. Tidak merasa,” tulis Kiai Ainul Yaqin, putra Kiai Basyir di akun Facebook Acing Muhammad Ainul Yaqin, Jumat (20/1).

Dicatut, Rais Syuriyah NU Sumenep Tak Merasa Restui Pendirian FPI (Sumber Gambar : Nu Online)
Dicatut, Rais Syuriyah NU Sumenep Tak Merasa Restui Pendirian FPI (Sumber Gambar : Nu Online)

Dicatut, Rais Syuriyah NU Sumenep Tak Merasa Restui Pendirian FPI

Apabila ada unsur pengurus Front Pembela Islam (FPI) yang merasa telah sowan kepada Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep itu terkait hal dimaksud tapi merasa disanggah, sebaiknya yang bersangkutan sowan lagi.

“Sebaiknya yang bersangkutan sowan lagi kepada beliau dengan disaksikan keluarga beliau dan pengasuh PP Annuqayah lainnya karena beliau dikaitkan dengan FPI dengan kapasitas beliau sebagai pengasuh PP Annuqayah,” pintanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Hal tersebut menjadi penting agar upaya dakwah yang sesungguhnya menjadi tanggung jawab setiap muslim, dengan batas kemampuan dan pilihan jalan dakwah yang tidak mesti sama, tidak justru menjadi akar fitnah yg pasti hanya akan memecah belah,” pungkasnya.

Beberapa waktu lalu, beredar spanduk berisi penolakan terhadap Front Pembela Islam (FPI) di Kabupaten Sumenep. Spanduk tersebut tersebar di titik strategis seperti di depan Pasar Anom, di pertigaan Hotel Safari, dan di sejumlah sudut kota.

Dalam spanduk yang disebarkan Kesatuan Aksi Muda Sumenep (Kamus) itu tertulis “FPI Biang Kegaduhan Masyarakat. Tolak FPI di Sumenep!”

Menanggapi beredarnya spanduk penolakan FPI di Jalan Trunojoyo Kecamatan Kota Sumenep, Bidang Perizinan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Sumenep, Fajarussalam menyatakan spanduk tersebut tidak berizin. (M Kamil Akhyari/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Habib, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi