Minggu, 19 Januari 2014

120 Pelajar Ikuti Sanlat IPNU-IPPNU Sorong

Sorong, Pondok Pesantren An-Nur Slawi 

Sekitar 120 pelajar mengikuti pesantren kilat yang digelar Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan (IPNU) dan PC Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Sorong, Papua Barat pada Senin-Rabu (22-24/8). 

Kontributor Pondok Pesantren An-Nur Slawi di Sorong Zaenal Arifin mengabarkan, peserta tersebut adalah siswa-siswi MTs Al Maarif 1 Aimas beserta santriwan-santriwati Pondok Pesantren Minhajuth Tholibin. Pesantren tersebut sebagai tuan rumah kegiatan tersebut. 

120 Pelajar Ikuti Sanlat IPNU-IPPNU Sorong (Sumber Gambar : Nu Online)
120 Pelajar Ikuti Sanlat IPNU-IPPNU Sorong (Sumber Gambar : Nu Online)

120 Pelajar Ikuti Sanlat IPNU-IPPNU Sorong

Dalam kegiatan tersebut diharapkan peserta lebih mengenal dan mencintai agamanya, sekaligus penanaman faham Ahlussunnah wal-Jamaah sejak dini bagi mereka.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Redaktur: Abdullah Alawi 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Doa, Tokoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pergunu Jabar Imbau Guru Kenalkan Sejarah dengan Menarik

Tasikmalaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Wakil Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat Saepuloh mengimbau guru-guru NU, terutama guru sejarah, harus bisa menyampaikan pelajaran dengan menarik serta bisa memahamkan peserta didik bahwa sejarah itu penting dalam konteks kekinian.

Menurut Saepuloh menarik di sini bisa dengan berbagai cara, misalnya mempelajari sejarah tidak melulu melalui teks, tapi film. Bisa juga anak-anak diajak turun langsung ke tempat-tempat bersejarah. “Bisa juga anak-anak itu belajar sejarah dengan mempraktikan sendiri dalam seni peran seperti teater supaya bisa lebih mengen,” terangnya.

Pergunu Jabar Imbau Guru Kenalkan Sejarah dengan Menarik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jabar Imbau Guru Kenalkan Sejarah dengan Menarik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jabar Imbau Guru Kenalkan Sejarah dengan Menarik

?

Saepuloh juga mengimbau guru NU untuk mengajarkan sejarah lokal dimana mereka tinggal supaya tidak terasing di tempat tinggalnya sendiri. “Ajarkanlah sejarah supaya anak tahu perjuangan leluhurnya,” katanya melalui pers rilis selepas menghadiri Seminar Sejarah; Sejarah Kota Tasikmalaya: Pertumbuhan dan Perkembangan Kota di Priangan Timur. Kegiatan tersebut berlangsung di Tasikmalaya, Hotel Harmoni pada Sabtu, (18/10). ?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jangan sampai, lanjut dia, orang yang lebih tahu sejarah kita justru orang lain. Jika itu terjadi bisa saja mereka melakukan penyelewengan sehingga merugikan pihak yang ditulis.

Pada seminar yang diselenggarakan Pergunu Jawa Barat bekerja sama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung Kemendikbud RI dan Pemerintah Kota Tasikmalaya tersebut, hadir, Kepala BPNB Bandung Drs. Toto Sucipto, Wakil Ketua Pergunu Jawa Barat H. Saepuloh, M.Pd., dan Kepala Dinas Budaya, Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga Drs. Undang Hendiana, M.Pd.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Prof. Dr. Sobana Hardjasaputra, MA., Muhajir Salam, S.S., Dr. Agus Mulyana, M.Hum., Dr. Didin Wahidin, M.Pd. (Ketua ISNU Jawa Barat), Drs. Heru Erwanto, dan Rahmat Mahmuda., SH., M.M.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Budaya, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Drs. Undang Hendiana, M.Si., menyambut baik kegiatan tersebut yang bertujuan untuk menggali dan memahami perkembangan kota Tasikmalaya, “Semoga kegiatan ini ada out put yang baik bagi kota Tasikmalaya,” katanya.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 45 guru sejarah dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), 45 orang budayawan, serta 10 orang dari dinas Budaya, Pariwisata, Pemuda,? dan Olah Raga Pemkot Tasikmalaya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Makam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 13 Januari 2014

IPNU-IPPNU 2012-2015 Dilantik

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Jajaran pengurus Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) masa khidmat 2012-2015 akan dilantik malam ini di Auditorium Langen Palikrama Kantor Pegadaian, Jalan Kramat Raya Nomor 162, Jakarta Pusat, Senin (18/3) malam.



IPNU-IPPNU 2012-2015 Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU 2012-2015 Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU 2012-2015 Dilantik

“Pengurus PP IPPNU-PP IPNU akan dilantik langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj,” kata Wildatus Sururoh Sekretaris Umum PP IPPNU kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Senin (18/3) petang.

Pelantikan rencananya akan dihadiri oleh Wakil Ketua Umum PBNU Asad Said Ali, Menag Surya Dharma Ali, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmy Faisal Zaini, Menakertrans Muhaimin Iskandar, dan Menperra Djan Faridz, ungkap Wildatus Sururoh.

Sebagaimana diwartakan, Kongres IPNU-IPPNU di Palembang, Sumatera Selatan, Desember 2012 lalu, memilih Khairul Anam HS sebagai Ketua Pimpinan Pusat IPNU dan Farida Farichah sebagai Ketua Pimpinan Pusat IPPU. Penentuan ketua baru sekaligus mengubah struktur pimpinan pusat di bawahnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara jajaran pengurus PP IPPNU seperti Sekretaris Umum PP IPPNU Wildatus Sururoh, dan Bendahara Umum PP IPPNU Maulida, didasarkan pada hasil rapat tim formatur, Jum‘at (14/12) 2012, kata Wildatus Sururoh.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hikmah, Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 21 Desember 2013

Dear Gus Dur: Pesan Kerinduan untuk Anak Bangsa

Gus, maaf saya lancang menulis surat untuk Anda, saya tahu anda pasti geli membaca surat saya ini, tapi biarlah. Gus, saya tulis surat ini karena sudah gerah dengan hiruk pikuk orang-orang saat ini. Gus, hari-hari ini rakyatmu sedang gundah gulana. Saking galaunya, semua hampir bicara tetang topik yang sama, dan entah kenapa kok saya sudah merasa fokus bahasannya semakin melebar.?

Gus, sebenarnya semua berawal dari dialog seorang, saya enggan membahas apakah ada yang sesuai atau tidak sesuai dengan ucapan beliau, tapi yang pasti, sebagian umat merasa tersinggung, dan mulailah cerita ini berkembang.?

Dear Gus Dur: Pesan Kerinduan untuk Anak Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Dear Gus Dur: Pesan Kerinduan untuk Anak Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Dear Gus Dur: Pesan Kerinduan untuk Anak Bangsa

Gus, kalau saja anda masih hidup, tolong ajarkan kami secara langsung bagaimana cara hidup rukun berdampingan, ajarkan kami bagaimana minoritas menghargai mayoritas, dan bagaimana pula mayoritas menghargai minortas. Gus, Anda memang bukan tanpa kekurangan, tapi gaya nyeleneh anda yang kadang membuat suasana lebih cair.?

Saya yakin anda pasti bilang, “Kalau ada yang menistakan agama, hukumlah dia, berilah sanksi yang setimpal dan menjadi pelajaran agar bisa lebih baik, tapi yang bikin kita tergeleng-geleng, mereka yang melakukan korupsi, mereka yang mengambil uang rakyat, menebar bom, menyakiti sesama, dan yang memakan bukan hak-nya adalah yang benar-benar menistakan agama”.?

Saya setuju Gus, kemarin sore saya melihat orang-orang marginal, duduk diantaranya seorang ibu dan anaknya yang sedang berbagi sepotong roti. Lalu apa kabar dengan para koruptor itu Gus, mereka yang membuat kemiskinan di negeri ini semakin mengakar, mereka yang mungkin taat sembahyang, berangkat ke gereja, mendekatkan dahi ke tanah, bersujud di mesjid, dan berangkat ke tempat ibadah, tapi mereka membiarkan korupsi merajalela, dan berbuat seolah tak ada apa-apa.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gus, semua orang menurut saya sekarang terlalu berani menghujat penguasa, saya tahu kritik itu perlu, tapi bukan kemudian menghina, menjelek-jelekan, atau pun menghujat. Ke mana mereka pada saat zaman Orba. Hanya Anda dan segelintir orang yang berani berhadapan dengan penguasa.?

Saya dengar cerita pedih Anda saat di depak oleh Pasukan Penguasa dan harus duduk di kursi belakang, padahal itu jelas-jelas acara anda dan NU. Tapi itulah anda Gus, ditakuti penguasa saat banyak orang takut dengan penguasa dan memilih tidak berhadapan dengan penguasa.

Gus, coba ceritakan bagaimana situasi saat anda dilengserkan. Apa jadinya jika anda juga melawan orang yang melengserkan anda. Saat itu anda dipaksa turun tahta, tapi anda tidak kemudian membalasnya dengan parlemen jalanan, atau bahkan pasukan berani mati anda yang sudah siap untuk berangkat ke Jakarta. Bukankah itu yang kita sebut Negarawan, lebih merendah untuk kemenangan bangsa dan negara. Tanpa ingin membuat semuanya menjadi gaduh dan berkembang pada hal-hal negatif yang justru berpotensi memecah belah bangsa.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gus, saya dengar sekarang hampir tiap hari, ratusan bahkan ribuan orang datang ke tempat peristirahatan Anda, untuk sekedar ziarah dan memanjatkan doa. Tapi saya yakin di hati kecil anda bukan itu saja yang anda ingin. Anda ingin mereka semua bisa hidup damai, mereka semua bisa saling menghargai, saling menghormati, saling membantu selayaknya anak bangsa yang telah ditakdirkan menjadi Seorang Indonesia.?

Mereka tetap berpegang teguh pada akidah dan tuntunan agama, tapi juga menjaga adab, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena pada dasarnya kita semua telah sepakat dengan dasar negara Pancasila dan tata aturan kebangsaan yang lain.

Gus, Anda mungkin tak akan membalas surat ini, tapi izinkan saya agar seluruh Rakyat Indonesia bisa membaca surat ini. Surat yang dibuat tanpa ada tendensi pada pihak manapun. Surat yang ditulis sebagai bentuk perhatian dan kecintaan dari warga negara terhadap bangsanya. Surat yang ingin menggugah bahwa, berjalan berdampingan, tepo seliro, tenggang rasa adalah bukan sekadar retorika, tapi sungguh sebuah falsafah hidup dan identitas bahwa kita adalah INDONESIA.

(Andi Pamungkas Rahayu)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Warta, Sunnah, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 14 Desember 2013

PCNU Jombang Siap Sambut Tim Ekspedisi Islam Nusantara

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang siap menyambut tim Ekspedisi Islam Nusantara yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). PCNU Jombang tengah melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten (pemkab) setempat untuk menjalin kerja sama dalam pelaksanaan teknis penyambutan tim Ekspedisi Islam Nusantara tersebut.

PCNU Jombang Siap Sambut Tim Ekspedisi Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jombang Siap Sambut Tim Ekspedisi Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Jombang Siap Sambut Tim Ekspedisi Islam Nusantara

"PCNU Jombang akan bekerja sama dengan Pemkab Jombang untuk menyambut tim Ekspedisi dari PBNU, yang akan datang pada tanggal 19 April 2016," tutur Ketua PCNU Jombang KH Isrofil Amar. Rencana penyambutan ini dibahas segenap pengurus PCNU Jombang, Selasa (5/4) lalu.

Jumat (8/4) ini, rombongan ekspedisi memasuki hari kesembilan. Dari rencana 40 kota, dari Aceh sampai Papua, mereka baru melewati beberapa kota di Jawa Tengah. Tim Ekspedisi Islam Nusantara berangkat dari PBNU sekitar Kamis pukul 03.00 (31/3). Tempat pertama yang dikunjungi adalah Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam rapat pengurus PCNU Jombang tersebut forum juga telah menetapkan musyawarah kerja cabang (muskercab) yang terakhir dilaksanakan pada 8 Mei 2016. Namun terkait tempat, masih akan dibicarakan kembali pada rapat selanjutnya, antara di Kecamatan Mojagung dan Kecamatan Perak, Jombang.

Isrofil Amar menjelaskan bahwa Muskercab adalah forum untuk memonitor pelaksanaan sejumlah program tahun 2015 sesuai hasil muskercab sebelumnya. Dalam muskercab nanti juga akan dibahas perencanaan program untuk tahun 2016-2017.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia menambahkan, bersama dengan penyelenggaraan muskercab juga akan dihelat rangkaian kegiatan untuk memperingati hari lahir (harlah) NU. "Pada saat itu, juga akan diselenggarakan peringatan Harlah NU," katanya

Namun sebelum itu, lanjutnya, akan dilakukan kegiatan-kegiatan pra harlah. "Berupa lomba-lomba, apel dan kegiatan sosial," lanjutnya. (Syamsul Arifin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Habib Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 11 Desember 2013

Bagaimana Menyikapi Anak-anak Kecil Bercanda di Masjid?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pengasuh rubrik Bahtsul Masail Pondok Pesantren An-Nur Slawi yang baik, ketika sembahyang ashar dan terutama sembahyang maghrib tiba banyak anak-anak kecil usia sekolah dasar berkumpul di masjid. Mereka ikut sembahyang berjamaah bersama orang dewasa. Hanya saja mereka sesekali bercanda di masjid yang menimbulkan kegaduhan.

Bagaimana Menyikapi Anak-anak Kecil Bercanda di Masjid? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Menyikapi Anak-anak Kecil Bercanda di Masjid? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Menyikapi Anak-anak Kecil Bercanda di Masjid?

Ada juga pengurus masjid dan sebagian jamaah yang memperingati mereka. Sebagian lagi ada yang membentak mereka dengan keras. Sebenarnya bagaimana sikap kita menghadapi anak-anak kecil yang sesekali bercanda di masjid? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Assalamu alaikum. wr. wb. (Musa/Jakarta).

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua. Bermain lebih tepatnya bercanda memang sudah fitrah anak-anak. Karenanya hal ini tidak bisa dihindari. Tetapi kadang candaan mereka juga menggangu kenyamanan jamaah dewasa pengguna masjid.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Lalu bagaimana kita sebagai pengurus masjid atau orang dewasa menanggapi kehadiran anak-anak itu di masjid. Berikut ini kami kutip keterangan Imam Al-Ghazali perihal kemunkaran di masjid termasuk batasan dan pengecualiannya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Anak kecil tidak masalah masuk ke masjid selagi ia tidak bermain. Bermain di masjid tidak haram bagi mereka. Membiarkan mereka bermain di masjid juga tidak diharamkan kecuali jika mereka menjadikan masjid tempat bermain, dan itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Kalau sudah demikian (masjid jadi tempat bermain), maka wajib dilarang karena bermain di masjid termasuk aktivitas yang halal jika sedikit, dan tidak halal ketika banyak. Dalilnya adalah hadits riwayat Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah SAW berdiam demi Aisyah RA yang menyaksikan anak-anak Habasyah menari dan bermain perisai dari kulit dan berperang-perangan pada hari Idul Fithri di masjid. Tidak diragukan lagi bahwa anak-anak Habasyah itu seandainya menjadikan masjid tempat bermain, niscaya mereka akan dilarang bermain. Rasulullah SAW tidak memandang anak-anak itu bermain itu sebagai sebuah kemunkaran sehingga beliau SAW ikut menyaksikannya karena saking jarang dan langkanya,” (Lihat Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Mesir, Mushtafa Albabi Al-Halabi wa Auladuh, 1939 M/1358 H, juz 2, halaman 332).

Sayid Muhammad Az-Zabidi yang dengan telaten mensyarahkan kitab Ihya Ulumiddin mengakui bahwa kehadiran orang gila, anak kecil, dan orang mabuk perlu diwaspadai. Mereka tidak bisa menguasai diri sendiri sehingga dikhawatirkan dapat mencemari masjid. Ada baiknya kita melihat sedikit catatan Sayid Muhammad Az-Zabidi berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ? ? ? ?) ? ? ? ? ?

Artinya, “Di antara kemunkaran adalah masuknya orang gila, anak kecil, dan orang mabuk ke dalam masjid. Karena, mereka tidak memiliki daya pilih. Mereka tidak bisa memelihara diri mereka sendiri. Karenanya diusahakan mereka tidak masuk ke dalam masjid. (Anak kecil tidak masalah masuk ke masjid selagi ia tidak bermain). Dan bersamaan dengan (bermainnya) itu aman dari pencemaran,” (Lihat Sayid Muhammad bin Muhammad Al-Husayni Az-Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqin bi Syarhi Ihya’i Ulumiddin, Beirut, Muassasatut Tarikhil Arabi, 1994 M/1414 H, juz 7, halaman 55-56).

Bahkan Sayid Muhammad Az-Zabidi lebih tegas mengatakan bahwa candaan anak kecil di dalam masjid bukan bagian dari kemunkaran seperti Rasulullah SAW menyikapi kehadiran anak-anak Habasyah yang bermain di masjid seperti kami kutip berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?( ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Rasulullah SAW tidak memandang anak-anak itu bermain itu sebagai sebuah kemunkaran sehingga beliau SAW) sendiri (ikut menyaksikannya karena saking jarang dan langkanya) sebagai pendidikan dan peringatan bagi umatnya bahwa di dalam agama terdapat kelonggaran-kelonggaran,” (Lihat Sayid Muhammad bin Muhammad Al-Husayni Az-Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqin bi Syarhi Ihya’i Ulumiddin, Beirut, Muassasatut Tarikhil Arabi, 1994 M/1414 H, juz 7, halaman 56).

Catatan kami, kehadiran anak-anak kecil di masjid perlu dimaklumi dan perlu pendampingan orang tua, terutama bagi anak-anak kecil di bawah usia lima tahun agar tidak mencemari masjid dengan kemungkinan najis yang ada padanya.

Berikutnya, pengurus masjid dan para jamaah perlu memaklumi bahwa kehadiran anak-anak kecil terutama anak-anak di atas lima tahun itu patut disyukuri karena mereka sudah mengawali pembiasaan di masjid sedini mungkin.

Menciptakan “masjid ramah anak” memang membutuhkan kesiapan manajemen, tata ruang, dan kesadaran tinggi seluruh jamaah. Padahal anak-anak kecil juga memiliki hak guna terhadap masjid. Adapun candaan mereka yang mengganggu kenyamanan jamaah dewasa cukup diperingati dengan lemah lembut, tidak perlu bentakan, hardikan, dan cara kasar lainnya karena cara-cara kasar dapat menciptakan trauma dan banyak mudharat lainnya.

Demikian yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Makam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 07 November 2013

Ketika Kiai Ma’shum Lasem Menangis di Buntet Pesantren

Hari itu, para kiai, santri, dan masyarakat Buntet Pesantren telah bersiap menerima kedatangan tamu agung dari Rembang, Kiai Ma’sum Lasem.

Tiba di Buntet Pesantren, Kiai Ma’shum langsung disambut dengan shalawat yang dilantunkan oleh KH Fuad Hasyim, KH Busyrol Karim, dan dua qari internasional dari Buntet Pesantren, yakni KH Fuad Zen dan KH Jawahir Dahlan.

Lantunan merdu shalawat dari kitab al-Barzanji itu diiringi dengan tabuhan genjring oleh keempat kiai tersebut. Suara genjring yang berasal dari Palembang seketika membius Mbah Ma’shum.

Saat itu pula, Mbah Ma’shum menangis sembari ngendika (berucap), “Mboten. Mboten haram. Mboten haram (Tidak. Tidak haram. Tidak haram).”

Ketika Kiai Ma’shum Lasem Menangis di Buntet Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Kiai Ma’shum Lasem Menangis di Buntet Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Kiai Ma’shum Lasem Menangis di Buntet Pesantren

Kiai Ma’shum konon pernah mengharamkan genjring karena beberapa hal. Tetapi, begitu melihat tabuhan genjring di Buntet, beliau langsung menarik pernyataannya.

Selain Mbah Ma’shum, beberapa ulama lain yang pernah datang ke Buntet Pesantren juga disambut dengan tabuhan genjring, seperti Musniduddunya Syaikh Yasin al-Fadani dan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hadis, Malang, al-Habib Abdullah Bafaqih. (Syakirnf/Kendi Setiawan)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Baca Fragmen lainnya DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Amalan Pondok Pesantren An-Nur Slawi