Kalau ditilik lebih dalam, bulan Ramadhan bisa dianalogikan sebagai pasar. Ramadhan menyediakan ramai bentuk anugerah dan keutamaan. Allah melipatgandakan segala rupa amal kebaikan sekecil apapun. Manusia harus memanfaatkan kesempatan sebulan yang singkat sebulan itu untuk meraih sebanyak mungkin anugerah dan kebaikan di dalamnya.
| Dari Pasar ke Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online) |
Dari Pasar ke Lebaran
Pertanyaannya kemudian, “Apa yang sudah kita dapat dalam keramaian Ramadhan kali ini? Kalau bulan Ramadhan ramai seperti pasar, berapa banyak yang kita dapat saat keramaian Ramadhan berakhir dengan lebaran?”Menjadi sebuah kekonyolan yang tidak perlu kalau seseorang hanya mendapat lapar dan tidur di keramaian pasar Ramadhan. Alangkah ruginya orang bertangan hampa saat pasar sudah ditutup. Sementara pada giliran yang sama, orang lain meninggalkan pasar dengan aneka bawaan yang mereka upayakan.
Pondok Pesantren An-Nur Slawi
Untuk sekadar bisa tidur dan lapar, seseorang bisa melakukannya di luar Ramadhan. Sebelas bulan waktu yang cukup untuk sekadar lapar dan tidur. Dengan kata lain, seseorang bisa tidur dan lapar dimana saja tanpa harus masuk pasar.Pondok Pesantren An-Nur Slawi
Karenanya, penting untuk seseorang mengadakan penilaian-penilaian. Penilaian ini akan menjadi sangat berguna untuk menyiasati keramaian bulan Ramadhan mendatang. Setidaknya, penilaian ini menjadi kunci agar ia tidak hanya mendapat tidur dan lapar belaka di tengah kemurahan Allah yang melimpah.Rumusannya cukup sederhana. Kebaikan yang sudah kita lakukan, dipertahankan. Sementara segala amal budi yang belum bisa dilakukan, mesti dicoba dan diupayakan. Dan perilaku yang belum baik, mesti diperbaiki ke depannya.
Rais Aam PBNU
KH MA Sahal Mahfuz
Dari Nu Online: nu.or.id
Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar