Kamis, 12 Juli 2007

Ini Metode KH Ali Mustafa Yakub Memahami Sunah Rasulullah SAW

Tepat satu Januari 2016, Prof Dr KH Ali Mustafa Yakub mencetak ulang bukunya berjudul Ath-Thuruqus Shahihah fi Fahmis Sunnatin Nabawiyyah. Bertepatan dengan 20 Rabiul Awwal 1437 H, pendiri Ma’had Aly Darus Sunnah Ciputat ini meluncurkan buku cetakan kedua. Buku ini memuat metode yang digunakan oleh para ulama di dalam memahami sejumlah kemusykilan yang terdapat di dalam hadits-hadits Rasulullah SAW.

Selain teori, pakar hadits Indonesia ini menyebut sejumlah contoh yang berkaitan dengan metode yang ditawarkan. Buku ini memuat 239 halaman. Karya berbahasa Arab ini diterbitkan oleh Maktabah Darus Sunnah-Yayasan Wakaf Darus Sunnah Ciputat.

Ini Metode KH Ali Mustafa Yakub Memahami Sunah Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Metode KH Ali Mustafa Yakub Memahami Sunah Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Metode KH Ali Mustafa Yakub Memahami Sunah Rasulullah SAW

Dalam pendahuluan, Kiai Ali menyebutkan bahwa bukunya ini dibagi ke dalam tiga pembahasan. Pada pembahasan pertama, ia mengupas masalah kebahasaan dan pemaknaan sebuah kata seperti majaz, illat hadits, teori takwil di kalangan ulama, tradisi Arab di dalam hadits, posisi geografis, kondisi sosial, dan sababul wurud.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara pada bab kedua, buku ini memuat sejumlah riwayat hadits yang berbicara satu tema dengan sudut pandang berbeda. Sehingga tampak terjadi kontradiksi antara satu dan lain riwayat. Kiai Ali mencoba menawarkan metode pemecahan problematika hadits seperti ini pada bab kedua.

Sedangkan pada pembahasan ketiga, buku ini lebih jauh mengangkat masalah (yang tampaknya) kontradiksi antara hadits dan Al-Quran, hadits dan hadits, serta antara hadits dan nalar. Di bab ini lagi-lagi Kiai Ali mengangkat masalah dan mencoba menawarkan metode pemecahannya.

Dalam pendahuluan Kiai Ali mengatakan, kajian hadits Nabi Muhammad SAW sangat penting karena hadits (sunah-Pen) merupakan sumber kedua (setelah Al-Quran) bagi hukum Islam. Kajian hadits umumnya terbatas pada tiga tema pokok. Pertama, pembahasan terkait musthalah hadits. Dari kajian ini umat Islam dapat mempertahankan posisi hadits dari serangan kelompok pengingkar sunah dan kalangan orientalis. Kedua, pembahasan terkait takhrij hadits, kritik matan dan sanad hadits. Ketiga, pembahasan terkait cara memahami hadits.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Lebih lanjut Kiai Ali mengatakan, tanpa menguasai tiga pokok masalah di dalam kajian hadits makna dari hadits sebagai sumber hukum Islam tidak akan bisa dipahami. Kiai Ali sendiri menemukan kekeliruan sebagian orang yang hidup di zaman ini dalam memahami hadits Rasulullah SAW karena mereka tidak mengetahui (dan mengamalkan) metode memahami hadits Rasulullah SAW. “Lebih jauh dari itu, ketidaktahuan atas metode itu menyebabkan sebagian orang ‘tersesat’ dan ‘menyesatkan’.”

Walhasil, orang sekarang menurutnya sangat membutuhkan teori dan metode di dalam memahami hadits agar tidak jatuh dalam pemahaman yang keliru.

Buku ini memuat kutipan-kutipan pandangan sejumlah ulama. Secara jujur, Kiai Ali mengakui bahwa teori dan pemahaman akan hadits tanpa penyebutan referensi di buku ini merupakan pandangan pribadinya.

Menariknya, buku ini mengangkat contoh-contoh hadits Rasulullah SAW yang kerap dipahami secara keliru oleh sebagian orang sekarang. Sebut saja hadits perihal sorban, jubah, jenggot, tasyabbuh (meniru) dengan kalangan non-Muslim, hukuman mati untuk mereka yang murtad, batasan antara agama dan tradisi Arab, siksaan untuk ahli kubur karena tangisan keluarganya yang masih hidup, dan sejumlah tema menarik lainnya.

Buku ini diakhiri dengan deretan referensi yang digunakan Kiai Ali dalam menulis buku ini dan biografi singkat Penulis yang tidak lain alumni Pesantren Tebuireng Kabupaten Jombang. Sebelum penutup, Kiai Ali dalam beberapa kesimpulannya menyebutkan bahwa upaya memahami hadits tidak boleh berpatokan pada sebuah riwayat, tetapi harus melihat seluruh riwayat hadits dengan tema yang sama atau berkaitan.

Dalam upaya memahami hadits seseorang juga harus mempertimbangkan aspek geografis, kondisi sosial, dan tradisi Arab ketika hadits diucapkan Rasululah SAW. Karenanya, “Pemahaman hadits yang bersandar hanya pada satu riwayat atau tanpa memerhatikan illat (‘sebab’ hukum) di hadits kerap mengakibatkan kesalahpahaman terhadap hadits tersebut bahkan mengakibatkan ‘tersesat’ dan ‘menyesatkan’ di dalam urusan agama.” (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 05 Juni 2007

Santri Al-Muayyad Tingkatkan Kapasitas Manajemen

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Puluhan santri Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta yang terpilih menjadi anggota Ikatan Pelajar Madrasah Al-Muayyad (IPMA), mengikuti Latihan Ketrampilan Manajemen Pelajar (LKMP) yang diadakan di komplek pesantren Al-Muayyad, Kamis-Ahad (19-22/12).

Santri Al-Muayyad Tingkatkan Kapasitas Manajemen (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Al-Muayyad Tingkatkan Kapasitas Manajemen (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Al-Muayyad Tingkatkan Kapasitas Manajemen

Kegiatan yang diadakan setiap tahun itu bertujuan untuk menempa dan membekali calon pengurus IPMA yang baru untuk masa bakti 2014.

LKMP diselenggarakan Yayasan Lembaga Pendidikan Al-Muayyad bekerjasama dengan Keluarga Alumni Ma’had Al-Muayyad (Kamal). Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan jiwa kepemimpinan dalam diri santri.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Wati salah seorang mantan ketua IPMA madrasah diniyah menjelaskan, setiap calon anggota IPMA wajib mengikuti LKMP. Karena, calon anggota IPMA akan diberikan bekal kepemimpinan di antaranya mengenai karakter pemimpin, cara-cara berkomunikasi yang benar sebagai layaknya seorang pemimpin, proses manajemen konflik, dinamika kelompok, serta yang paling utama berlatih untuk selalu disiplin.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

IPMA merupakan organisasi siswa intrasekolah di lingkungan Pondok Pesantren Al-Muayyad. “Kepengurusan IPMA mencakup tingkat pusat, cabang SMP, cabang aliyah dan cabang SMA, dan cabang madrasah diniyah,” ujar Wati, Kamis (19/12). (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Aswaja, Cerita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 07 April 2007

Gara-gara FDS, Santri di Sejumlah Daerah Pamit Keluar dari Pesantren

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Meski sempat diumumkan ada pembatalan oleh Presiden Joko Widodo, kebijakan Lima Hari Sekolah atau full day school (FDS) yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Peraturan Mendikbud Nomor 23 tahun 2017 nyatanya masih berjalan di beberapa daerah.

Hal ini pula yang dikeluhkan Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) KH Abdul Ghaffar Rozin. Ia mengaku mendapat laporan dari pesantren dan madrasah diniyah di beberapa daerah tentang dampak nyata dari kebijakan tersebut.

Gara-gara FDS, Santri di Sejumlah Daerah Pamit Keluar dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Gara-gara FDS, Santri di Sejumlah Daerah Pamit Keluar dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Gara-gara FDS, Santri di Sejumlah Daerah Pamit Keluar dari Pesantren

“Sudah banyak santri yang pamit pada kiainya karena harus menanggung beban penambahan jam pelajaran di sekolah sampai sore. Laporan yang saya terima antara lain dari Purwokerto, Banyumas, Sragen, ini yang Jawa Tengah. Yang dari Jawa Timur, ada Lumajang dan daerah lainnya,” katanya selepas menghadiri Focus Group Discussion "Pengembangan Kurikulum Madrasah dan Regulasi Kurikulum" yang digelar Kementerian Agama di Jakarta, Jumat (4/8) petang.

Tak sedikit pelajar di sekolah formal merangkap pula status sebagai santri di sebuah pesantren atau madrasah diniyah demi mendapatkan tambahan wawasan agama. Dalam hal ini mereka harus berbagi waktu, pagi sampai siang di sekolah dan selebihnya di pesantren atau madrasah diniyah. Kebijakan FDS membuat jadwal kedua lembaga yang terpisah ini bertabrakan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Akhirnya harus milih salah satu, dan pelajar biasanya milih sekolah karena hasilnya dianggap lebih ‘konkret’, dapat ijazah formal,” paparnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pengurus RMINU lainnya Abdul Waidl menambahkan, klarifikasi Mendikbud Muhadjir Effendy bahwa kebijakan Lima Hari Sekolah tak sampai membuat siswa pulang sore susah dibayangkan. Dengan beban kerja guru delapan jam, skema jadwal sekolah tetap akan memulangkan muridnya pada sore hari.

Ia juga mengatakan, pembatalan kebijakan Lima Hari Sekolah oleh Presiden yang rencananya digantikan Peraturan Presiden (Perpres) tak memiliki kekuatan hukum apa-apa selama tidak ada pernyataan resmi secara tertulis.



Problem Sarana


Terkait kebijakan Lima Hari Sekolah ini, permasalahan lain juga diungkapkan Ketua Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif NU H Arifin Junaidi di forum diskusi terbatas itu. Menurutnya, murid pulang sore adalah masalah bagi sekolah-sekolah yang tidak mempunyai sarana ruang yang cukup.

“Masih banyak sekali, tidak hanya di desa, di kota-kota juga banyak, ruang kelas harus dipakai secara bergantian. Pagi SMP, siangnya SMA.? Pagi tsanawiyah, siangnya aliyah, dan seterusnya,” katanya.

Karena itu ia tidak setuju dengan pernyataan sejumlah kalangan yang mengatakan bahwa kebijakan Lima Hari Sekolah adalah bias orang perkotaan. Sebab, menurutnya, selain sekolah-sekolah di desa, berbagai persoalan FDS juga dialami oleh sekolah-sekolah yang berada di kota. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Daerah, Habib, Hadits Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 14 Februari 2007

Kemendesa Target Entaskan 5000 Desa Tertinggal dan Ciptakan 2000 Desa Mandiri

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dana desa yang akan dicarikan oleh pemerintah pusat diharapkan bisa membantu mencapai target dari RPJMN 2015-2019 sesuai dengan Perpers No 2 tahun 2015 yakni berkurangnya jumlah desa tertinggal sedikitnya 5000 desa atau meningkatnya jumlah desa mandiri sedikitnya 2000 desa.

Kemendesa Target Entaskan 5000 Desa Tertinggal dan Ciptakan 2000 Desa Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendesa Target Entaskan 5000 Desa Tertinggal dan Ciptakan 2000 Desa Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendesa Target Entaskan 5000 Desa Tertinggal dan Ciptakan 2000 Desa Mandiri

Menurut Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Marwan Jafar seusai dengan arahan Presiden RI, kementerian baru yang dipimpinnya diinstruksikan untuk fokus pada pembangunan desa-desa tertinggal.?

"Khususnya pada desa-desa terutama di 1138 desa di kawasan perbatasan dan melakukan pendampingan desa sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014," ujar Menteri Desa Marwan di Jakarta, lewat rilis yang diterima Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Selasa (5/5).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Oleh karena itu, Marwan berharap bahwa pencairan dana desa nantinya ? bisa segera digunakan untuk mengembangkan potensi desa yang ada dan menciptakan desa-desa mandiri di Indonesia. "Untuk pencairan dana desa, selain harus ada RPJMDes, dan RKPDes, juga harus ada Peraturan Bupati (Perbup) yang mengatur penggunaan dana desa untuk kegiatan yang tidak prioritas," ujarnya.

Selain 1138 desa di daerah perbatasan, lokus prioritas pembangunan desa, menurut Marwan, kedepannya akan diprioritaskan untuk 39.086 desa tertinggal dan 17.268 desa sangat tertinggal.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Ada beberapa indikator yang akan digunakan oleh Kementerian untuk mengukur seberapa jauh desa tersebut sudah lepas dari ketertinggalan," tandasnya.

Menurutnya, ada tiga indikator desa yang akan digunakan oleh kementerian untuk bisa mengentaskan 5000 desa tertinggal dan membangun 2000 desa mandiri di Indonesia.?

"Ada Desa Swadaya yang termasuk bagian dari desa tertinggal, desa-desa di kawasan perbatasan dan pulau terluar. Ada Desa Swakarya, yaitu desa berkembang yang mampu bertahan dari goncangan ekonomi, dan terakhir ada Desa Swasembada yaitu desa mandiri yang memiliki ketahanan pangan, dan mampu bertahan dari goncangan ekonomi serta mampu mendukung perekonomian kawasan lainnya," tutupnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Khutbah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 03 November 2006

Qaradhawi Galang Satu Juta Tanda Tangan untuk Selamatkan Al-Aqsa

Doha, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ulama kharismatik Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi tak henti-hentinya menjalin dukungan untuk pembebasan Masjid Al-Aqsa. Selasa (21/2) lalu, ulama yang pernah bersilaturrahim dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu meluncurkan gerakan satu juta tanda tangan untuk pemebebasan Al-Aqsa dari kebengisan penjajah Israel.

Selain peluncuran satu juta tanda tangan, ketua Ikatan Ulama Muslimin Internasional itu,juga menegaskan, saat ini umat Islam sangat membutuhkan pemimpin-pemimpin baru yang dibekali dengan Thariqah Muhamadiyyah (Jalan Muhammad), untuk kemudian membebaskan para mujahidin yang akan mengembalikan umat pada kedudukan semula dan kebangkitannya.

Qaradhawi Galang Satu Juta Tanda Tangan untuk Selamatkan Al-Aqsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Qaradhawi Galang Satu Juta Tanda Tangan untuk Selamatkan Al-Aqsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Qaradhawi Galang Satu Juta Tanda Tangan untuk Selamatkan Al-Aqsa

Pernyataan Qaradhawi itu terlontar di sela-sela festival “Aqshaanaa Karaamatina" (Al-Aqsa Kita, Kemulian Kita), yang digelar pada Selasa (20/2) oleh Yayasan Syaikh Ied Alu Tsani di Doha, Qatar. Dalam festival itu ikut hadir sejumlah ulama terkenal lainnya seperti Syaikh Muhammad Hasan dan Dr Abdurahaman al-’Ismawi.

Dalam sambutannya Qaradhawi mengatakan, “Apa yang terjadi pada pintu Al-Maghaariba dan pelanggaran-pelanggaran Israel di sekitar Masjid Al-Aqsha itu hanyalah merupakan upaya (Israel) untuk mengotak-kotakkan dunia Islam.”

Namun demikian, sambung Qaradhawi, apa yang terjadi terhadap Al-Aqsa selama dua pekan lalu hanyalah akan membangkitkan kemarahan umat. Oleh karena itu, kata dia, tampaknya kebangkitan umat yang tercecer itu perlu disatukan.

Gerakan satu juta tanda tangan itu akan terus dilakukan melaui festival-festival yang akan digelar di 9 negara, dan Qatar merupakan yang pertama, kemudian disusul Mesir, Saudi, Bahrain dan Emirat. Ke depan, satu juta tanda-tangan itu akan dibentangkan sepanjang 500 meter untuk Sekjen PBB, disertai tuntutan atas nama negara-negara Arab dan Islam agar Al-Aqsa dibebaskan dan pelanggaran-pelanggaran Israel segera dihentikan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Terkait pemimpin yang diharapkan umat sekarang, Qaradhawi menyebutkan, ”Umat membutuhkan pemimpin-pemimpin yang dibekali dengan Thariqah Muhamadiyyah, dan merindukan persatuan pada jiwa tanah air tanah air itu.”

Pada bagian lain Qaradhawi juga meminta agar para mujahidin dibebaskan, agar umat kembali kepada jati dirinya dan tidak tenggelam seperti sekarang. ”Tidak ada Barat tidak ada Timur, tapi yang ada quraniyyah. Inilah yang akan menjadikan Masjid Al-Aqsa terbebaskan,” tegas dia.

Qaradhawi juga menyinggung peran gerakan-gerakan Islam yang sangat signifikan memberikan kontribusi dalam mengembalikan umat Islam ke jati dirinya, bahkan mereka dapat menciptakan mukjizat, dan sebagai bukti bahwa gerakan Islam itu telah menjelma menjadi ancaman bagi Barat. (era/rif)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pondok Pesantren, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 04 Agustus 2006

Gizi Buruk pada Kelompok Sosial Ekonomi Tinggi

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Selama ini kebanyakan orang berpandangan hanya anak-anak dari kelompok sosial ekonomi rendah yang bisa mengalami stanting. Faktanya, banyak juga dari kelompok sosial ekonomi tinggi mengidap stanting.

“Secara nasional prevalensi stanting masih tinggi. Angkanya pada kelompok sosial ekonomi tinggi mencapai 29 persen,” kata Direktur Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kresnawan, pada? forum Dialog Nasional Lintas Agama Cegah Stanting di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (14/11).

Gizi Buruk pada Kelompok Sosial Ekonomi Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gizi Buruk pada Kelompok Sosial Ekonomi Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gizi Buruk pada Kelompok Sosial Ekonomi Tinggi

(Baca: Stanting Meningkat, Masa Depan Bangsa Suram)

Kresnawan menyebut, stanting pada kelompok sosial ekonomi tinggi lebih disebabkan karena pola asuh serta pemberian makan bayi dan anak yang kurang tepat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Sedangkan pada kelompok sosek rendah lebih? disebabkan karena keterbatasan ketersediaan pangan di tingkat keluarga miskin. Angkanya mencapai 48 persen,” lanjut Kresnawan.

Bahaya stanting bukan mengancam anak bangsa saat ini, tetap lebih ke masa depan dan martabat bangsa.

“Karena anak (yang saat ini) stanting, dua puluh lima tahun lagi jadi SDM tidak berkualitas, tidak mampu berkompetisi, padahal jumlahnya banyak sebagai efek bonus demografi,” urai Kresnawan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Beberapa penyebab stanting di perdesaan antara lain belum optimalnya cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan dasar (imunisasi, ANC, TTD), serta akses terhadap air bersih dan sanitasi yang buruk.

Selama ini bukan tidak ada upaya mencegah stanting di perdesaan. Sayangnya kegiatan tersebut masing-masing berjalan sendiri-sendiri, tidak ada koordinasi antar program/kegiatan.

“Cukup banyak kegiatan sektoral yang ada di desa dapat dimanfaatkan untuk pencegahan stanting,” pungkas Kresnawan. (Kendi Setiawan)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 23 Juli 2006

PMII-HMI-GMNI Majalengka Diimbau Kawal Persoalan Daerah

Majalengka, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Para aktivis mahasiswa Majalengka, Jawa Barat, yang tergabung dalam berbagai organisasi kemahasiswaan, seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menggelar silaturahmi dalam rangka halal bihalal dan peringatan hari ulang tahun kemerdekaan ke-69 RI, Rabu (20/8) sore.

Acara yang digelar di kediaman Ketua Panwaslu Majalengka H Agus Asri Sabana Desa Panglayungan, Kecamatan Panyingkiran, Majalengka, tersebut diisi dengan orasi ilmiah mengenai aktivitas mahasiswa dalam mengisi hari kemerdekaan dan memperkuat semangat nasionalisme di kalangan mahasiswa.

PMII-HMI-GMNI Majalengka Diimbau Kawal Persoalan Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII-HMI-GMNI Majalengka Diimbau Kawal Persoalan Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII-HMI-GMNI Majalengka Diimbau Kawal Persoalan Daerah

H Agus Asri Sabana selaku Tuan rumah menuturkan, kegiatan ini menjadi sarana untuk saling mengingatkan tentang nilai kebersamaan yang dijunjung dengan rasa menghargai perbedaan yang ada. Terkait semangat nasionalisme dan cara mengisi kemerdekaan ini, ia mengimbau para mahasiswa untuk mengawal isu persoalan daerah dan memberikan kontribusi positif kepada masyarakat di desa masing-masing.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Iwan Irwanto, Ketua PC PMII Majalengka, mengatakan, agenda ini merupakan awal gerakan aktivis mahasiswa dalam mengisi kemerdekaan dan semangat juang nasionalisme. Menurutnya, aktivis mesti mengambdikan dirinya kepada masyarakat.

Ia juga menambahkan perlunya ide-ide brilian untuk mengabdi pada masyarakat. Masyarakat saat ini membutuhkan mahasiswa yang bisa membantu mereka dalam menghadapi setiap persoalan yang ada. (Aris Prayuda/Mahbib)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Khutbah, Halaqoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi