Senin, 01 Januari 2018

Stroke Warnai Kisah Penciptaan Kasidah Burdah

Oleh Diana Manzila



Al-Burdah adalah kata yang diambil dari bahasa Arab yang berarti jaket belang (bisa hitam dan putih, atau yang lain). Maknanya sama dengan ? ? ? yang memiliki arti sama secara harfiah, ? ? ? ? semisal jaket biasa yang digunakan kebanyakan orang. Korelasi kasidah burdah yang ternama dengan makna burdah bermakna jaket memiliki kisah tersendiri.?

Konon, pada masa Rasul, ada penyair “sakti” bernama ? ? ? ? ? (wafat pada 662 M). Penyair tersebut dalam tiap rajutan kata yang dikemas dapat menjadi sihir tersendiri bagi pembaca atau pendengarnya.?

Stroke Warnai Kisah Penciptaan Kasidah Burdah (Sumber Gambar : Nu Online)
Stroke Warnai Kisah Penciptaan Kasidah Burdah (Sumber Gambar : Nu Online)

Stroke Warnai Kisah Penciptaan Kasidah Burdah

Pujangga satu ini adalah seorang penyair ternama pada masanya. Namun sayang seribu sayang, sebelum masuk Islam, untaian syairnya tertuju pada olok-olok pada ? ? , yakni nabi Muhammad. Jelas saja, kala itu aktris bagi bangsa arab atau orang terpandang kala itu menjadi buah bibir. ? Ada tiga golongan yang saat itu menjadi sorotan; ? ? ? (pujangga), ? ? (tukang sihir), dan ? ? ? (dukun).?

Syair-syair luar biasa karya Ka’ab, membombardir hati para pembenci Nabi untuk lebih membenci beliau. Kala rentetan kata ia lontarkan, masyarakat setempat langsung hafal dan membacanya. Bahkan anak kecil pun ikut memeriahkan olok-olok pada Muhammad.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hal itu membuat resah segenap sahabat dekat Rasul. Mereka kemudian menemukan ide jitu untuk membumihanguskan penyair tersohor tersebut. Ide tersebut ternyata diamini Rasul. Setelah diadakan musyawarah singkat, para sahabat berlomba untuk bisa melenyapkan penyair ulung yang kerap menjelek-jelekkan utusan tuhan di depan khalayak.

Suatu ketika, saat Muhammad, pemuda padang pasir berkumpul dengan sahabatnya, datang seorang misterius bercadar hitam berlutut di hadapan beliau seraya berkata;

“Hai Muhammad, aku dengar ada penyair yang memprovokasi masyarakat untuk membencimu?” tanyanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Benar,” jawab singkat Nabi.

“Dan lagi, kauhalalkan sahabat-sahabatmu untuk membunuhnya?” ujarnya lagi.

“Ya,” lanjut beliau.

“Bagaimana jika sang pujangga bersimpuh padamu dan bertobat atas perbuatan nistanya?”

“Aku akan memaafkannya,” jawab Nabi lugas.

Hening sesaat, lelaki dibalik cadar tiba-tiba membuka cadar dan mempersilahkan Nabi untuk bertindak apa saja terhadap dirinya. Seketika itu banyak sahabat berebut ingin membunuh Ka’ab, tapi sebelum hal itu terjadi, Ka’ab mengajukan permintaan pada Nabi. Permintaannya adalah, sebelum dirinya menjadi bangkai, ingin membacakan puisi di hadapan Nabi.

Puisi tersebut berisi 63 bait, yang secara keseluruhan memuji sagala sifat-sifat Nabi. Belum selesai Ka’ab mengeksplore segala kekagumannya, Nabi memintanya berhenti dan menyematkan burdah sebagai bentuk hadiah kepadanya. Puisi pertama berkisah Nabi tersebut bernama Banaat Su’ad yang dibaca secara spontanitas oleh sang penyair ulung Ka’ab bin Zuhair.

Sampai pada keempat kholifah, burdah tersebut di jadikan jubah kebesaran tiap pemimpin umat Islam. Hingga pada masa Bani Umayyah, jubah tersebut diburu oleh petinggi Islam pada masanya hingga proses pembelian terhadap Ahlul Bait Ka’ab bin Zuhair.?

Sekarang, jubah fenomenal tersebut berada di museum Topkavi (Konstantinopel, Istambul, Turki). ?

Kilas Sejarah?

Kehidupan dunia tidak lebih dari perpindahan parodi antara digelar dan dinalar. Laju sang detik tidak pernah berdiam barang berulang. Demikian pula kehidupan sang puitis negara bernama ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, tidak lain pengarang terbaik dunia yang dikenal dengan nama Imam Busyiri. Sejatinya nama tersebut diambil dari kota di mana sang cendekia itu berdomisili.

Mahakarya agung Imam Busyiri yang popular dengan nama“Burdah” memiliki cerita unik. Puisi ini sejatinya bernama" ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? Begitu banyak barisan kata indah teruntai dari ucap dan cakap sang pujangga, seringkali sang Busyiri dipanggil menteri bahkan kepala negara untuk bersyair di istana. Ia diminta merangkai huruf dan menulis untuk memuji tindak tanduk dengan seronai kata. Lama pekerjaan itu ia lakoni. Berjalan kesana ke mari sembari berpusi. Siapa yang tidak mengenalnya kala itu. Namanya tersohor di semua penjuru negeri.?

Ada setitik jenuh dalam hati sang pujangga ternama ini. Ia mulai gunda-gulana dengan segala aktivitas bersyairnya. Di puncak rasa sedihnya, ia menemukan secercah cahaya dan hatinya berkata, ”Bagaimana bisa saya salama ini merangkai untaian kata dengan mudahnya pada seseorang petinggi negara. Padahal terkadang aku manipulasi isi dan teras kata-kataku. Sedangkan hampir tidak pernah aku memuji Sang Musthofa (Nabi Muhammad), perangai seseorang yang Tuhannya pun berkata mulia.”

Pikirannya membuat ia diterpa resah yang berkepanjangan. Resah hingga ia terkulai lemah dan jatuh sakit. Sakitnya ini, tercatat dalam sejarah adalah sakit ? (stroke). Dalam diam sakit yang melanda, hati yang gundah-gulana, nestapa yang tidak bermuara, ia bergumam syair tentang sang junjungan Nabi akhir zaman.?

Hingga suatu malam sang Rasul datang bertandang, menyematkan “burdah” pada tubuhnya. Sang pecinta Muhammad pun bangkit dari sakit yang memasungnya dari berbagai aktivitas selama ini. Ia sembuh total keesokan harinya.?





*Tulisan ini dibuat saat penulis mengikuti kajian Burdah di Sekolah Tinggi Filsafat Al-Farabi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pria Gondrong Itu Diludahi Kiai Adlan Aly

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?

Pria berambut gondrong itu menunjukkan gambar hasil potretan dari kamera ponselnya. Kemudian tertawa lepas. Ketika saya bertanya kenapa tertawa, dia menjawab dengan tertawa. Ketika saya tanya lagi, dia masih menjawab dengan tertawa juga.?

“Ini, ini lho Kiai Adlan Aly,” kata pria berambut gondrong bernama Imam Ma’arif itu sebelum pembukaan pameran tunggal Sang Kekasih karya pelukis Nabila Dewi Gayatri di Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (8/5) yang diresmikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Pria Gondrong Itu Diludahi Kiai Adlan Aly (Sumber Gambar : Nu Online)
Pria Gondrong Itu Diludahi Kiai Adlan Aly (Sumber Gambar : Nu Online)

Pria Gondrong Itu Diludahi Kiai Adlan Aly

Kemudian dia menceritakan bahwa di tahun 80-an, ia adalah satrinya Kiai Adlan Aly. Ia belajar menghafalkan Al-Qur’an langsung kepada kiai itu.?

“Dia kan kalau ngajar, sembilan orang enam orang berada di hadapannya. Kalau salah tangannya berbunyi, tek, tek. Tangan ke meja. Berarti salah,” katanya. ?

Sampai saat ini, ia mengakui kehebatan konsentrasi Kiai Adlan. Karena dalam satu waktu, ia bisa menyimak beberapa santri yang membaca Al-Qur’an secara bersamaan, padahal ayat yang dibaca berbeda. Namun, Kiai Adlan mampu membagi konsentrasinya sehingga bacaan salah diketahuinya.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut dia, waktu itu, tidak banyak yang santri yang diajari langsung Kiai Adlan. Kebanyakan ditangani santri senior murid Kiai Adlan. Sementara dia bersama beberapa temannya langsung ditangani Kiai Adalan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Suatu ketika, selepas maghrib, dia bersama sembilan temannya membacakan hafalan masing-masing. Tentu dengan ayat berbeda. Tiba-tiba, tangan Kiai Adlan berbunyi. Imam tidak merasa bacaannya salah. Ia melanjutkan bacaannya. Tapi tangan Kiai Adlan berbunyi lagi. Ia melanjutkan lagi. Tapi lagi-lagi tangan Kiai Adlan berbunyi. ? ?

“Tangan Kiai Adlan berunyi tiga kali dan saya tidak tahu letak kesalahannya. Saya membacakan surat Al-Baqarah akhir. Saya masih kecil, Tsanawiyah,” jelasnya. “Namanya orang takut, campur keringetan. Kan jarang-jarang langsung kiai besar seperti dia,” lanjutnya.?

Lalu, karena dia masih melanjutkan bacaan, tanpa diduga, Kiai Adlan menarik kepalanya. Kemudian meludahi telinga Imam. Lalu ia diberi tahu santri lain agar mundur karena bacaannya keliru.?

“Ha…ha..ha..,” dia kembali tertawa mengenang peristiwa itu. “Gila lho, kiai bisa membagi konsentrasi sampai enam sembilan bacaan di waktu yang sama,” katanya. (Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hikmah, Anti Hoax Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Fatayat: Media Massa Masih Banyak Suguhkan Konten Tak Mendidik

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pimpinan Pusat Fatayat NU menyayangkan media massa masih banyak menyuguhkan tayangan yang kurang ramah untuk anak. Akibatnya, anak tak mendapatkan konten mendidik dari situ dan kekerasan terhadap mereka sering terjadi.

Ketua PP Fatayat NU Anggia Ermarini mengurai, di antara muatan tidak edukatif, misalnya tayangan sinetron yang lebih mengajarkan mengejek ketimbang berkomunikasi dengan benar. Adegan kekerasan, katanya, juga kerap disajikan dengan vulgar.

Fatayat: Media Massa Masih Banyak Suguhkan Konten Tak Mendidik (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat: Media Massa Masih Banyak Suguhkan Konten Tak Mendidik (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat: Media Massa Masih Banyak Suguhkan Konten Tak Mendidik

"Seluruh media massa harus memposisikan diri dan berperan sebagai media transformasi pengetahuan dan kesadaran publik yang menyajikan informasi dan tayangan yang mendidik, membangun kesadaran kritis, serta berorientasi pada kemanusiaan dan keadilan yang berkeadaban," paparnya di Jakarta, Kamis (8/10).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk melindungi anak dari ancaman kekerasan, Fatayat NU juga menilai pendidikan keorangtuaan (parenting education) sangat penting dilakukan dan dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Tidak hanya tanggung jawab negara dan lembaga pendidikan, namun orang tua yang menjadi pemegang amanah anak harus sensitif dan sadar akan ancaman kekerasan bagi anak mereka," tutur Anggia.

Fatayat NU juga sadar bahwa regulasi di Tanah Air belum ideal memberi perlindungan bagi anak. Ringannya hukuman yang diterima pelaku kekerasan, baik fisik, psikis, maupun seksual, sering tidak memberikan efek jera. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Bahtsul Masail Pondok Pesantren An-Nur Slawi

PMII Kabupaten Bandung Kerja Bakti Pascabanjir

Bandung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bandung menggelar kerja bakti lingkungan di Kampung Cigeban, RT 05 RW 20, Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (10/3).

Bekerja sama dengan komunitas Leweng Sunda, para aktivis PMII membersihkan sisa-sisa akibat banjir yang melanda kawasan tersebut beberapa hari yang lalu. Aksi mereka juga dibantu oleh masyarakat setempat.

PMII Kabupaten Bandung Kerja Bakti Pascabanjir (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Kabupaten Bandung Kerja Bakti Pascabanjir (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Kabupaten Bandung Kerja Bakti Pascabanjir

Berdasarkan informasi dari warga setempat, sekitar 100 rumah di kawasan RW 20, tepatnya RT 4, RT 5, dan RT 3, terkena dampak musibah ini.

Ketua PC PMII Kabupaten Bandung Hamdani Haliman mengatakan, keikutsertaannya dalam bakti sosial tersebut sebagai bentuk peran dan kepedulian kader PMII terhadap masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kerja bakti lingkungan bersama masyarakat merupakan penegasan kembali kader PMII khususnya di wilayah Kabupaten Bandung terutama yang akhir-akhir ini tertimpa banjir, maka di situlah peran kita ikut berpartisipasi kepada masyarakat," ujar Hamdani.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk itu, lanjut Hamdani, ke depan peran PMII Kabupaten Bandung akan konsisten melakukan kerja nyata bersama berbagai elemen komunitas maupun masyarakat di kawasan Kabupaten Bandung.

"Karena ini sesuai dengan semangat gerak kami bersama-sama ikut andil berkontribusi untuk masyarakat," jelasnya.

Sementara, Aam Cakrawala selaku Deputi Lingkungan Komunitas Leweng Sunda mengatakan, sudah menjadi keharusan komunitas yang dibinanya itu ikut andil dalam lingkungan dan kebersihan.

"Fokus kami ke lingkungan dengan ikut andil dalam pemulihan, kebersihan dan penyadaran terhadap masyarakat dengan kerjasama terutama setelah kejadian banjir ini," ujar Aam.

Dengan adanya kegiatan kerja bakti tersebut, lanjut Aam, sebagai penyelamatan serta penyadaran lingkungan di kawasan reboisasi khususnya di Kabupaten Bandung. (Ade Mahmudin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

PCNU Rembang Iringi Jamaah Haji dengan Doa

Rembang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Rembang Jawa Tengah, menggelar do’a bersama untuk pemberngkatan calon jamaah haji. Doa bersama  rencananya diadakan pada 27 September 2013 mendatang di aula Pondok Pesantren Raudlotut Tholibien Rembang.

PCNU Rembang Iringi Jamaah Haji dengan Doa (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Rembang Iringi Jamaah Haji dengan Doa (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Rembang Iringi Jamaah Haji dengan Doa

PCNU Rembang KH Rosyad Siddiq saat dikonfirmasi menjelaskan, kegiatan itu merupakan sebagai wujud simpati PCNU terhadap masyarakat yang menunaikan rukun Islam kelima.

Pengurus NU lanjut Rosyad, sangat mendukung masyarakat yang sudah mampu menjalankan ibadah haji.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Satkorcab  Banser Kabupaten Rembang Imam Syarifudin akan melakukan pengawalan dan siap siaga bagi keamanan para calaon jama’ah yang akan berangkat mulai jam tiga pagi.

Imam, seperti berita yang disiarkan Radio Nur Fm membenarkan akan agenda tersebut. Rencananya, pihaknya akan menerjunkan lebih dari dua puluhan pleton pasukan yang terdiri dari Satkoryo Bulu, Sumber, Kaliori, Pamotan, Gunem dan Sedan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Imam juga berharap, agar masyarakat tidak membawa rombongan terlalu banyak. Karena, itu akan menyebabkan kemacetan dan memberikan ruang bagi tindak kejahatan.

Komandan asal Desa Bulu Rembang juga berharap, pemberangkatan bisa dijadwalkan sesuai dengan rencana dan dapat berjalan dengan lancar. (Ahmad Asmu’i/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Halaqoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Banser Komitmen Jaga NKRI Walau Susah Beli Pulsa

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Guyonan tak bisa dilepaskan dari Nahdlatul Ulama (NU) berikut badan otonomnya. Kali ini, pernyataan Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas membuat puluhan kader tertawa terpingkal-pingkal.

Banser Komitmen Jaga NKRI Walau Susah Beli Pulsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Komitmen Jaga NKRI Walau Susah Beli Pulsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Komitmen Jaga NKRI Walau Susah Beli Pulsa

"Saya tahu sahabat-sahabat mempunyai android. Tapi kalau paket datanya, entah. Hayo ngaku. Orang beli pulsa saja susah," ujar pria yang karib dipanggil Gus Yaqut itu, di Pesantren Al Hamid, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (21/11).

Tak ada jawaban dari puluhan kader inti Pemuda Ansor yang mengikuti Dikkatsus Nasional Corps Banser Provost, Banser Protokoler dan Banser Lalu Lintas. Hanya tepuk tangan riuh dan tawa serentak bergema di aula Pesantren Al Hamid.

"Itulah yang membuat saya terharu. Walau tanpa gaji, sahabat-sahabat tetap memiliki komitmen agar negeri ini tidak pecah belah sebagaimana negara-negara di Timur Tengah," ujar dia lagi.

Ia menambahkan, 101 Banser yang mengikuti kegiatan Diklatsus telah berkorban waktu, energi hingga biaya demi meningkatkan kapasitas diri untuk berpartispasi dalam pembangunan bangsa.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Dan setelah ikut Diklatsus tetap tidak digaji. Itulah dedikasi yang luar biasa dari setiap Banser. Sehingga saya selalu merasa bahagia setiap berada di tengah-tengah sahabat-sahabat Banser," tegasnya.

Komitmen tersebut merupakan bukti nyata Banser bekerja untuk Indonesia dengan ihklas. "Walau paket android saja tidak ada yang support. Tapi karena niat berkhidmah untuk ulama, Insyaallah akan selalu ada jalan," ujar dia lagi.

Ia menegaskan, fitnah belakangan tersebar Banser membubarkan pengajian tidak sesuai.

"Jawab itu. Bahwa Banser tidak menghendaki Indonesia sebagaimana Suriah. Karena itu, jika ada pengajian yang isinya ceramah menyebut pemerintah Indonesia kafir dan thogut, itu yang kita tolak," tegas Gus Yaqut.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Faktanya, pengajian yang dikabarkan dibubarkan Banser tidak seperti itu. Banser hanya menghendaki penceramah yang memasarkan ideologi lain selain Pancasila, diganti dengan penceramah yang cinta Indonesia.

Pengajian menuju kebaikan yang mengajak masyarakat mencintai tanah air yang diperjuangkan ulama, mustahil akan ditolak oleh Banser.

"Jika mereka bilang pengajian, tapi isinya menghujat, menghendaki ideologi bangsa diganti, itulah yang kita persoalkan. Sampaikan pada mereka, jika pengajian hanya untuk mengubah ideologi bangsa, maka Banser akan terus melawan demi menjaga NKRI," tandas Gus Yaqut. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Al-Barokah, Mushola Swadaya Habiskan 220 Juta

Brebes, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Warga RW 08 Kelurahan Limbangan Wetan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, membangun mushola mengandalkan kocek mereka sendiri. Sampai kini, pembangunan telah menelan dana Rp 220 juta.

Al-Barokah, Mushola Swadaya Habiskan 220 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Barokah, Mushola Swadaya Habiskan 220 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Barokah, Mushola Swadaya Habiskan 220 Juta

“Seluruh dana berasal dari swadaya masyarakat dan sumbangan lain yang sah dan tidak mengikat. “Insya Allah dalam waktu dekat, bisa selesai 100 persen karena tinggal finishing,” ujar bendahara pembangunan mushola, Asif Faozan.

Mushola tersebut dibangun di atas tanah wakaf PT Eka Muda seluas 144 meter persegi. Atas usulan warga RW 08, sejak Juli 2013, pembangunan telah dilaksanakan, dan kini telah mencapai 90 persen.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Meskipun belum selesai, kata Asif, mushola sudah digunakan untuk shalat Tarawih, shalat Ied.

Lebih jauh Asif berharap, momentum hijriyah ini, mudah-mudahan bisa menambah gairah (semangat) beruat kebaikan dengan penambahan amal ibadah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam pantauan NU Onlinr pada Selasa (4/11) warga bahu membahu melakukan pengecoran. Sementara ibu-ibunya menyiapkan jajanan dan makanan penghilang lelah. “Tahun baru, juga harus guyub membangun kebaikan,” imbuh sekretaris panitia Mas Toto.

Ketua Panitia pembangunan mushola, Djuhaeri menjelaskan, ini bukti masyarakat bisa diajak gotong royong, swadaya, untuk memenuhi kebutuhan rumah ibadah mereka sendiri. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Budaya, Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi