Minggu, 14 Mei 2017

Waspada, Perempuan Bisa Dimanfaatkan Kelompok Radikal

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Anggota DPR-RI Ida Fauziyah mengatakan, peran perempuan dalam menangkal radikalisme sangat penting.

Waspada, Perempuan Bisa Dimanfaatkan Kelompok Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Waspada, Perempuan Bisa Dimanfaatkan Kelompok Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Waspada, Perempuan Bisa Dimanfaatkan Kelompok Radikal

“Terorisme adalah kejahatan luar biasa yang menjadi musuh dunia. Jaringan terorisme mulai melibatkan perempuan sebagai pemeran aktif,” kata Ida pada Seminar Peran Perempuan Menuju Indonesia Bebas

Radikalisme di Konferensi Besar (Konbes) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Asrama Haji Yogyakarta, Sabtu (28/10) sore.

Ida menyebut beberapa perempuan terlibat sebagai pemeran aktif dalam aksi terorisme seperti Dian Yulia Novi, calon ‘pengantin’ bom bunuh diri;, Ika Puspitasari yang ditangkap di Purworejo; Umi Delima, istri Santoso pimpinan Mujahidin Indonesia Timur yang ditangkap Poso, Sulteng, 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kelompok radikal bisa memanfaatkan kelemahan dan kodrat perempuan untuk direkrut menjadi teroris," papar aktivis perempuan itu.

Menurutnya perempuan dijadikan sebagai kurir dan dimanfaatkan untuk merekrut anggota lain. 

“Hal itu dilakukan karena perempuan lebih bisa masuk kemana-mana, bahkan mampu mengelabui petugas,” tambahnya.

Terkait hal itu, IPPNU harus menjadi garda terdepan dalam melawan gerakan radikalisme. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“IPPNU harus menjadi teman untuk para remaja, khususnya pelajar perempuan, karena dengan menjadi teman para pelajar,” lanjut Ida.

IPPNU akan mudah dalam mewujudkan deradikalisasi di kalangan pelajar. Organisasi IPPNU sangat strategis dalam melakukan deradikalisasi. 

“Karena yang menjadi sasaran gerakan radikal adalah para remaja yang juga menjadi konsen kaderisasi IPPNU,” tegasnya.

Aktivis perempuan Rustini Murtadho menyampaikan IPPNU harus menguatkan strategi dalam penguatan ideologi ke-Nuan, karakter Aswaja an-Nahdliyah, trilogi ukhuwah.

“Pandai-pandai memilih organisasi di berbagai bidang, termasuk politik, serta fokus pada persiapan ideologi menuju, perguruan tinggi dan pesantren, dan terakhir perkuat perspektif perempuan,” harapnya.(Anty Husnawati/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Warta, Bahtsul Masail Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar